Mengamankan Laut Cina Selatan: dari Roket hingga Reaktor Nuklir

0
60
Struktur dan bangunan reklamasi Cina di Subi Reef pulau Spratly yang disengketakan dengan Filipina. Foto: AP

Nusantara.news – Bagi Cina, mempertahankan Laut Cina Selatan adalah harga mati. Berbagai cara  dilakukan, dari mulai menawarkan pemasangan roket dan radar untuk Malaysia hingga rencana membangun reaktor nuklir terapung di sekitar Laut Cina Selatan. Semua dilakukan untuk mengamankan jalur perdagangan laut strategis itu, yang masuk dalam kerangka ‘One Belt and Road Initiative’. Sebuah ambisi Cina, berjaya di pentas global.

Dalam beberapa hari ini media Malaysia ramai membahas tawaran peluncur roket dan radar dari Cina. Menurut sumber media di Malaysia, penawaran itu diutarakan delegasi Cina saat mengunjungi Kuala Lumpur pada Rabu (9/8) untuk menyaksikan peresmian proyek pembangunan rel kereta api (East Coast Rail Link) senilai USD 13 miliar yang didanai Cina.

Mengutip Reuters, Cina bakal menempatkan 12 unit sistem peluncur roket multipel AR3 (MLRS) melalui program pembelian khusus dengan periode peminjaman hingga 50 tahun. Lalu, apa maksud dari pemasangan fasilitas militer itu?

Konon, Cina geram dengan Singapura yang dalam beberapa bulan terakhir ini ikut campur masalah konflik Laut Cina Selatan. Untuk diketahui, Singapura memiliki hubungan militer yang cukup dekat dengan Amerika Serikat, rival Cina di panggung global, juga dekat dengan Taiwan, tetangga Cina yang hingga sekarang tidak diakui kedaulatannya oleh negara tirai bambu itu. Ini tentu saja membuat Cina cemas. Sebab dalam konteks penguasaan global, AS juga berkepentingan dengan Laut Cina Selatan. Sudah berulang kali situasi memanas antara militer AS dan Cina di wilayah ini.

Dilaporkan Straits Times, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan Konsuler Cina Wang Yong, sempat membicarakan mengenai fasilitas militer itu. Namun, keputusan final soal jadi tidaknya penempatan dua sarana pertahanan itu akan dibicarakan pada saat kunjungan Presiden Cina Xi Jinping ke Kuala Lumpur, dalam waktu dekat ini.

Sumber: Military-Today.com

Meski begitu, pejabat senior di Malaysia menutup-nutupi rencana tersebut. “Ini pertama kali saya mendengarnya,” kata Sekjen Kementerian Keuangan Malaysia Mohammad Irwan Serigar Abdullah, sebagaimana dikutip Reuters. Pihak Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan Cina juga dilaporkan enggan berkomentar terkait soal ini.

Sistem artileri AR3 sengaja diproduksi Cina untuk kebutuhan ekspor. Fasilitas itu pertama kali diuji coba pada tahun 2011 dan diklaim sebagai salah satu unit MLRS terbaik yang ada di dunia saat ini.

Mengamankan Laut Cina Selatan

Cina sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur di sejumlah negara untuk memuluskan ambisi ‘One Belt and Road’ dengan tujuan membangun jalur sutra baru. Kawasan Asia Tenggara menjadi bagian jalur sutra itu, baik di darat maupun laut. Di darat Cina sedang membangun jaringan rel kereta api dari Kunming di Yunnan hingga ke Singapura melalui Vietnam, Kamboja, Laos, hingga Malaysia. Di Indonesia Cina juga berinvestasi kereta cepat Jakarta-Bandung. Semua dalam kerangka One Belt and Road.

Tidak hanya infrastuktur transportasi, Cina juga harus membangun infrastruktur pertahanan dan keamanan untuk mendukung lancarnya proyek-proyek tersebut. Radar canggih dan fasilitas pelontar rudal yang ingin dipasang di Malaysia pasti untuk tujuan itu. Radar akan dimanfaatkan untuk memata-matai negara-negara di sekitar Malaysia, termasuk Indonesia. Ini semestinya diprotes oleh negara-negara sekitar, sebagaimana juga Cina tempo hari protes atas pemasangan sistem anti rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) dan radar canggih dari AS di Korea Selatan. Alasan Cina, karena tidak mau dimata-matai Amerika.

Kenapa di Malaysia? “Beijing memandang Malaysia sangat penting untuk mengendalikan stabilitas di kawasan ini (Asia Tenggara),” kata seorang diplomat regional kepada The Malaysian Insight.

Reaktor nuklir lepas pantai

Di laut, Cina juga  saat ini sedang menyiapkan pembangunan reaktor nuklir. Cina sudah menyiapkan investasi awal USD 150 juta.

Sebagaimana dilaporkan South China Morning Post (SCMP), Cina sudah mengumumkan rencana meningkatkan kemampuan nuklir maritimnya dengan membangun proyek baru, yang bisa menjadi batu loncatan bagi pengembangan reaktor nuklir terapung di Laut Cina Selatan dan sekitarnya.

Badan Tenaga Nuklir Nasional milik negara Cina menyatakan pada Kamis (10/8), pihaknya sudah mendirikan perusahaan baru dengan modal terdaftar USD 150 juta bersama dengan Zhejiang Zheneng Electric Power, Shanghai Guosheng Group, Jiangnan Shipyard dan Shanghai Electric.

Usaha patungan ini untuk memperkuat kemampuan tenaga nuklir Cina sejalan dengan ambisi untuk menjadi kekuatan maritim dunia. Program ini juga tentu dalam rangka mendukung “Belt and Road Initiative” Cina yang bertujuan meningkatkan hubungan perdagangan dan infrastruktur dengan negara-negara di Asia dan Afrika. Perusahaan baru ini juga akan mengembangkan kapal bertenaga nuklir.

Wang Yiren, wakil direktur Departemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri untuk Pertahanan Nasional, mengatakan awal tahun ini perluasan kemampuan energi nuklir Cina merupakan bagian penting dari rencana lima tahunan. Cina sedang memprioritaskan pengembangan platform tenaga nuklir terapung untuk mendukung kegiatan pengeboran minyak dan gas lepas pantai, serta mempertahankan eksistensi Cina di kepulauan Paracel dan Spratly. Untuk diketahui kedua gugusan kepulauan yang sudah direklamasi Cina itu masih merupakan wilayah sengketa dengan negara-negara sekitar.

China Securities Journal tahun lalu melaporkan, Cina dapat membangun hingga 20 pembangkit nuklir terapung di wilayah tersebut untuk mempercepat pembangunan komersial Laut Cina Selatan. Jika ini terwujud ini akan semakin memperkuat eksistensi Cina di wilayah maritim serta membuat semakin efektif proyek-proyek Cina yang dilakukan di lepas pantai.

Pembangkit listrik atau power plant terapung bertenaga nuklir, meski diperkirakan ukuran dan kapasitasnya lebih kecil ketimbang yang ada di dara, namun memiliki keunggulan karena bisa mobile atau bergerak ke mana pun di lautan, sehingga Cina bisa punya cadangan listrik di lepas pantai lebih banyak. Untuk tahap awal Cina punya prioritas membangun proyek tersebut untuk mengamankan Laut Cina Selatan. Jadi, sudah amat jelas, ambisi Cina menguasai dunia sudah mulai dijalankan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here