Menganggap Kim Jong-un Tidak Rasional? Tunggu Dulu …

0
221
Kim Jong-un, (Foto: Getty Images)

Nusantara.news – Presiden Korea Utara Kim Jong-un akhir-akhir ini kembali menjadi topik pembicaraan media internasional. Nama Jong-un disebut dalam sejumlah peristiwa yang menurut pandangan orang tak masuk di akal. Dari mulai pembunuhan kakak tirinya Kim Jong Nam, sanksi penembakan yang keji terhadap mantan pejabat kementerian pertahanan, dan terakhir uji coba rudal balistik serta program senjata nuklir yang dikecam banyak negara, termasuk oleh Amerika.

Perilaku presiden negeri komunis itu kemudian menjadi pertanyaan sejumlah kalangan, apakah dia melakukan semua itu menggunakan rasionalitas? Dan apakah Jong-un masih bisa dikatakan sebagai pribadi yang rasional?

Duta besar baru AS untuk PBB Nikki Haley menilai tidak, Jong-un tidak rasional. Haley mengatakan itu setelah peluncuran secara simultan empat rudal balistik Korut, “Dia bukan orang yang rasional.”

Tapi apakah pendapat Haley benar?

Kim Jong-un mungkin memiliki banyak kekurangan. Tanpa diragukan lagi, dia kejam, termasuk terhadap kerabatnya sendiri. Dia juga dinilai kejam, karena telah mendorong kebijakan ekonomi yang membuat rakyatnya hidup di bawah standar negara tetangganya Korea Selatan, lebih-lebih dibanding dengan Cina.

Kim Jong-un juga dinilai memiliki masalah pribadi, seperti senang makan banyak dan perokok berat. Tapi apa pun itu, apakah benar dia termasuk kategori tidak rasional?

Dalam kamus Oxford English Dictionary, irrasional diartikan sebagai “tidak logis atau tidak masuk akal, tidak diberkahi dengan kekuatan akal”

Namun sejumlah sarjana yang mempelajari Kim Jong-un berpendapat, dia sejauh ini berperilaku sangat rasional, bahkan dengan upayanya melakukan “pembersihan” dengan cara teror orang-orang di sekelilingnya.

Prof Andrei Lankov dari Universitas Kookmin Seoul berpendapat, “Dia sangat rasional, dengan cara yang terkadang berlebihan,” kata Lankov sebagaimana dilansir BBC (18/3).

Dalam pikiran Jong-un, lebih baik dia membunuh sembilan jenderal dan satu konspirator potensial ketimbang membiarkan konspirator itu untuk tetap hidup.

“Dia rasional,” katanya.

Prof John Delury dari Yonsei University di Seoul juga mengatakan bahwa tindakan dia membunuh saudara tirinya (meskipun tuduhan itu ditolak pihak Pyongyang) adalah tindakan rasional. “ Bukan tindakan yang bagus, tapi rasional,” katanya.

“Sebuah fakta  menyedihkan dalam sejarah adalah bahwa raja muda sering membunuh paman mereka dan saudara tua mereka. Mungkin ini kejam, tetapi buka ‘irasional’. Jika Anda membaca Shakespeare,” tambah Delury.

Dalam kasus“pembunuhan” Kim Jong-nam, yang diduga dilakukan agen rahasia rezim Jong-un, Prof Lankov mengatakan, hal itu mirip dengan Kekaisaran Ottoman, di mana selir Sultan memiliki anak yang tak terhitung jumlahnya, dan setiap dari mereka memiliki garis keturunan yang mungkin saja pada suatu hari bisa melegitimasi klaim tahta.

Prof Lankov menilai hal yang sama, bahwa Kim Jong-nam adalah ancaman, “Mungkin dia tidak berbahaya, tetapi Anda tidak pernah tahu dengan pasti, apakah dia di bawah kendali Cina.”

Prof Delury mengatakan bahwa tidak ada yang tidak rasional dari tindakan Kim Jong-un yang terus melakukan upaya memperoleh senjata nuklir yang kredibel. “Dia tidak memiliki sekutu yang dapat diandalkan untuk menjamin keamanan negaranya, dan dia menghadapi negara adidaya yang dalam catatan sejarah telah menginvasi negara-negara berdaulat di seluruh dunia dan ditumbangkan pemerintahan mereka,” jelasnya.

“Korea Utara belajar dari invasi AS ke Irak. Hal ini tidak akan terjadi jika ketika itu Saddam Hussein benar-benar memiliki senjata-senjata pemusnah massal. Dia mungkin selamat.”

Ditambah lagi pelajaran dari Libya, menurut Prof Lankov, “Apakah benar janji Amerika tentang kemakmuran yang diberikan kepada Gaddafi dan keluarganya. Kim Jong-un tahu betul apa yang terjadi,  hanya orang bodoh yang percaya janji-janji Barat, dan meninggalkan pengembangan senjata nuklir,” kata Lankov.

Dan Jong-un  tidak akan membuat kesalahan itu. “Setelah Anda tidak memiliki senjata nuklir apakah Anda akan benar-benar terlindungi?” tanya Lankov.

“Apakah janji Rusia atau Amerika dan Inggris untuk menjamin Ukraina dan memberi bantuan terhadap Ukraina terealisasi? Tidak. Kenapa dia harus mengharapkan janji Amerika, Rusia atau Cina untuk membantunya tetap hidup? Dia adalah orang yang rasional,” tegasnya.

Jika Jong-un melakukan tindakan-tindakannya secara rasonal, apa tujuan yang dia inginkan?

Prof Brian Myers dari Universitas Dongseo Busan, Korsel mengatakan bahwa Kim Jong-un ingin keamanan dalam negerinya dan bersatunya Korea sebagai satu-satunya cara menjaga rezimnya bisa bertahan dalam jangka panjang.

Kepemilikan senjata nuklir yang kredibel akan memberinya kemampuan untuk menekan AS dan menarik pasukannya dari semenanjung Korea.

“Korut membutuhkan kemampuan untuk menyerang AS dengan senjata nuklir untuk menekan agar kedua musuh (Korsel dan AS) menandatangani perjanjian damai. Ini adalah kesepakatan besar yang diinginkan (Jong-un),” kata Prof Myers. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here