Mengapa Cabai Cina Bisa Beredar di Pasar Jawa Timur?

0
226

Nusantara.news, Surabaya – Terkait masuk dan beredarnya cabe asal Cina dan India di sejumlah pasar tradisional di Jawa Timur, wakil rakyat di DPRD Jawa Timur selain mengaku prihatin dan geram, juga menduga ada permainan kartel cabai. Kartel ini berniat mengeruk keuntungan besar dengan cara  mempermainkan harga. Indikasinya, karena pemerintah tak kunjung bisa menstabilkan harga cabai. Ini terbukti dari harga cabai yang masih di kisaran Rp100 ribu per kilogram.

Menanggapi itu, anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Zainul Luthfi menenggarai melambungnya harga cabai di pasaran karena ada permainan kartel. Dugaan semakin kuat saat dilakukan kunjungan ke petani dan sejumlah pasar. Disebut, ketersedian cabai sangat mencukupi dan harganya tidak terlalu mahal. Namun, sebaliknya saat sampai di pasaran harga melambung tinggi hingga tembus di harga Rp150 ribu untuk setiap kilogram.

“Upaya praktek kartel agar kran impor dibuka biasanya menggunakan modus seperti saat ini. Modusnya sering terjadi di sejumlah bahan makanan, di antaranya beras, gula dan kedelai. Untuk itu Pemerintah Provinsi Jatim harus terus mengawal harga cabai mulai di tingkat petani hingga di pasaran,” ujar Zainul Luthfi.

Politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN) itu berharap pemerintah terus melakukan intervensi, yakni melalui ongkos angkut agar harga cabai di pasaran tidak sampai meroket dan terus naik. Wakil rakyat itu juga meminta kepada Gubernur Jawa Timur untuk bertindak tegas, yakni menolak bongkar muat terhadap komoditi ekspor hasil tanaman petani. Harapannya, agar petani cabai tidak terus dirugikan, termasuk masyarakat agar tidak menjadi korban kenaikan harga cabai.

Wakil rakyat lainnya, yang juga Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Ka’bil Mubarok menyebut, data di Dinas Pertanian Jawa Timur menyebutkan bahwa produk cabai kecil dan besar masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat di Jawa Timur. Namun karena kondisi cuaca yang membuka peluang bisnis cabai, sehingga banyak cabai yang dijual ke luar provinsi oleh para spekulan, akibatnya harga cabai di Jawa Timur tidak terkendalikan.

“Patut diduga meroketnya harga cabai di Jatim, akibat ulah spekulan. Karena itu kami mendesak KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha-red) segera turun ke lapangan dengan Disperindag juga kepolisian untuk menyelidiki ada tidaknya permainan harga cabai oleh jaringan spekulan yang membuat masyarakat menjerit,” urai politisi asal PKB ini.

Lanjut Ka’bil harga cabai di petani (atau istilahnya D1) tidak terlalu mahal, yakni di kisaran Rp60 sampai Rp70 ribu tiap kilogram. Namun, sampai di tengkulak harga naik menjadi kisaran Rp90 ribu per kilogram, itu karena mereka mengambil keuntungan antara Rp10 hingga Rp20 ribu setiap kilogram. Sampai ke pengepul harga berubah menjadi Rp110 ribu per kilogram. Kemudian masuk ke kios-kios di pasar dijual ke konsumen antara Rp130 ribu sampai Rp150 ribu perkilogram.

Soal perlu tidaknya mendatangkan cabai impor untuk menstabilkan harga di pasar wakil rakyat itu tegas menolak. Alasannya, karena produksi cabai di Jawa Timur masih mencukupi. Dengan catatan, tidak boleh ada cabai asal Jawa Timur yang dijual ke luar provinsi.  “Tidak perlu impor, karena petani cabai tidak merasakan kenaikan harga,” tambahnya.

Sementara, setelah melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur Jawa Timur, Kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Ardi Prasetiawan mengaku masih akan menyelidiki masuk dan beredarnya cabai asal Cina dan India.

Ia mengatakan impor cabai memang telah ada sejak lama untuk memenuhi kebutuhan industri dan  bukan untuk kebutuhan masyarakat. “Sebenarnya sudah lama ada (cabai asal Cina), tetapi tidak sebanyak ini,” ujar dia, saat dilakukan konferensi pers di ruang kerja Wakil Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan, Surabaya, Kamis (23/2/2017), kemarin.

Namun dirinya mengaku tidak mengetahui saat ditanya ada berapa importir di Jawa Timur, khususnya yang mendatangkan komoditas pertanian.

Untuk diwaspadai oleh masyarakat, cabai impor asal Cina dan India telah beredar di wilayah Jawa Timur. Dibanding cabai lokal yang harganya masih di atas Rp100 ribu per kilogram, harga cabai Cina dan India lebih murah, yakni antara Rp60 hingga Rp70 ribu setiap kilogram.

Namun, sampai saat ini, seperti yang diperintahkan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya, yang meneliti cabai dari luar negeri itu belum mengumumkan hasil uji laboratorium.

“Kita akan uji di lab, apakah ada kandungan berbahaya atau tidak, hasilnya akan segera kita umumkan,” ujar Kepala Seksi Penyidikan BBPOM Surabaya, Retno Kurpaningsih.

Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat menunggu kepastian aman atau tidaknya cabai asal manca negara itu untuk dikonsumsi. Masyarakat, khususnya ibu-ibu pasti memilih harga yang lebih murah. Kemudian, jika tidak diketahui siapa yang mendatangkan atau importir yang membawa cabai asal Cina ke Jawa Timur, jelas terdengar lucu.

Untuk diketahui, sumber di Chinnes Academy of Agricultural Sciences (CAAS) di Cina pada tahun 2017 ini mengalami kenaikan hasil panen cabai, yakni sampai 3 persen atau sebanyak 1,6 juta hektar. Tentu, jika itu dikonsumsi sendiri oleh warganya (di Cina) tidak akan habis dalam satu tahun.

Di Provinsi Chongging didapati ada sebanyak 2.000 ton cabai yang masih tersimpan. Itu disebutkan oleh Li Shun, seseorang yang pernah bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan perdagangan, di provinsi tersebut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here