Mengapa IHSG Terpelanting, Rupiah Makin Tak Bergairah?

0
768
ISHG hari ini terkoreksi tajam memasuki zona baru dengan kecenderungan terus melemah.

Nusantara.news, Jakarta – Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini ditutup melemah 2,55% atau 153,51 poin ke level 5.858,73. Sementara Rupiah diperdagangkan terus mendekati level psikologis Rp14.000 per dolar AS. Adakah kebijakan pemerintah yang bisa me-laverage rupiah dan IHSG?

Sepanjang perdagangan hari ini, pergerakan indeks terus melemah dan bertahan di zona merah. Pelemahan IHSG hari ini cukup dramatis karena indeks meningggalkan level terhormatnya di 6.000 dan sempat menyentuh ke level terendah di 5.858. IHSG hari ini benar-benar terpelanting ke level terendah sejak dua tahun terakhir.

Penurunan IHSG ini benar-benar menggelisahkan pasar, karena para investor asing dikabarkan melepas portfolio sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mengkonversinya dengan porftolio yang lebih menarik di Amerika dan sekitarnya.

Gerakan ini menyebabkan indeks yang sempat bertengger di level tertinggi mendekati 6.700. Kini IHSG harus terhempas di kisaran 5.858 dengan kecenderungan terus melemah lantaran belum ada berita atau kebijakan positif yang mendukung gairah pasar.

Pada saat pembukaan pasar, IHSG melemah 0,37% atau 22,08 poin di level 5.990,16. Pelemahan terus terjadi hingga mengakhiri sesi I perdagangan hari ini, IHSG anjlok 2,33% atau 139,87 poin ke level 5.872,37.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.867,79–5.996,49. Sebanyak 51 saham menguat, 324 saham melemah, dan 202 saham stagnan dari 577 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Seluruh indeks sektoral IHSG menetap di zona merah dengan tekanan utama sektor tambang (-3,73%), konsumer (-2,70%), properti (-2,48%), dan finansial (-2,42%).

Penyebab melemahnya IHSG karena kinerja industri perbankan yang listing di pasar modal menunjukkan pelemahan. Bahkan pelepasan saham perbankan telah menjadi beban buat IHSG secara keseluruhan.

IHSG hari ini resmi meninggalkan level terhormatnya di bawah 6000 ke level 5858.

Rupiah masih lesu

Sementara perdagangan rupiah hari ini menunjukkan adanya rally-rally yang kuat dengan kecenderungan melemah. Nilai tukar rupiah akhirnya hari ini melemah 27 poin atau 0,19% ke Rp13.975 per dolar AS, terpaut 25 poin menuju level psikologis Rp14.000.

Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Kamis (3/5) di Rp13.965 per dolar AS, terdepresiasi 29 poin atau 0,20% dari posisi Rp13.936 pada Rabu (2/5). Kurs jual ditetapkan Rp14.035 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp13.895 per dolar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp140.

Di pasar spot, nilai tukar rupiah terpantau melemah 0,14% atau 20 poin ke level Rp13.968 per dolar AS pada pukul 10.32 WIB.

Sebelumnya Rupiah diprediksikan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah hari ini masih terkait rencana Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR).

Diproyeksikan bahwa pada bulan ini, The Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 1,75%. Hal ini mengingat bahwa tingkat inflasi di negeri paman Sam tersebut tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Meskipun demikian, adapun statement yang dilontarkan The Fed diperkirakan akan lebih cenderung hawkish bagi dolar AS.

Selain itu, katanya, mengingat pada bulan Juni nanti, dipastikan bahwa The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Hal inilah yang berpotensi memberikan tekanan pada rupiah mengingat statement tersebut akan memberikan bullish effect bagi dolar AS.

Dampak lanjutan

Jika merunut sejarah melemahnya rupiah dan IHSG, sepertinya memiliki urut-urutan yang logis. Pertama diawali dengan melemahnya rupiah karena kondisi fundamental ekonomi yang rapuh, tumpukan utang, defisit transaksi berjalan, shortfall pajak, hingga kenaikan BBM menjadi pemicu melemahnya rupiah.

Semua indikator itu semakin parah jika dikontraskan dengan kebijakan moneter The Fed yang akan menaikkan suku bunga. Maka tidak ada alasan bagi rupiah untuk stabil, apalagi menguat.

Nilai tukar rupiah terancam semakin melemah dengan kebijakan moneter luar negeri Amerika Serikat yang ingin menaikkan suku bunga acuan. Jika rupiah terus melemah tentunya dampaknya jelek buat makro ekonomi indonesia. Berikut beberapa dampak lanjutan pelemahan rupiah terhadap ekonomi indonesia.

Pertama, jika dolar mahal dampaknya biaya produksi akan naik, dan pada akhirnya harga barang akan lebih mahal. Sementara konsumsi domestiknya masih stagnan akan mempengaruhi profit pengusaha.

Kedua, pelemahan rupiah bisa menjadi beban terhadap pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah dan korporasi semakin membesar. Risiko gagal bayar utang swasta akan naik.

Ketiga, Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS. Jika dolar AS menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan baik yang subsidi maupun non subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jebis diprediksi akan terus dilakukan.

Keempat, aliran modal asing yang keluar (capital flight) dapat semakin tinggi. Saat ini, mencapai Rp27,5 triliun dana asing yang keluar dari pasar modal (year to date–ytd) sejak april 2018.

Kelima, daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor, menjadi melemah. Lantaran, beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal.

Itu sebabnya pemerintah cq Kementerian Keuangan, BI, OJK, perlu mengatur langgam kebijakan fiskal, moneter dan perbankan yang searah, seiring sejalan, dalam satu koordinasi yang kuat. Makin melemahnya rupiah dan IHSG menunjukkan bahwa kebijakan otoritas fiskal, otoritas moneter dan otoritas perbankan masih belum sinkron.

Saatnya menata kembali kebijakan yang lebih memperkuat rupiah dan IHSG.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here