Mengapa IMF Memangkas Pertumbuhan Ekonomi Global?

0
157
Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menyampaikan kajiannya soal pemangkasan pertumbuhan ekonomi global dari 3,5% menjadi 3,3%. Apa implikasinya buat Indonesia?

Nusantara.news, Jakarta – Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund–IMF) memangkas lagi proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2019. IMF sengaja memangkas proyeksi karena meningkatkan ketegangan perdagangan dan kebijakan moneter yang kian ketat oleh Federal Reserve.

IMF memperkirakan ekonomi dunia tumbuh 3,3% tahun ini atau turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5%. Tapi IMF berharap realisasi pertumbuhan ekonomi berada di level 3,6% di 2020.

Ekonomi global melambat lebih dari yang diperkirakan. Penurunan tajam bisa saja mengharuskan para pemimpin dunia untuk mengoordinasikan langkah-langkah stimulus. IMF mengatakan hal itu pada hari Selasa sembari memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini.

Laporan Ekonomi Dunia semi-tahunan IMF menunjuk pada perang dagang AS-China dan kemungkinan Inggris keluar dari Uni Eropa sebagai risiko utama. Lembaga kreditur pinjaman global ini memperingatkan dunia bahwa kemungkinan pemangkasan lebih lanjut terhadap prospek yang sudah menurun itu pun masih tinggi.

Beberapa negara ekonomi utama, termasuk China dan Jerman, mungkin perlu mengambil tindakan jangka pendek, kata IMF.

"Ini adalah saat yang sulit bagi ekonomi global," kata kepala ekonom IMF Gita Gopinath dalam konferensi pers untuk membahas laporan tersebut kemarin.

Pemerintah mungkin perlu merogoh kocek mereka lebih dalam pada saat yang sama jika perlambatan menjadi lebih serius, kata Gopinath. Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter yang longgar juga mungkin diperlukan.

Peringatan IMF itu terdengar menakutkan bagi para pejabat global yang berkumpul di Washington minggu ini dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia. Dunia pernah terlibat dalam stimulus fiskal terkoordinasi untuk melawan krisis keuangan pada 2008.

Lebih dari dua pertiga penurunan yang diperkirakan terjadi pada 2019 berasal dari masalah di negara-negara kaya, termasuk anggota Uni Eropa (UE). "Dalam konteks ini, menghindari salah langkah kebijakan yang dapat merusak aktivitas ekonomi harus menjadi prioritas utama," kata IMF dalam laporannya.

Salah satu potensi kesalahan langkah terletak pada keragu-raguan Inggris tentang cara meninggalkan UE. Meskipun tenggat waktu membayang, London belum memutuskan bagaimana ia akan mencoba untuk melindungi ekonominya selama proses keluar. Hal yang menjadi sorotan juga Brexit yang masih belum menemui kesepakatan.

Pada bagian lain, kongres perjanjian Amerika Serikat (AS)-Meksiko-Kanada (USMCA). Perjanjian perdagangan tersebut ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan perwakilan dari Meksiko serta Kanada yang menggantikan perjanjian perdagangan North Atlantic Free Trade Agreement (NAFTA).

Kecenderungannya bergerak ke bawah. Terjadi karena kegagalan menyelesaikan persoalan tarif membuat biaya yang lebih tinggi dari barang setengah jadi dan impor," demikian laporan IMF.

USMCA sendiri ditandatangani pada 30 November 2018 namun belum juga mendapatkan persetujuan dari kongres. Kesepakatan tersebut harus melalui parlemen yang dikuasai Demokrat dan dikritik oleh Senator Republik Chuck Grassley. 

Dia menginginkan tarif barang-barang Meksiko dan Kanada harus diturunkan usai kesepakatan. Namun, Trump belum memberikan sinyal positif.

Selain itu, AS juga sedang berusaha mencapai kesepakatan dengan China, mitra dagang terbesarnya. China menyumbang 16% dari perdagangan global AS, tapi kesepakatan untuk damai masih belum tampak..

Risiko lain terhadap pertumbuhan ekonomi global adalah arah kebijakan bank sentral AS. The Fed mengubur semua ekspektasi karena diperkirakan hanya menaikkan bunga acuannya satu kali tahun ini.

Bagaimana dampak penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tersebut terhadap Indonesia?

Tentu saja hal ini menimbulkan ketidakpastian potensial dalam ketegangan perdagangan global yang sedang berlangsung, serta faktor-faktor spesifik negara dan sektor lainnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bima Yudhistira menyatakan bahwa penurunan proyeksi IMF sebesar 3,3% tersebut berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Tak terkecuali kepada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, rupiah hari ini diperdagangkan melemah 0,21% ke level Rp 14.163  terhadap dolar AS.

Bima mengatakan, dengan adanya penurunan ini maka gejala perlambatan ekonomi akan berlanjut sepanjang tahun. Dia pun memperkirakan. ekonomi Indonesia diproyeksi hanya tumbuh 5% tahun 2019 dan bisa terkoreksi ke 4,9%.

Dengan kata lain, perlambatan ini juga akan berdampak pada penurunan proyeksi ekspor Indonesia, dan hasilnya neraca perdagangan masih mencatatkan defisit. Para pelaku usaha pun dikhawatirkan akan melakukan efisiensi dibeberapa bidang, baik biaya produksi hingga jumlah tenaga kerja.

Sektor yang paling terpukul adalah harga komoditas seperti sawit dan karet makin rendah. Pertambangan prospeknya juga negatif khususnya batubara. Dari dalam negeri, dipastikan efek slowdown mulai terasa ke sektor manufaktur.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro sendiri mengungkapkan penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnasi di level 5%. Menurutnya ada sumber-sumber pertumbuhan potensial yang belum mampu dimanfaatkan dengan optimal.

"Banyak yang mempertanyakan kenapa pertumbuhan ekonomi kita bergerak di seputaran 5% sampai 5,1%, karena ternyata hitungan kami pertumbuhan potensial belum bisa melewati 5,3% untuk periode 2017-2019," katanya hari ini.

Pertumbuhan potensial itu belum tumbuh seperti yang diharapkan lantaran Indonesia masih terlalu bergantung pada sumber daya alam (SDA) sebagai pendorong pertumbuhan. Terutama mengandalkan hasil tambang dan perkebunan. Sementara untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang perlu dioptimalkan adalah investasi.

Sebagai contoh saja DKI Jakarta yang pertumbuhannya lebih banyak ditopang investasi sehingga mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan nasional.

"Karenanya kenapa DKI bisa tumbuh di atas 6%, beda sama nasional karena DKI tak bergantung sumber daya alam, tapi pada investasi, tak terlalu bergantung pada konsumsi," ujarnya.

Selain itu Indonesia belum mampu menciptakan produk industri bernilai tambah tinggi. Padahal ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. Sektor pendorongnya harus yang ciptakan nilai tambah apakah industri pengolahan dan jasa.

Melihat ancaman melemahnya pertumbuhan global yang akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi nasional, maka diperlukan ide-ide cemerlang untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here