Mengapa Investasi China Dalam Skema OBOR Mandeg?

1
516
Mengapa proyek investasi China ke Indonesia dalam skema OBOR mandeg? Spekulasi berkembang adanya tarik menarik kepentingan antara China--Amerika.

Nusantara.news, Jakarta – Pada awalnya semangat program Tol Laut Presiden Jokowi seperti bersinergi dengan program One Belt One Road (OBOR) dari Presiden Xi Jinping. Pada awalnya China semangat akan menginvestasikan dananya hingga US$50 miliar untuk Indonesia. Mengapa eksekusinya baru US$9 miliar?

Tentu saja banyak pertanyaan yang mengemuka, terutama pada saat yang sama dari 245 proyek strategis nasional (PSN), baru empat proyek yang benar-benar rampung hingga akhir 2017. Artinya, ada hambatan yang serius China yang berambisi menanamkan investasinya dalam jumlah besar di saut sisi, di sisi lain Indonesia yang membutuhkan dana investasi yang sangat besar.

Mengapa komunikasi Jokowi-Xi Jinping tak lancar? Adakah syarat-syarat yang ketat diajukan China? Atau justru para menteri yang menghambat karena dianggap tak sejalan dengan China? Atau adakah hambatan teknis untuk merealisasikannya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas terus terang sangat mengganggu, baik buat Indonesia maupun China yang sama-sama saling membutuhkan. Tapi begitulah Indonesia, potensi investasi yang begitu besar lewat begitu saja tanpa penjelasan  yang transparan.

Ambisi Jalur Sutra Baru

Ambisi China menguasai ekonomi dunia lewat program Jalur Sutra Baru atau lebih dikenal OBOR memang sedang menjadi topik pembicaraan hangat di dunia. Keseriusam China ditunjukkan dengan mengumpulkan 29 kepala negara dalam forum pertemuan The Belt and Road Forum for International Cooperation (BRF), 14 hingga 15 Mei 2017 di Beijing, China.

Termasuk Presiden Jokowi ikut hadir dalam perhelatan itu. Beberapa sekutu dan mitra China yang menghadiri forum tersebut di antaranya Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, dan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev. Ada juga beberapa pemimpin negara Eropa yang hadir, termasuk Perdana Menteri Spanyol, Italia, Yunani, dan Hungaria..

Dalam forum yang digelar di Yangqi Lake International Conference Center (ICC), Presiden Xi Jinping, menjanjikan down payent investasi sebilai US$124 miliar atau sekitar Rp1.674 triliun (kurs Rp13.500 per US$) untuk mendukung tersebut. China sendiri menyiapkan investasi OBOR hingga US$1 triliun. Investasi tersebut siap digelontorkan mendukung Jalur Sutra Baru, mulai dari membangun infrastruktur, pertanian, hingga konektivitas dengan negara-negara di sepanjang Jalur Sutra.

Mengapa China lakukan itu? Ya, dengan penduduk hampir 1,4 miliar, China membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 10% agar survive. Nyatanya hari ini pertumbuhan penduduk China hanya 6,8%, artinya ada masalah besar antara jumlah penduduk China dengan kinerja pertumbuhan ekonominya.

Jika situasi ini dibiarkan, maka akan terjadi perebutan makanan, minuman, pakaian, perumahan, jabatan, bisnis, hingga semua segmen kehidupan manusia, bahkan bisa terancam perang saudara. Itu sebabnya China perlu mengekspor manusianya, produk dan investasinya agar mengurangi tekanan over-population.

Dengan mengekspor investasi infrastruktur, industri, pabrik, bahkan pertanian ke negara lain, maka tekanan perang saudara di China bisa dikurangi, atau bahkan dihindari. Disamping juga proyek OBOR dimaksudkan tak hanya untuk menghindari perang saudara, tapi lebih dari itu akan membuat China unggul dengan negara lain.

Itu sebabnya, program Jalur Sutra Baru adalah pertarungan hidup mati China. Kalau berhasil, maka akan membuat China leading, tapi jika gagal, maka petaka perang saudara itupun tak bisa dihindari.

Proyek Jalur Sutra Baru, sesuai keinginan China, bakal menghidupkan kembali jalur perdagangan di masa kuno yang menghubungkan Asia (China) hingga Eropa (Romawi). Dengan jalur darat yang membentang dari China Daratan melewati Asia Tengah, dan berakhir di beberapa titik di Benua Eropa dan Afrika.

“Kita harus membangun pola kerja sama dan menjunjung tinggi upaya untuk meningkatkan ekonomi dunia,” kata Xi Jinping seperi dikutip dari Reuters, beberapa waktu lalu.

Sementara jalur laut, China akan menghidupkan kembali perdagangan di laut seperti di masa dinasti-dinasti China melewati Asia Tenggara. China sendiri menjanjikan keuntungan dengan dibukanya jalur sutra baru, dengan menghubungkan kawasan industri di sepanjang jalur perdagangan baru itu.

Realisasinya China sukses merealisasikan jalur kereta dari Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, ke London, Inggris, dengan jaraknya 12.000 kilometer. Perjalanan kereta ini sekaligus upaya China menghidupkan perdagangan dengan Eropa Barat dengan jalur sutra yang lebih modern.

London merupakan kota ke-15 yang terhubung dengan jaringan kereta api barang yang dioperasikan oleh China Railway Corporation, yang diklaim lebih murah daripada angkutan barang menggunakan udara dan kapal.

Angkutan kereta api memakan waktu 30 hari lebih cepat dibandingkan kapal. Namun, kereta yang dinamakan East Wind ini hanya mampu mengangkut 88 peti kemas, atau lebih sedikit dibandingkan kapal yang mampu membawa sekitar 10.000-20.000 peti kemas.

Keistimewaan Indonesia

Dalam  program OBOR sebenarnya Indonesia termasuk yang diprioritaskan China, alasannya Xi Jinping sederhana. Pertama, karena Indonesia didukung beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki negara lain yakni negara dengan kepulauan terbesar di dunia.

Selain itu, kedua, lalu lintas antar-pulau memang sudah terjangkau, namun masih sangat terbatas. Sehingga investasi dalam kerangka OBOR memang sangat diperlukan.

Ketiga, dengan banyaknya pulau di Indonesia, negeri ini membutuhkan lebih banyak pelabuhan laut, baik untuk pelabuhan penumpang maupun pelabuhan barang. Ini sangat relevan baik dalam kerangka OBOR Xi Jinping maupun Tol Laut Jokowi.

Keempat, lalu lintas udara yang lebih intesif juga diperlukan dalam menghubungkan jalur udara lintas pulau. Artinya Indonesia juga membutuhkan lebih banyak bandara udara, China lewat mekanisme OBOR-nya juga bisa masuk ke Indonesia.

Kelima, Indonesia dimasa lalu adalah lumbung pertanian dimana produksi beras menjadi ciri khasnya. Namun belakangan, produktivitas beras itu tak kunjung mengangkat Indonesia sampai swasembada pangan. Karena itu misi China untuk tanam padi di Indonesia adalah tepat.

OBOR Untuk Indonesia?

Jika pertanyannya, bagaimana progress program OBOR yang sudah dieksekusi Pemerintah Indonesia?

Sebenarnya pada Maret 2015, antara Xi Jinping dan Jokowi sudah menandatangani tujuh nota kesepahaman (memorandum of understanding—MoU) terkait investasi dalam kerangka OBOR. Adapun total komitmen investasi China di Indonesia mencapai US$50 miliar sejak Maret 2015–Desember 2017.

Menurut rencana dari komitmen investasi OBOR senilai US$50 miliar tersebut, sebanyak US$20 miliar lewat Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) dan dari China Development Bank (CDB) senilai US$30 miliar.

Ketujuh MoU tersebut adalah, pertama, MoU kerja sama ekonomi antara Menko Perekonomian RI dengan Komisi Nasional Pembangunan dan Reformasi RRC. Kedua, MoU kerja sama pembangunan industri dan infrastruktur antara Komisi Nasional Pembangunan dan Reformasi RRC dengan Menteri BUMN.

Ketiga, MoU antara Menteri BUMN dengan Komisi Nasional Pembangunan dan Reformasi RRC untuk proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Keempat, MoU antara Badan SAR Nasional (Basarnas RI) dengan Menteri transportasi RRC.

Kelima, perjanjian kerja sama antara Pemerintah RI dan RRC untuk pencegahan pajak berganda. Keenam, MoU antara Lembaga Pengembangan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan Badan Antariksa Nasional RRC. Ketujuh, MoU Kerja sama antara BUMN dengan CDB China.

Dari tujuh MoU tersebut, hanya dua MoU saja yang terealisasi, yakni MoU ketiga untuk pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung senilai US$5 miliar. Selain itu MoU keempat dengan CDB China senilai US$4 miliar untuk BUMN.

Mengapa eksekusi program investasi dalam kerangka OBOR sebesar US$50 miliar sampai Desember 2017 baru terealisasi US$9 miliar? Inilah pertanyaan strategis yang menarik untuk di dalami. Alasan resmi pihak China menyebutkan kondisi obyektif di Indonesia hambatan terbesar karena faktor regulasi. Bahkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung baru terealisasi belum 100% lantaran masih terhambat pembebasan tanah, karena itu belum berjalan.

Bandingkan dengan negara-negara sahabat China lain yang telah mengeksekusi investasi dalam kerangka OBOR. Seperti Nepal US$13 miliar, Pakistan US$88 miliar, Kazakstan US$47 miliar, Myanmar US$21 miliar, Laos US$19 miliar, Malaysia US$42 miliar, dan Thailand US$37 miliar.

Konon konvektivitas dalam kerangka OBOR telah terealisasi berupa jalan bebas hambatan dari Guangzhou—Hanoi—Bangkok—Kuala Lumpur—Colombo—Vietnam. Sementara dari Kuala Lumpur seharusnya langsung ke Jakarta, oleh karena masih banyak hambatan, terjadi konventivitas tersebut.

Selain karena faktor regulasi, seperti dikritik oleh mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, karena faktor Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan kawan-kawan yang sengaja menghambat masuknya investasi China. Menkeu lebih merekomendasikan pembangunan infrastruktur nantinya bisa meminjam dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund—IMF) dan Bank Dunia.

Itu sebabnya program OBOR atau Jalur Sutra Baru dengan Tol Laut hingga kini baru bisa terealisasi US$9 miliar. Padahal, menurut sumber komunikator dari China, jika Pemerintah Jokowi bisa merealisasi US$50 miliar komitmen investasi, China masih berani menggelontorkan US$50 miliar lagi khusus untuk tahun 2018.

Namun demikian, kabarnya China masih membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat melanjutkan komitmen investasi US$50 miliar. Berbeda dengan IMF yang dalam Letter of Intent (LoI)-nya memasukkan unsur politk dan melemahkan ekonomi Indonesia, MoU OBOR murni berisi kerjasama investasi.

Akankah Presiden Jokowi melanjutkan peluang investasi OBOR dari China? Atau mengikuti skenario Menkeu Sri Mulyani dengan meminjam IMF dan Bank Dunia?[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here