Mengapa Masjidil Haram Diteror Jelang Idul Fitri?

0
513

Nusantara.news, Jakarta  –  Masjidil Haram, masjid paling suci di seantero bumi, hampir saja menjadi korban aksi teror. Untung saja, aparat keamanan Arab Saudi berhasil menggagalkan dan menangkap lima orang, termasuk seorang perempuan, yang diduga akan melakukan aksi bom bunuh diri di masjid yang di dalamnya terletak Ka’bah itu. Kelima orang itu ditangkap hari ini (24/6/2017)

Menurut Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, Mansour al-Turki, pasukan keamanan mengepung rumah tempat pelaku bersembunyi. Saat penyergapan, tersangka menolak untuk menyerahkan diri dan melepaskan tembakan ke pasukan keamanan dan melempar sejumlah bahan peledak. Akibatnya, bangunan tersebut  runtuh dan melukai jemaah umrah yang tinggal di sana.

“Ledakan meruntuhkan bangunan tempat mereka bersembunyi, dan melukai enam jemaah umrah,” ujar Turki. Selain keenam korban itu, lima orang anggota pasukan keamanan ikut terluka akibat tembakan.

Bangunan yang ditempati teroris runtuh akibat tembak-menembak dengan aparat keamanan Arab Saudi di Makkah.

Masjidil Haram, masjid yang diharamkan pertumpahan darah di dalamnya, memang sudah seringkali diancam serangan teror. Awal November 2003 silam, aparat kepolisian Arab Saudi menembak mati tiga anggota jaringan teroris dalam sebuah penggerebekan di Mekkah yang akan melakukan serangan terhadap Kota Suci Umat Islam itu.

Tahun 1979, Masjidil Haram bahkan pernah diduduki oleh sekelompok orang bersenjata yang menyebut nama kelompoknya “Ikhwan”. Ini adalah sebuah kelompok aliran sesar yang menyatakan pemimpin mereka, Mohammed Abdullah al-Qahtani, sebagai seorang Mahdi.  Pendudukan Masjidil Haram pada 20 November hingga 4 Desember 1979 itu dipimpin Juhaiman bin Muhammad ibn Saif al Otaibi ini,  menyandera para jamaah. Namun ini bukan terorisme sebagaimana yang dipahami sekarang.

Bom meledak di Timur Tengah adalah bukan hal asing. Tindak kekerasan yang tiada henti di kawasan itu seolah membuat publik dunia terbiasa dengan bau mesiu dan darah di sana. Di sana praktis tidak ada negara yang aman dari tindak kekerasan seperti ini. Dan Arab Saudi yang sebenarnya termasuk negara yang paling aman untuk ukuran pergolakan Timur Tengah, tidak asing lagi dengan kekerasan terorisme. Namun, aksi teror di Arab Saudi biasanya menyasar kota-kota selain Makkah dan Madidah.

Ketika Al Qaidah, pimpinan Osama bin Laden, miliuner Arab Saudi, masih eksis, Riyadh adalah kota paling sering jadi sasaran terjangan teror. Tahun September 2003, misalnya, kelompok orang bersenjata menyerang komplek perumahan pekerja asing di kilang minyak Al Khobar, Riyadh. Menurut keterangan resmi, 22 orang tewas, dan 25 orang luka-luka dalam aksi itu. Sebelumnya, Mei 2003, Riyadh diguncang bom bunuh diri. Waktu itu, 30 orang tewas. Lalu, 9 November tahun yang sama,  bom lagi di Riyadh.

Pada November 2004, baru terendus rencana aksi teror di Makkah. Aparat kepolisian Arab Saudi menembak mati tiga anggota jaringan teroris dalam penggerebekan di Kota Suci itu.

Ingin meledakkan bom di Makkah! Itu adalah hal yang sangat luar biasa. Makkah bagi orang Islam mempunyai makna histroris dan spiritual yang luar biasa. Di Makkah ayat pertama Al Qur’an diturunkan, di sana Nabi Muhammad dilahirkan, ke sana orang Islam memusatkan arah shalatnya, ke sana pula jutaan orang Islam dari seluruh dunia datang berhaji setiap tahun.

Umat Islam dari berbagai aliran, dari yang paling keras sampai yang paling moderat, dari yang paling tradisional sampai yang sangat modern, mempunyai perasaan spiritual yang sama terhadap Makkah. Tidak pernah ada perdebatan tentang posisi Makkah seperti itu.

Satu-satunya complain terhadap keberadaan kota ini adalah dari aspek sosial ekonomis. Arab Saudi memang menikmati perolehan devisa yang luar biasa besarnya setiap tahun dari kunjungan umat Islam ke Makkah. Sebab itu, ada yang mengusulkan internasionalisasi Makkah, seperti dulu disuarakan Moammar Khaddafi dan Ayatullah Khomeini.

Dengan posisi Mekkah seperti itu, maka sangat mengejutkan jika ada teroris ingin melakukan aksi biadabnya di kota tersebut. Apalagi teroris yang mengatasnamakan agama Islam, seperti yang dulu dilakukan  Al Qaidah.

Menjadi mustahil jika ada kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam merencanakan teror itu untuk sebuah perjuangan yang dikatakannya kepentingan Islam. Karena tidak mungkin kepentingan Islam diemban dengan meledakkan kota yang jadi tempat turunnya agama itu sendiri. Maka simplifikasi Barat yang menyebut terorisme dan Islam dalam satu tarikan nafas sudah terbukti keliru.

Terorisme jelas terpisah dari agama apa pun. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Terhadap musuh pun agama menganjurkan perdamaian. Setiap agama memang mempunyai kelompok radikal, tetapi lebih dalam arti pemikiran ketimbang perbuatan. Radikal dalam perbuatan lebih cenderung dalam konteks ideologi sosial politis.

Terorisme bahkan sudah menjadi “ideologi” sendiri. Terorisme diyakini sebagai cara ekfektif dalam  menyampaikan pesan kepada pihak lain, yang dengan demikian langkah pertama perdamaian sudah dilakukan.

Mestinya ini menjadi perhatian dunia Barat bahwa terorisme tidak identik dengan agama. Terorisme adalah perbuatan extra-ordinary crime yang memusuhi siapa pun, tanpa mengenal batas negara, ideologi atau agama.

Dan ini merupakan jawaban mengapa Makkah menjadi incaran terorisme.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here