Mengapa Standard Chartered Ingin Hengkang dari Bank Permata?

0
790
Ada misteri apa tiba-tiba Standard Chartered Bank berencana melepas kepemilikan sahamnya di Bank Permata? Padahal pada 1998 bank asal Inggris itu getol ingin menguasai Bank Bali.

Nusantara.news, Jakarta – Standard Chartered (StanChart)—bank global berbasis di London—berencana akan melepas 44,56% sahamnya di PT Bank Permata Tbk. Dikabarkan PT Bank Mandiri Tbk berminat mengambil alih, sementara Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG) dikabarkan juga berminat mengakuisisi saham eks PT Bank Bali Tbk tersebut.

Pertanyaan besarnya, apa yang melatarbelakangi sehingga StanChart ingin melepas saham di bank yang diburunya pada 1998 itu? Lantas apakah pelepasan saham ini akan berjalan mulus?

Kisah perburuan StanChart terhadap Bank Bali pada 1998 menyisakan drama yang asik untuk diikuti. Bagaimana bank asal Inggris itu begitu bernafsu memiliki Bank Bali, namun sekarang setelah menguasai sebagai pemegang saham pengendali (ultimate shareholder) justru ingin melepas saham Bank Permata.

Itu sebabnya keinginan StanChart melepas saham bank hasil merger dari Bank Bali, Bank Universal, Bank Artamedia, Bank Patriot, dan Bank Prima Ekspress pada 2002 itu mengundang tanda tanya besar, ada apa sebenarnya?

Kalau memang pelepasan saham itu terealisasi saat ini, StanChart berpotensi mengantongi nilai mencapai hampir US$1 miliar atau setara Rp14 triliun (dengan asumsi Rp14.000 per dolar AS).



Sejak isu rencana pelepasan saham StanChart awal Februari 2019, saham Bank Permata sempat melonjak 79% ke posisi Rp1.200 per lembar saham. Namun beberapa hari belakangan ini turun lagi ke posisi Rp940 per lembar saham.

Manajemen StanChart mengungkapkan bahwa rencana pelepasan saham itu dilatarbelakangi beberapa motif. Pertama, merupakan upaya korporasi bank itu melakukan reklasifikasi atas kepemilikan saham perusahaan, dan mengurangi aset tertimbang menurut risiko sebesar US$9 miliar.

Apalagi, dalam waktu bersamaan StanChart juga merilis rencana strategis tiga tahun yang mematok target level return on equity (ROE) atau tingkat pengembalian laba atas ekuitas mencapai di atas 10%, dari level saat ini sekitar 5%.

Kedua, bank asal Inggris itu juga berkomitmen akan merestrukturisasi operasi grup di empat pasar berkinerja rendah yakni Korea, Indonesia, Uni Emirat Arab, dan India, kendati menegaskan tidak keluar sepenuhnya dari salah satu dari 65 negara di mana perseroan beroperasi.



Saat ini StanChart memiliki jaringan internasional yang meliputi lebih dari 1.700 cabang dan lebih dari 5.800 ATM yang tersebar di wilayah Asia, Afrika dan Timur Tengah. Secara global, bank ini hadir dari 70 negara di benua Asia Pasifik, Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika, Inggris Raya dan Amerika.



Dalam keterangan resmi, Indonesia diklaim merupakan kontributor keenam terbesar dalam jaringan global StanChart. Sebagai salah satu bank tertua di Indonesia, StanChart telah hadir di Indonesia selama 150 tahun, sejak tahun 1863.




Ketiga, dalam sebuah wawancara dengan Financial Times (FT), Bill Winters, CEO Standard Chartered Bank Group Bill Winters mengatakan bahwa rencana penjualan saham Bank Permata akan membebaskan modal perseroan untuk kembali kepada investor, melalui kemungkinan pembelian kembali saham (buyback) dan pendapatan dividen yang lebih tinggi yakni naik dua kali lipat pada 2021 dari level saat ini sekitar 20 sen.

"Kami sudah memiliki anggaran investasi yang sehat untuk dimasukkan ke dalam rencana perusahaan. Dengan demikian, penambahan modal harus tersedia untuk pembelian kembali dalam jangka waktu yang relatif singkat," katanya kepada Financial Times.

Per akhir Desember 2018, pemegang saham Bank Permata yaitu, PT Astra International Tbk sebanyak 44,56% atau sebanyak 12,50 miliar lembar saham, kemudian StanChart 44,56% atau 12,50 miliar lembar saham dan Publik 10,88% atau 3,05 miliar lembar saham. 

Keempat, saham StanChart kehilangan kira-kira 37% dari nilainya di Bank Permata setelah dicaplok perusahaan pada 2015. Meskipun Winters dan para eksekutifnya telah dipojokkan oleh investor yang mendesak agar manajemen memperbaiki neraca keuangan Bank Permata, tapi kini Bank Permata mulai berjuang memenuhi target profit.

Tahun lalu, Bank Permata mencatatkan laba bersih sebesar Rp901,25 miliar atau naik 20% year on year (YoY) dari tahun 2017 sebesar Rp748,43 miliar.

Winters menolak membeberkan angka pembelian kembali, meskipun analis memperkirakan bank bisa membayar pengembalian modal sekitar US$1,3 miliar. 

"Pesan intinya adalah bahwa dalam periode tiga tahun ke depan kami siap untuk melihat bahwa [kelebihan modal] dikirim kembali ke pemegang saham," kata Andy Halford, Chief Financial Officer StanChart, dikutip FT.

Saat ini, StanChart diharuskan untuk memasukkan semua aset Permata di neraca tetapi hanya mendapat manfaat dari 45% dari keuntungan, sehingga membuat tingkat ROE berkurang.

Sebelumnya Bill Winters menguraikan kondisi bisnis Bank Permata. Ia mengakui anak usahanya tersebut menghadapi tantangan yang berat dalam membersihkan bank yang dimilikinya bersama Astra itu.

Winters juga mengungkapkan tiga pilihan yang tersedia baginya terkait kepemilikan saham perusahaan di Bank Permata. Beli, jual, atau tahan. Itu adalah pilihannya.

Winter juga berjanji akan membuka kejelasan rencana pelepasan saham Bank Permata secara resmi, ia sendiri belum memberikan pernyataan resmi ke otoritas terkait.

Jika melihat gigihnya StanChart mengejar dan ingin menguasai Bank Bali pada 1998 dan baru berhasil mengakuisisinya pada 2004, harusnya pelepasan saham itu tak perlu terjadi. Namun memang mengundang pertanyaan besar, mengapa kini StanChart ingin melepas sesuatu yang dulu seperti sangat berharga.

Seperti ada misteri yang belum terungkap, apakah ada kaitannya dengan proses penguasaan saham Bank Permata di masa lalu? Ataukah ada fronting yang belum tuntas bagi hasilnya? Atau karena murni ternyata hasil investasinya tak sesuai harapan?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here