Mengembalikan Fungsi Masjid di Museum Hagia Sophia

0
275

Nusantara.news Hagia Sophia atau Aya Sofia di Istanbul, Turki dulu dibangun sebagai gereja, lalu pada masa kesultanan Islam Turki Utsmani berubah fungsi menjadi masjid. Pada era Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki modern sekuler bangunan ini difungsikan sebagai museum mulai 1 Februari 1935. Kini, di era Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, pemerintah secara perlahan ingin mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid. Mungkinkah Hagia Sophia akan kembali menjadi masjid?

Setidaknya, sudah dua kali Ramadhan terakhir ini, dari dalam museum tersebut diperdengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur`an secara keras sepanjang Ramadhan. Lembaga Kepresidenan Urusan Agama Turki menyelenggarakan acara pembacaan al-Qur`an dari dalam bangunan yang telah menjadi museum sejak tahun 1935 tersebut. Acara itu disiarkan di televisi.

Jejak warisan Kristen: Mural berharga menghiasi dinding di dalam Hagia Sophia

Pengembalian fungsi Hagia Sophia sebagai masjid dikritik oleh sejumlah kalangan, salah satunya dari pemerintah Yunani.

“Hagia Sophia termasuk warisan dunia di bawah UNESCO,” demikian bunyi sebuah pernyataan kritik yang tajam dari pemerintah Yunani, sebagaimana dilansir DW.com beberapa waktu lalu.

Selain pemerintah Yunani, Konferensi Gereja-gereja Eropa (CEC) juga mengungkapkan ketidaksetujuannya.

“Upaya untuk mengubahnya menjadi sebuah masjid dengan cara membacakan al-Qur`an merupakan penghinaan terhadap masyarakat global,” kata organisasi tersebut.

Hagia Sophia memang telah lama menjadi “daya tarik” bagi perang di antara kelompok agama, politik dan kebudayaan. Pasalnya, bangunan tersebut semula adalah sebuah gereja yang digunakan selama 1.000 tahun lamanya, sebelum diubah menjadi masjid pada tahun 1453 oleh kekhalifahan Utsmani.

Pada 1453 M, Konstantinopel ditaklukkan oleh Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II, yang kemudian memerintahkan pengubahan gereja utama Kristen Ortodoks itu menjadi masjid. Walaupun saat itu gereja dalam keadaan rusak, bangunan tersebut memberi kesan yang kuat pada penguasa Utsmani baru dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi masjid.

Berbagai lambang Kristen seperti lonceng, gambar, dan mosaik yang menggambarkan Yesus, Maria, orang-orang suci Kristen, dan para malaikat dihilangkan atau ditutup. Sebaliknya, berbagai atribut keislaman seperti mihrab, minbar, dan empat menara, ditambahkan.

Namun, Mustafa Kemal Ataturk lalu menetapkannya sebagai museum pada tahun 1935 sebagai bagian dari upaya untuk men-sekulerkan Republik Turki modern. Namun, tidak semua orang Turki bisa menerima sekularisasi dengan mudah di negara tersebut, dimana kekhalifahan Islam telah memainkan peran yang sangat sentral berabad-abad lamanya.

Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki sekuler modern

“Sisa-sisa peninggalan yang menyedihkan dari sebuah budaya yang sekarat hadir di mana-mana,” tulis seorang penulis Turki sekuler, Orhan Pamuk, yang lahir pada tahun 1952, tentang era Ottoman.

“Eropanisasi tampaknya tidak banyak mendorong perkembangan modernisasi (Turki) dan keinginannya untuk terbebas dari kenangan menyedihkan tentang Kerajaan yang runtuh,” ujarnya.

Kelompok Islam nasionalis yang berkuasa di Turki saat ini menggunakan sejarah masa lalu yang menyakitkan itu untuk mewujudkan tujuan politik mereka. Ada keinginan secara politik untuk mengembalikan Turki ke masa-masa kejayaan Islam di masa lalu. Salah satunya dengan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid.

Baik Partai sayap kanan-Gerakan Nasionalis (Nationalist Movement Party/MHP) mapun Partai Peradilan dan Pembangunan yang saat ini berkuasa (AKP) di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang keduanya didukung pemilih konservatif, telah mendukung Hagia Sophia kembali ke fungsi sebagai masjid. Pada tahun 2013, Serikat Mahasiswa Turki Nasional mengajukan sebuah petisi untuk membangun kembali museum tersebut sebagai masjid.

Dalam catatan sejarah, pada tahun 532 M, Kaisar Romawi Justinian memerintahkan pembangunan sebuah gereja yang menakjubkan di kediamannya, Konstantinopel. Sebuah gereja yang dianggap tidak pernah ada sebelumnya sejak zaman Adam.” Sekitar 10.000 pekerja dilibatkan dalam pekerjaan konstruksi Hagia Sophia.

“Hagia Sophia bukan hanya sebagai kebanggaan Istanbul, tapi juga merupakan simbol penaklukan Islam di Konstantinopel pada tahun 1453,” kata Ali Ugur Bulut, Ketua Asosiasi Pemuda Anatolia Istanbul (AGD) yang mengatakan kepada majalah Spiegel Jerman tahun 2014.

“Ini adalah tugas kita untuk melindungi dan meneruskan warisan Islam ini. Hagia Sophia harus menjadi masjid lagi,” katanya.

Sementara itu, pemerintah Erdogan membalas kritik Yunani atas pembacaan al-Qur`an selama bulan Ramadhan di museum. Menunjukkan keberpihakan yang jelas serta posisi AKP yang telah lama dipegang dalam masalah Hagia Sophia. Bertahun-tahun yang lalu, Presiden Erdogan mengatakan bahwa mereka menginginkan Hagia Sophia dipulihkan kembali sebagai masjid. Dan pertama-tama yang harus dilakukan adalah memakmurkan masjid-masjid yang ada. Pasalnya, masih sering masjid kosong atau kekurangan jemaah selama waktu salat.

Hagia Sophia, dengan kubahnya yang besar dan empat menara, berusia hampir 1.500 tahun. Hari ini bekas gereja dan kemudian masjid adalah museum

Hagia Sophia terkenal akan kubah besarnya, ini dipandang sebagai lambang arsitektur Bizantium dan dikatakan  telah mengubah sejarah arsitektur. Bangunan ini tetap menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir seribu tahun sampai Katedral Sevilla selesai dibangun pada tahun 1520.

Pada tahun 2014, Hagia Sophia menjadi museum kedua di Turki yang paling banyak dikunjungi, menarik hampir 3,3 juta wisatawan per tahun. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata Turki, Hagia Sophia merupakan tempat di Turki yang paling menarik perhatian wisatawan pada tahun 2015.

Arsitektur Bizantium pada Hagia Sophia juga mengilhami arsitektur banyak masjid di era Utsmani, seperti Masjid Biru, Masjid Şehzade (Masjid Pangeran), Masjid Süleymaniye, Masjid Rüstem Pasha, dan Masjid Kılıç Ali Pasha. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here