Mengenal Kelompok Maute, Teroris Marawi Filipina

1
1602
Asap hitam muncul dari kebakaran gedung di kota Marinaot, setelah pasukan pemerintah melanjutkan penyerangan terhadap pemberontak dari kelompok yang menyebut dirinya Maute, yang telah mengambil alih sebagian besar wilayah kota, di Marawi, selatan Filipina, Jumat (26/5). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Manila Setidaknya, tiga aksi terorisme terjadi dalam seminggu ini di sejumlah tempat di belahan dunia, di Manchester Inggris, kota Marawi Filipina, dan terakhir di Kampung Melayu Jakarta, Indonesia. Ketiganya diduga terkait dengan jaringan terorisme global Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Jika aksi terorisme di Manchester dan Jakarta berlangsung tiba-tiba dan pelakunya hanya satu dua orang, lain halnya di Filipina, aksi terorisme berupa penguasaan sebuah kota yang dilakukan oleh milisi atau kelompok bersenjata bernama Maute.

Siapakah kelompok Maute?

Kelompok Maute dikenal sebagai Negara Islam Lanao, merupakan kelompok Islam radikal yang terdiri dari mantan gerilyawan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan sejumlah gerilyawan asing yang dipimpin oleh Abdullah Maute, pendiri pendiri Daulah Islamiyah yang berbasis di Lanao del Sur, Mindanao, Filipina.

Maute bersaudara

Kelompok Maute pernah terlibat pertempuran dengan tentara Angkatan Darat Filipina bulan Februari 2016 silam yang berakhir dengan penggerebekan markas mereka di Butig, Lanao del Sur. Konon kabarnya, Omar Maute, saudara laki-laki Abdullah terbunuh dalam penggerebekan tersebut. Tapi ada juga laporan yang mengatakan bahwa Omar melarikan diri dan masih hidup sampai sekarang.

Pertempuran antara pasukan AD Filipina dengan kelompok Maute bermula tahun 2013. Ketika kelompok tersebut menyerang pos pemeriksaan keamanan di Madalum, Lanao del Sur. Kelompok ini diperkirakan memiliki anggota lebih dari 100 orang dan mendapat pasokan senjata dari luar Filipina, melalui jaringan anggota teroris asing, bisa dari Malaysia, Indonesia atau Singapura.

Kelompok Maute juga ditengarai berafiliasi dengan Jemaah Islamiyah (JI), organisasi militan Islam Asia Tenggara yang berupaya mendirikan negara Islam di Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand dan Filipina. Di Indonesia, JI kerap dikait-kaitan dengan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Konon, JI mendapat pasokan dana dari Al-Qaeda dan Abu Sayyaf. JI juga dicurigai menjadi dalang di balik bom Bali, Zamboanga, Metro Manila, dan bom kedutaan Australia di Jakarta, 2004.

Soal keterkaitan langsung dengan jaringan ISIS, meski presiden Filipina Duterte meyakini itu, namun beberapa pengamat terorisme dan pejabat Filipina masih meragukan kelompok Maute ini terhubung dengan ISIS. Meski mereka kerap membawa bendera dan simbol-simbol ISIS, menurut Walikota Butig, Ibrahim Macadato, kelompok ini diragukan telah berafiliasi dengan ISIS, tapi mungkin sedang berupaya terhubung dengan ISIS. Dan peristiwa penyerangan kota Marawi Selasa lalu, menjadi bagian strategi kelompok Maute untuk menarik perhatian dari ISIS.

Kalau hubungan persaudaraan antara kelompok Maute dan MILF jelas. Selain menjadi markas bagi kelompok Maute, kota Butig juga merupakan markas MILF. Omar dan Abdullah Maute merupakan saudara sepupu dari Azisa Romato, istri wakil ketua MILF untuk Urusan Militer Alim Abdul Aziz Mimbantas, yang dimakamkan di Butig. Saudara laki-laki Maute sendiri pernah menjadi anggota MILF.

Kelompok Maute dikenal sadis, mereka telah secara aktif merekrut anak di bawah umur untuk dilatih sebagai pejuang. Pada bulan April 2016 lalu, mereka dilaporkan telah menculik enam pekerja penggergajian di Butig, dua di antaranya ditemukan meninggal dengan kepala terpenggal.

Pada tanggal 4 Oktober 2016, tiga orang yang terkait dengan kelompok Maute ditangkap terkait pemboman dua kota di Davao, kota dimana presiden Filipina Duterte pernah lama menjadi gubernurnya. Terbaru, kelompok Maute melakukan kekacauan di kota Marawi.

Penyerangan kota Marawi berujung pertempuran antara pasukan keamanan pemerintah Filipina dan kelompok milisi Maute, yang meletus pada Selasa sore (23/5). Sebagaimana dilansir AFP, awalnya pasukan keamanan Filipina menyerbu sebuah rumah yang diyakini sebagai tempat persembunyian Isnilon Hapilon, pemimpin Abu Sayyaf dan kepala kelompok teroris ISIS Filipina. Hapilon diklaim Amerika Serikat sebagai salah satu teroris paling berbahaya di dunia, kepalanya dihargai USD 5 juta atau sekitar Rp 66 miliar oleh AS.

Namun, penyergapan Hapilon tak berjalan mulus. Pasukan keamanan malah mendapat perlawanan dari sekitar 100 orang bersenjata. Orang-orang itu kemudian mulai membakar sejumlah bangunan, termasuk gereja Katolik di kota itu. Mereka tampak mengibarkan bendera berwarna hitam menyerupai bendera ISIS.

Menurut sejumlah analis keamanan Filipina, Hapilon berupaya menyatukan kelompok militan Filipina yang telah menyatakan kesetiaan kepada ISIS, termasuk kelompok Maute yang berbasis di dekat Marawi.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memberlakukan keadan darurat militer pada Selasa (23/5). Hingga Kamis (25/5) kota berpenduduk sekitar 200 ribu orang itu masih mencekam, namun pasukan keamanan perlahan-lahan mulai melakukan pembersihan kota yang dikepung kelompok gerilyawan itu. Ribuan orang telah mengungsi saat terjadi bentrokan.

Ratusan warga sipil, termasuk anak-anak, berlindung di sebuah kamp militer di kota dimana kelompok Maute menyandera sejumlah orang, termasuk dari umat Kristen, dan membebaskan lebih dari 100 tahanan dari dua penjara di kota tersebut.

ISIS melalui kantor berita Amaq mengaku bertanggung jawab atas pertempuran yang terjadi pada hari Selasa di Marawi. Tujuh tentara pemerintah dan 13 gerilyawan dilaporkan tewas sejak pertempuran dimulai, menurut tentara pemerintah sebagaimana dilaporkan Reuters. Masih belum diketahui berapa korban dari warga sipil.

Pada hari Jumat (26/5) pemerintah Filipina mengumumkan, bahwa warga negara asing terlibat dalam insiden pertempuran, mereka tergabung dalam kelompok Maute. Juru bicara militer Filipina Brigadir Jenderal Rastituto Padilla bahkan telah memastikan bahwa 6 anggota kelompok militan yang tewas dalam pertempuran terdapat warga Indonesia, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara lain.

Di saat yang sama, Indonesia juga diserang teror bom bunuh diri di Kampung Melayu Jakarta pada Rabu malam (24/5), terduga pelaku ditengarai terkait gerakan terorisme global (ISIS).

Indonesia dan Filipina punya masalah terkait kelompok dan gerakan terorisme. Dengan adanya bom Kampung Melayu yang meledak di terminal, sebuah tempat yang tidak biasanya jadi sasaran teror, lalu terjadinya teror penguasaan kota Marawi Filipina yang juga melibatkan orang Indonesia, pemerintah Indonesia tentu harus berhati-hati. Bukan menakut-nakuti, pola terorisme seperti di Marawi mungkin saja terjadi di Indonesia. Lebih-lebih, mantan ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Embay, dalam artikel sebuah media hari ini, mengingatkan bahwa “Filipina ibarat pintunya Indonesia”, begitu dekat, apalagi ada jaringan Indonesia terlibat di sana. Aparat di Indonesia tentu juga harus mengantisipasi kemungkinan jenis teror serupa. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here