Mengenal Sosok Darsono Sang Panah Beracun

0
529
Darsono bersama anak. Bersama Semaoen, Alimin dan Tan Malaka, Darsono merupakan tokoh berpengaruh di awal pergerakan.

Nusantara.news, Surabaya – Di kampung lawas itu ada Gang Peneleh yang sangat terkenal. Letaknya Gang VII No 29-31 Surabaya, Jawa Timur. Itu rumah Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto. Orang menyebut, guru bangsa. Banyak anak muda dulunya indekos di rumahnya.

Meski Tjokroaminoto saat itu menjadi pemimpin Sarekat Islam (SI) yang anggotanya mencapai 2,5 juta orang, namun dia tidak memiliki penghasilan lain kecuali dari rumah kos yang dihuni 10 orang tersebut. Setiap orang membayar Rp 11. Istri Tjokro, Soeharsikin, yang mengurus keuangannya.

Banyak alumni rumah kos tersebut yang menjadi tokoh besar pergerakan sebelum kemerdekaan. Bahkan hingga kini nama-nama mereka kerap disebut. Seperti Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, SM Kartosoewirjo, Tan Malaka, dan Darsono.

Nah, nama terakhir ini sangat misterius. Tidak banyak literatur menyebut nama Darsono. Dia seakan-akan menjadi tokoh tidak penting. Namanya tenggelam di antara tokoh-tokoh besar lain yang ‘lahir’ dari Gang Peneleh. Padahal peran Darsono di era kemerdekaan sangatlah vital.

Untuk menelusuri tokoh ini tidak mudah. Siapa dia, dilahirkan di mana, dari mana asalnya, keturunan apa, bagaimana sikap politiknya, pergerakannya berkiblat ke mana, dan siapa saja tokoh yang bersamanya. Tidak banyak catatan soal Darsono. Bahkan di mesin pencarian Google, nama Darsono missing link.

Dari berbagai sumber yang dikumpulkan, Darsono merupakan tokoh yang berhaluan kiri. Dia sahabat karib Semaoen. Sayangnya, belum diketahui secara pasti ‘persahabatan’ mereka terjadi saat indekos di rumah Tjokroaminoto atau saat bertemu di Semarang. Yang jelas keduanya memiliki garis pemikiran yang sama. Rata-rata pergerakannya banyak dilakukan di luar negeri.

Saat berusia 19 tahun, Darsono sempat bergabung dengan Sarekat Islam Semarang. Bermula ketika Darsono hadir dalam persidangan Henk Sneevliet, tokoh komunis asal Belanda pada 1915. Di situ Darsono diceritakan bertemu dengan Semaoen. Baik Darsono dan Semaoen, keduanya begitu kagum orang Belanda itu.

Awalnya Darsono sempat ragu pada perjuangan Sneevliet membela rakyat. Begitu mengetahui Sneevliet bekerja di Kantor Dagang bergaji f 1.000 sebulan, Darsono semakin menaruh hormat pada pria Belanda pembebas kaum miskin Asia itu.

Karena memiliki pemikiran yang sama, Darsono lantas diajak Semaoen bergabung dengan Sarekat Islam Semarang. Darsono yang melihat tidak ada jawaban atas pergulatan dirinya dalam Islam, Kristen maupun Budha, melainkan sosialisme. Sebuah dunia yang dia pilih untuk warnai masa mudanya.

Meski bergabung dengan SI, Darsono dan Semaoen juga bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) cabang Surabaya.

Darsono dan anaknya. Catatan soal Darsono sangat minim. Sehingga tokoh ini terkesan dilupakan dari sejarah Indonesia.

Catatan sejarah atas diri Darsono sangat jauh dari cukup. Dia diperkirakan lahir 1897. Namun tempat lahirnya tidak diketahui. Ayahnya seorang pegawai negeri, terbukti Darsono mampu mengenyam bangku sekolah. Darsono dikenal akrab dengan kehidupan petani karena pergaulannya dengan anak-anak petani sewaktu kecil. Kedekatannya dengan dunia pertanian, membuatnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Pendidikan Pertanian.

Setamat dari Sekolah Pendidikan Pertanian, Darsono bekerja di Perkebunan Tebu. Sebuah tempat di mana ia melihat kemiskinan dan sistem sosial yang buruk. Selama bekerja, Darsono meluangkan waktunya dengan membaca buku-buku yang diperolehnya. Masa itu, kehidupan kuli-kuli perkebunan yang buruk sudah menjadi hal yang biasa. Darsono sebetulnya ingin sekolah di Kedokteran Hewan, tapi dia gagal. Dan kembali lagi ke Semarang. Sampai akhirnya hadir dalam persidangan Sneevliet, ia bertemu Semaoen yang kemudian menempatkannya dalam redaksi Sinar Djawa mulai 27 Februari 1918 pada bagian telegram. Darsono menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu dan koran Sarekat Islam Semarang setelah memutuskan berhenti bekerja perusahaan kereta Belanda.

Dijuluki “Panah Beracun”

Selama menulis, Darsono dikenal dengan tulisannya yang tajam. Menurut dia, rakyat Jawa masih bodoh karena cenderung dibodohi oleh Belanda. Artikel-artikelnya yang menusuk, membuat penguasa saat itu berang. Dia terlalu berani mengkritisi kolonial dengan tulisannya.

Menurut dia, tulisan yang terlalu ilmiah tidak akan dimengerti oleh rakyat yang umumnya tidak pernah sekolah. Sehingga cara yang tepat menurut Darsono adalah hantam kromo bukan cara intelektual. Bersama Semaoen, Darsono bergerak dengan cara tidak biasa. Sehingga banyak rekan-rekannya yang ketakutan dan memilih mundur dari Sinar Djawa.

Pergerakan Darsono dan Semaoen yang cenderung kiri membuat beberapa orang pergerakan yang kurang radikal gerah. Sejak 28 Februari 1918 satu persatu anggota redaksi Sinar Djawa seperti Mohammad Joesoef, Aloei juga Martowidjojo keluar.

Tidak hanya itu, SI cabang Semarang juga gerah. Darsono dan Semaoen semakin radikal dan cenderung menyerang golongan moderatnya yang kebanyakan menduduki posisi kunci dalam SI, termasuk Darsono sendiri.

Ada salah satu artikel ditulis Darsono. Judulnya Giftige Waarheidspijlein (Pengadilan Panah Beracun). Di salah satu kalimatnya yang dianggap keras berbunyi begini, “Selama toemboeh-toemboehan bisa hidoep, setan oeang, jang dengan rapi dilindoengi oleh pemerintah, soedah membikin sengsaranja ra’jat.”

Istilah “setan oeang” yang ditulis Darsono merupakan sindiran keras kepada para pemilik modal atau pengusaha. Istilah ini mengacu pada segala bidang di mana modal dapat berkuasa, seperti pendidikan, perkebunan, ataupun pajak. Politik etis yang dicanangkan kaum etisi Belanda lebih banyak dimanfaatkan pemilik modal. Pengadaan sarana irigasi, edukasi dan migrasi lebih menguntungkan pemilik modal daripada memperbaiki kehidupan rakyat pribumi. Setiap perusahaan yang mengeksploitasi hasil bumi tanah Hindia tentunya hanya membutuhkan tenaga-tenaga murah. Tidak masuk akal bagi kaum pemilik modal mendatangkan tenaga kasar dari Eropa. Pastinya tenaga murah pribumi yang dibutuhkan oleh para pemilik modal alias setan oeang.

Kata Darsono, banyak sekolah dibangun untuk menyediakan tenaga kerja murah yang dibutuhkan oleh pemilik modal untuk menggerakan produksi mereka di Hindia. Pemerintah telah mengadakan beberapa sekolah pribumi dengan kurikulum terbatas bagi rakyat pribumi calon buruh dari usaha milik setan oeang. Anak-anak pribumi jelata hanya dapat menikmati tweede klass (sekolah bumiputra klas dua tanpa bahasa Belanda) yang biasa disebut Sekolah Angka loro. Sebuah sekolah dengan masa belajarnya 3 tahun. Dimana mereka hanya dididik untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Lulusan macam inilah yang dibutuhkan oleh setan oeang.

Perjalanan Semaoen (kiri) dan Darsono sangat radikal. Darsono dengan tulisannya yang berani mendapat julukan si panah beracun.

Darsono yang geram dengan kondisi semacam ini berkata: “Djika saja berani membilangkan, bahwa hampir semoea sekolahan jang diadakan di Hindia sini tjuma boeat membesarkan keoentoengan setan oeang asing, itoelah sebenarnja djuga, itoelah boekan omong kosong. Sekolahan machinist boeat pabrik-pabrik atau spoor dan tram, kepoenjaan setan oeang asing. Sekolah opzichter begitoe djoega; sekolah dagang idem; opleiding school boeat ambtenaar idem; cultureschool di Soekaboemi idem; sekolah dokter setali tiga oeang, dan begitoe sebagainja.

Memang umumnya pengadaan sekolah berkualitas dengan standart yang mendekati Eropa oleh pemerintah kolonial hanya ditujukan kepada elit feodal. Pembatasan pendidikan non formal bagi rakyat pribumi melalui rapat-rapat umum dilarang Asisten Residen di kota Semarang. Pemerintah kolonial berupaya menutup rapat pintu kesadaran kaum kromo akan pentingnya pendidikan politik. Darsono bereaksi dengan kecamannya terhadap Asisten Residen Semarang:

“Pada tanggal 9 mei jang laloe di gedoeng Oost java bioscoop Semarang diadakan Openbare Vergadering oleh ISDV….idzin boeat itoe bermoela toean toean asistent resident dari kota Semarang mendjawab tidak boleh diadakan…kedoea…minta idzin lagi didjawab: boleh diadakan, akan tetapi orang jang terpeladjar dari kepala warga SI sadja jang boleh mengoendjoengi, sedang lain-lainnja orang masih bodo dilarang mendengarkan itoe vergadering….pengadjaran boeat ra,jat berdjalan begitoe pelan seperti keong (slak) dia maoe mengelarang si bodo boeat mendengarkan itoe vergadering jang dapat menambahkan kepandaian dan melebarkan pemandangannja”.

Pemerintah kolonial enggan membuka sekolah-sekolah tinggi bagi kemajuan rakyat Hindia. Terlalu mahal bagi pemerintah kolonial untuk mendatangkan pengajar-pengajar dari Eropa yang bayarannya tinggi. Alasan lain yang lebih penting karena perkembangan modal tidak menuntut tenaga kerja bumiputra (yang murah) yang berpendidikan tinggi karena relatif masih bisa diatasi oleh orang Belanda sendiri yang terkadang didatangkan juga dari Negeri Belanda.

Ya, tanpa basa basi dan langsung hantam kromo, tulisan Darsono memberi ketakutan pada kekuatan pemodal, dalam hal ini pemerintah kolonial saat itu sebagai fasilitator dari “setan oeang”.

Serangan Darsono dalam Giftige Waarheidspijlein memang murni serangan terhadap kebijakan-kebijakan kolonial terhadap rakyat tertindas di Hindia. Giftige Waarheidspijlein ditulis Darsono berdasar literatur yang pernah dibacanya. Salah satu bahan tulisan Darsono adalah Het Process Sneevliet (1917) yang menjadi bacaan wajib kaum pergerakan dan menjadi bacaan terlarang di sekolah-sekolah pemerintah. Tulisan Clive Day The Policy and Administration of the Deutch in Java (1904). Kedua bahan ini menjelaskan bahwa kemiskinan yang melanda mayoritas pribumi tidak terjadi tanpa sebab, tetapi memiliki proses sejarah yang panjang.

Ada pula tulisan Het Process Sneevliet yang menyatakan sumber kemiskinan dimulai oleh merkantilisme VOC (Vereniging Oost indische Compagnie, maskapai dagang Belanda terbesar di Nusantara sebelum abad XIX). Kemudian Darsono menulis Devide et Impera (politik pecah belah) VOC berlanjut dengan monopoli perdagangan dan pungutan pajak yang mencekik rakyat pribumi. Penguasa lokal dan bawahannya lebih banyak diam (mendukung) dan hampir semuanya hidup jauh dari derita yang dialami rakyatnya. Pemerintah kolonial tidak lebih dari panah beracun bagi kaum kromo yang miskin dengan kebijakan-kebijakan kolonialnya. Karena inilah Darsono dijuluki “Si Panah Beracun”.

Bertemu Tan Malaka dan Hatta

Perjuangan Darsono di Sarekat Islam Semarang barisan kiri bersama Semaoen dan Alimin boleh dibilang turut mewarnai perjuangan kaum buruh di Hindia. Kebetulan saat itu Ketua SI Semarang dijabat Semaoen. Darsono sendiri, karena tulisan dan kepemimpinannya menjadi sosok yang menonjol dan menjadi orang penting kedua dalam kepemimpinan ISDV di Semarang.

Ketika masih di SI cabang Semarang Darsono berusaha memperjuangkan keringanan pajak rakyat dan membebankan pajak yang lebih besar kepada kaum setan oeang. Masalah ini akan dibawa dalam Kongres Nasional Central Sarekat Islam ke-3 yang diadakan pada tanggal 29 September-6 Oktober 1918 di Surabaya.

Dengan uang yang dimiliki kaum setan oeang memaksa desa-desa menyewakan tanahnya untuk perkebunan dengan memberikan premi tertentu kepada lurah-lurah. Sawah milik desa yang komunal yang sebelumnya dikelola oleh petani, dijadikan perkebunan dan menjadikan para penduduk sebagai kuli perkebunan. Dalam hal ini pemerintah lalai dengan nasib para petani ini. Lurah hanya menjadi bagian dari sistem saja dan membiarkan warganya sengsara. Semua ini tak lain untuk meningkatkan produksi gula. Pemerintah hanya bisa mendukung kemauan kaum setan oeang yang hanya mengeruk laba dari keringat tenaga pribumi dan kesuburan tanah Hindia.

Tiga sekawan (Semaoen, Alimin dan Darsono) saat itu memang kerap terlibat dalam aksi pemogokan buruh. Ketiganya ingin mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Dari sinilah lahirlah cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI) yang meneriakkan kepentingan buruh-tani di Hindia.

Barisan kiri (komunisme) yang dianut tiga sekawan ini membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya.

Apalagi pada awal 1920 datang sebuah surat dari Komunis Internasional (Komintern). Isinya adalah menganjurkan bergabungnya ISDV dalam Komintern. Salah satu syaratnya adalah menggunakan nama terang partai komunis. Dalam sebuah sidang yang panas dengan peserta 40 kemudian menerima perubahan nama tersebut.

Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Perserikatan Komunis Hindia. Inilah PKI generasi pertama yang juga terlibat dalam pergerakan nasional. Hanya saja peranan mereka kurang diakui sebagai kaum pergerakan.

Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi PKI dan Semaoen sebagai ketua pertama. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921.

Namun sebelumnya, pada bulan Mei 1921 Ir Adolf Baars dibuang bersama Darsono keluar negeri. Menyusul Semaoen dan Alimin pergi juga pada akhir tahun meninggalkan Indonesia dengan tujuan Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum.

Darsono dalam perjalanan, di Shanghai bertemu Sneevliet yang menjadi wakil Komintern di Cina. Mereka lalu menuju Rusia. Ketika terjadi pemogokan besar-besaran di Jawa banyak tokoh-tokoh kiri ditangkap. Saat itu Darsono berada di luar negeri ketika penangkapan itu terjadi. Hal ini membuat pemerintah kesulitan. Pada bulan November 1921 Darsono menghadiri Kongres Partai Komunis Belanda (Comunist Partij: CP) dan memberikan pidatonya. Darsono meminta diadakannya kerjasama antara PKI dengan CP.

Pada bulan Juli 1922, Mohammad Hatta pernah menerima surat dari Darsono di Berlin yang mengabarkan bahwa Tan Malaka ada di Berlin. Darsono menganjurkan Hatta,  “jika ada tempo” supaya datang melancong ke Berlin.

Hatta akhirnya bertemu Darsono pada suatu malam di bulan Juni 1922 di Hamburg. Darsono datang dari Berlin khusus untuk menemui Hatta yang sedang berkunjung ke Hamburg.

Selama pengembaraan di luar negeri, Darsono (kanan) pernah bertemu dengan Tan Malaka (duduk) dan Mohammad Hatta.

Menurut pengakuan Hatta,  Darsono sudah enam bulan berada di Jerman, dan telah berpidato beberapa kali di beberapa tempat untuk Partai Komunis Jerman (PKJ). Sesudah bercakap-cakap sekitar dua jam malam itu,  keesokan harinya, Darsono mengajak Hatta berkunjung ke kantor PKJ cabang Hamburg. Dari situ, Hatta dan Darsono berpisah. Hatta kembali ke tempatnya menginap,  Darsono kembali ke Berlin. Oleh Hatta, surat dari Darsono yang diterima sebulan sesudah mereka bertemu, ditunjukkan kepada dr. Soetomo.

“Baiklah Saudara Hatta pergi ke Berlin,” kata Soetomo sesudah membaca surat dari Darsono. Keesokan harinya, Hatta berangkat ke Berlin.

Di Berlin, Hatta menginap di rumah Darsono. Ternyata Tan Malaka juga menginap di rumah yang sama. Selama lima hari di Berlin,  banyaklah percakapan antara Hatta,  Darsono, dan Tan Malaka. Percakapan terutama mengenai Indonesia.

Seperti diceritakan oleh Hatta dalam satu kesempatan, Hatta bertanya kepada Tan Malaka kemungkinan dia menetap di Moskow. Menurut Tan, sudah sepantasnya dia pergi ke Moskow, karena Moskow adalah pusat gerakan komunis sedunia. Akan tetapi Tan Malaka tidak akan tinggal di Moskow. Tan tidak akan beristirahat. Dia akan terus bergerak dan berjuang untuk Indonesia Merdeka.

Kepada Hatta, Tan Malaka mengungkapkan tekadnya untuk meneruskan perjalanan ke Timur Jauh, dan dari situ Tan akan membuka hubungan dengan pergerakan kemerdekaan di seluruh Asia.

Tidak bisa dipungkiri, pengaruh Darsono di luar negeri cukup besar. Selama menjadi pimpinan komunis di Indonesia, Darsono pernah dicalonkan sebagai anggota Tweede Kamer (Majelis Rendah) tahun 1929 oleh Partai Komunis Belanda. Darsono berada di daftar urutan 3 dan Tan Malaka di urutan 2, namun keduanya tidak terpilih. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kunjungan dan pidatonya pada kongres CP November 1921 sebelumnya. Karenanya Darsono juga cukup populer di Belanda. Apalagi Darsono juga cukup teoritis dalam pergerakan. Walau begitu Semaoen dan Darsono kemudian keluar dari PKI kendati mereka masih memihak kaum yang tertindas. Banyak juga tokoh PKI angkatan 1920an yang menghilang dari peredaran perpolitikan pasca kemerdekaan Indonesia. Darsono sendiri terus mendedikasikan hidupnya membela kaum yang tertindas dengan melawan setan oeang. Dia masih percaya bahwa kekuatan pena mampu mengalahkan pedang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here