Mengenang 75 Tahun Jatuhnya Hindia Belanda (1)

0
197
Pangkalan militer AS Pearl Harbor, Hawaii, 7 Desember 1941.

Nusantara.news, Jakarta – Bulan Maret 1942 adalah tanggal bersejarah bagi kekuasaan Hindia Belanda dan menjadi salah satu episode penting dalam catatan sejarah nasional Indonesia. Bagi Hindia Belanda bulan Maret 1942 adalah catatan kelam. Pada bulan tersebut 75 tahun yang lalu satu demi satu wilayah kekuasaan kolonial Belanda di kepulauan Nusantara jatuh ke tangan bala tentara Jepang. Invasi pasukan negeri matahari terbit ini merupakan rangkaian ekspansi militer mereka ke seluruh Asia Timur.

Sejak lama Jepang mengidamkan Hindia Belanda sebagai salah satu target utama ekspansi militernya. Koloni Belanda itu memiliki sumber daya yang melimpah, terutama perkebunan karet dan ladang minyak—dua komoditas yang sangat dibutuhkan Jepang. Hingga menjelang pecahnya Perang Asia Timur Raya, Hindia Belanda merupakan negara pengekspor minyak ke empat terbesar di dunia setelah Amerika Serikat, Iran dan Rumania.

Situasi ini membuat Jepang terus melakukan tekanan diplomatik terhadap negara-negara Barat yang memiliki koloni di Asia Tenggara, terutama Belanda, untuk memberikan konsesi terhadap akses sumber minyak bumi. Kekuatan militer Jepang yang tengah tumbuh pesat sejak dasawarsa 1930-an dijadikan alat bargaining politik bahwa mereka tidak akan menggunakannya jika negara-negara Barat di kawasan Asia Tenggara memberikan sedikit kelonggaran untuk memperoleh akses minyak bumi.

Ketergantungan Jepang terhadap impor minyak dapat dikakatakan absolut. Bahkan ekstraksi minyak di Manchuria—yang telah diduduki Jepang sebelumnya— tidak mampu melampaui 10% dari kebutuhan nasionalnya. Lebih dari itu, Jepang juga kehilangan 93 persen dari impor minyaknya setelah Presiden AS Franklin D. Roosevelt mengeluarkan perintah eksekutif pada 26 Juli 1941 yang membekukan semua aset di Jepang di AS dan menerapkan embargo semua ekspor minyak ke Jepang—menyusul invasi militer Jepang ke daratan Cina. Cara-cara Jepang meminta konsesi agar mendapatkan akses sumber minyak bumi yang mengarah pada teror itu memang telah membuat negara-negara Barat jengah.

Di samping itu, pemerintah Belanda di pengasingan (saat itu Belanda telah diduduki Jerman) atas desakan Sekutu serta dukungan dari Ratu Wilhelmina, menginstruksikan pemerintah Hindia Belanda membatalkan perjanjian ekonomi dengan Jepang pada bulan Agustus 1941, termasuk penghentian ekspor minyak.  Sementara itu, cadangan pembiayaan militer dan ekonomi Jepang saat itu hanya sanggup menghidupi negeri itu selama satu tahun ke depan.

Dengan begitu, menguasai Asia Tenggara, terutama Hindia Belanda, merupakan satu-satunya pilihan bagi Jepang untuk terus bertahan hidup dan terhindar dari “kematian”. Penguasaan atas wilayah Hindia Belanda merupakan jaminan bagi Jepang untuk memastikan pasokan minyak bumi mereka berada dalam kondisi aman. Dari dokumen-dokumen milik pemerintah Jepang yang disita oleh tentara sekutu di akhir Perang Asia Timur Raya menunjukkan bahwa penguasaan wilayah Hindia Belanda telah masuk ke dalam rencana jangka panjang Tokyo sejak akhir dasawarsa 1920-an.

Untuk sementara Jepang sengaja tidak menampikan wajah yang terlalu bengis ke pemerintah Hindia Belanda. Terdapat dua motif di balik sikap semacam itu. Pertama, Jepang masih menaruh harapan besar pada pemerintah Hindia Belanda untuk meneruskan perundingan ekspor minyak ke Jepang yang belum mencapai kesepakatan sejak awal tahun 1941. Kedua, Jepang berharap  pemerintah Hindia Belanda tidak melakukan tindakan bumi hangus terhadap ladang-ladang minyak di Sumatera, Kalimantan dan Jawa ketika perang meletus.

Sikap Jepang juga menyiratkan bahwa mereka berharap dapat memisahkan antara Hindia Belanda dengan negara-negara Barat lain di kawasan Asia Tenggara. Namun, niat Jepang tidak kesampaian, karena Belanda lebih terikat solidaritas dengan sesama negara Barat dan siap menghadapi Jepang secara militer dengan segala risiko.

Dihadapkan pada kekompakan negara-negara Barat untuk tidak memberikan konsesi minyak serta semakin menipisnya cadangan minyak di dalam negeri telah “memaksa” Jepang mengambil satu keputusan: maju perang ke seluruh Asia Timur. Menjelang akhir Oktober 1941 komando militer tertinggi Jepang memobiliasi kekuatan militernya.

Semua pihak saling mengetahui bahwa perang pasti akan meletus. Negara-negara Barat atau sekutu telah mengambil kesimpulan bahwa—tidak bisa tidak—Jepang akan melakukan agresi militernya di Asia. Jepang sendiri juga “memahami” bahwa mobilisasi militer negara-negara Barat di Asia Tenggara ditujukan untuk menghadang invasi mereka. Yang belum diketahui oleh Sekutu adalah kapan dan di mana serangan akan dilakukan.

Memasuki bulan November 1941 ketegangan situasi politik di Asia mengalami eskalasi. Pada akhir bulan itu pemerintah Hindia Belanda mulai mempersiapkan perang. Kapal-kapal Angkatan Laut Kerajaan Belanda dikirim ke perairan Hindia Belanda untuk memperkuat pertahanan. Pada tanggal 4 Nopember Angkatan Udara KNIL dimobilisasi dengan status siaga penuh.

Bersamaan dengan itu, sebagai bentuk reaksi terhadap kemungkinan agresi militer Jepang ke Asia Tenggara, Inggris, Belanda dan Australia—tanpa disertai Perancis—dengan dibantu AS melakukan konsolidasi. Pembentukan komando militer bersama ini tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh negara-negara Barat di Asia Tenggara, mengingat mereka tidak pernah membayangkan sebelumnya tentang adanya ancaman militer lintas kawasan selama berabad-abad.

Untuk mengkoordinasikan kemungkinan terjadinya perang melawan agresi Jepang, pasukan Amerika, Inggris, Belanda, Australia diintegrasikan ke dalam komando gabungan yang dinamakan ABDACOM (America, British, Dutch and Australia Command). Namun demikian, meskipun kekuatan militer masing-masing negara dikoordinasikan, mereka berbeda prioritas.

Inggris meyakini bahwa basis pertahanan di Singapura sangat penting karena merupakan pintu masuk ke Samudera Hindia dan mengancam Burma dan Srilangka yang merupakan koloninya. Sementara AS dan Australia tidak menghendaki penetrasi militer memasuki jalur Samudra Hindia, karena akan akan menjauhkan mereka dari basis yang diperlukan untuk melakukan serangan balik. AS dan Australia memilih Darwin sebagai pusat komando. Di sisi lain, Belanda menganggap Jawa dan Sumatera sebagai wilayah strategis yang perlu mendapat prioritas untuk dipertahankan.

Perbedaan-perbedaan inilah yang kelak akan menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan kekalahan negara-negara Barat dalam menahan laju invasi Jepang ke Asia Tenggara. Alih-alih menghentikan agresi militer Jepang ke Asia Tenggara, ABDA bahkan tidak sanggup memperlambat kecepatan gerak maju bala tentara Jepang.

Membangunkan Raksasa Tidur

Memasuki bulan Desember 1941 tekad Jepang untuk memulai serangan ke Asia Timur telah bulat. Namun demikian, Jepang masih melakukan upaya diplomatik dengan AS untuk meminta kelonggaran konsesi impor minyak sebelum keputusannya untuk maju perang benar-benar dilaksanakan. Presiden Roosevelt tetap pada keputusannya: tak setetes pun minyak yang akan diberikan ke Jepang.

Kini, bagi Jepang persoalannya menjadi semakin jelas. Hanya jalan militer yang merupakan satu-satunya pilihan yang tersedia untuk menyelamatkan ekonomi industri dalam negerinya. Menunda ekspansi militer untuk merebut paksa sumber daya alam stratagis di Asia Tenggara sama artinya dengan menunggu kematian. Obat untuk mencegah kematian mereka terdapat di ladang-ladang minyak di Hindia Belanda.

Pukul 00:01 waktu Pasifik, tanggal 7 Desember 1941, perintah sangat rahasia dari komando militer tertinggi Jepang tiba di markas besar Panglima Armada Gabungan Jepang di bawah pimpinan Laksamana Isoroku Yamamoto. Perintah itu berisi kalimat yang amat sederhana: hancurkan Pearl Harbor! Di pagi harinya, ratusan pesawat dari armada Jepang tiba di pangkalan militer AS di Pasifik itu dan menghancurkan sebagian besar kapal perang AS yang tengah bersandar.

Itulah hari yang oleh sejarawan kemudian dinyatakan sebagai tanda dimulainya Perang Asia Timur Raya. Pukulan Jepang terhadap AS di ronde pertama di arena Perang Asia Timur Raya itu sedikit melegakan mereka. Agresi militer Jepang tahap berikutnya ke Asia Tenggara kini terbebas dari ancaman armada AS, setidaknya untuk sementara waktu.

Namun, betapa terkejutnya Yamamoto saat menerima laporan dari pilot-pilot pembom Jepang yang menyatakan bahwa mereka tidak menjumpai kapal induk AS di Pearl Harbor. Sebagai Panglima Armada Gabungan Jepang Yamamoto sangat memahami apa konsekuensinya secara militer jika tak satupun kapal induk AS yang ditenggalamkan oleh pesawat-pesawat AL Jepang.

Mantan atase AL Jepang untuk AS—dan memiliki banyak sahabat karib di lingkungan perwira tinggi AL AS—itu membayangkan bahwa invasi Jepang ke Asia Timur untuk sementara ini memang agak tertolong dengan hancurnya sebagian besar kapal perang AS di Pearl Harbor, namun situasi ini tidak akan berlangsung lama. Utuhnya kapal induk AS mengkhawatirkan dirinya. AS hanya terhuyung di ronde pertama, namun tidak knock out. Yamamoto ragu dengan ronde berikutnya.

Laksamana brilian ini bahkah telah mengambil kesimpulan tentang arah dan jalannya perang Asia Timur Raya hanya beberapa saat pasca kehancuran pangkalan militer AS di Pearl Harbor. Sama seperti pandangan para perwira tinggi Angkatan Laut Jepang pada umumnya, Yamamoto tergolong perwira yang skeptis terhadap keberhasilan ekspansi militer Jepang ke Asia Timur. Di pertengahan tahun 1941 ia menyatakan dalam sebuah rapat kabinet, “Saya akan beperang habis-habisan pada enam bulan pertama atau satu tahun, tetapi saya tidak yakin pada tahun kedua dan ketiga.”

7 Desember 1941, sebelum mata hari beranjak ke tengah, sambil memandang ke langit menyambut kedatangan pilot-pilot pembomnya yang berhasil membumihanguskan Pearl Harbor, Yamamoto mengumpulkan para perwira stafnya. Dikelilingi oleh para perwira stafnya lulusan Univeritas Harvard AS ini berkata dengan nada datar dan hampir tanpa ekspresi, “Kita telah membangunkan raksasa tidur.” [] Disarikan dari berbagai sumber. Bersambung.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here