Mengenang 75 Tahun Jatuhnya Hindia Belanda (2)

0
139
Kapal Ipenjelajah berat Inggris HMS Exeter dihujani tembakan meriam kaliber 8 inci dalam pertempuran Llaut Jawa, 28 Februari 1942

Nusantara.news, Jakarta – Serangan militer Jepang ke Pearl Harbour dengan cepat menjalar ke Asia Tenggara. Hari itu juga, 7 Desember 1941, pemerintah Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Para petinggi militer Inggris, Belanda, Australia dan AS langsung melakukan koordinasi guna menyongsong serbuan bala tentara Jepang ke Asia Tenggara.

Semua pihak saling tahu tujuan militer lawannya. Sekutu yakin 100% bahwa Asia Tenggara, terutama Hindia Belanda, akan jadi target utama invasi militer Jepang. Petinggi militer negeri matahari terbit juga mengetahui secara akurat bahwa mereka akan menghadapi konsentrasi kekuatan militer Sekutu di Asia Tenggara. Sekalipun kedua belah pihak tidak tidak pernah bersepakat untuk memilih medan laga, namun kedua belah pihak sama-sama mengarahkan kekuatan militernya ke satu lokasi yang sama: kepulauan Nusantara.

Awal Januari 1941 Thailand dengan mudah jatuh ke tangan bala tentara Jepang. Negeri ini memang sengaja dilepas oleh Sekutu dengan akibat tentara Thailand disapu bersih oleh Tentara ke 25 Jepang.

Berbeda dengan medan perang di Thailand, pasukan Jepang menghadapi perlawanan sengit dari Korps Ke III Angkatan Darat India, Divisi 8 Australia dan beberapa unit pasukan khusus Inggris di Semenanjung Malaya. Namun, dalam waktu dua minggu Jepang tidak hanya berhasil meguasai seluruh Semanjung Malaya, tetapi juga Singapura. Pasukan Sekutu di bawah komando Letnan Jenderal Arthur Percival akhirnya bertekuk lutut di hadapan keperkasaan tentara Jepang pada 15 Februari 1942. 130.000 tentara sekutu di Singapura menjadi tawanan perang. Ini merupakan kekalahan terbesar dalam sejarah militer Inggris.

Jendral Hisaichi Terauchi, Panglima Grup Tentara Ekspedisi Selatan, mulai melakukan serangan dengan mengirimkan Tentara ke 16 di bawah komando Jenderal Hitoshi Imamura untuk menyerang Borneo. Pada tanggal 17 Desember, dengan dukungan dari satu kapal perang, satu kapal induk, tiga kapal penjelajah dan empat kapal perusak, pasukan Jepang berhasil mendarat di Miri dan merebut pusat produksi minyak Inggris di Sarawak utara.

Awalnya, pasukan Jepang melancarkan serangan udara terus-menerus di wilayah itu. Supremasi Jepang di angkasa membuat angkatan udara Sekutu kehilangan banyak pesawat tempurnya.  Pasukan Jepang akhirnya berhasil mendaratkan beberapa batalyon infantrinya melalui laut di Seria, Kuching, Jesselton dan Sandakan antara 15 Desember 1941 – 19 Januari 1942.

Serawak yang telah jatuh ke tangan bala tentara Jepang menjadi basis untuk menyerang Tarakan dan Balikpapan. 11 Januari Tarakan jatuh ke tangan serdadu Jepang tanpa perlawanan berarti dari tentara Belanda. Pada tanggal 28 Januari Jepang berhasil menguasai lapangan terbang di Balikpapan dan dengan cepat mengambil ladang-ladang minyak di sekitar kota itu—sekalipun tentara Belanda terlebih dulu telah membumihanguskan sumur-sumur minyak sebelum jatuh ke tangah serdadu Jepang.

Pada akhir Januari seluruh Kalimantan telah berada di bawah sepatu lars Tentara Ke 16 Jepang. Dahaga Jepang untuk mendapatkan minyak di kepulauan Nusantara kini telah terpenuhi, sekalipun belum seluruhnya.

Direbutnya ladang minyak Hindia Belanda di Balikpapan kemudian disusul dengan jatuhnya Aceh dan Palembang pada tanggal 14 Februari ke tangan Tentara ke 25 Jepang. Lapangan terbang Palembang dan beberapa ladang minyak di wilayah itu praktis dikuasai bala tentara Dai Nippon. Jepang kini bernapas lega. Dua lokasi produksi minyak terbesar di Hindia Belanda yang didambakan itu telah berada di bawah kendali mereka. Dengan menguasai dua lokasi sumber minyak itu Jepang dapat memperpanjang usianya.

Sasaran militer Jepang berikutnya adalah Jawa dan Hindia Belanda bagian timur. Namun, untuk dapat memastikan seluruh teritori Hindia Belanda dapat dikuasai secara efektif, bala tentara Dai Nippon masih harus menguasai perairan Hindia Belanda. Sekalipun Sekutu telah berkali-kali menerima pukulan telak dan mundur teratur di angkasa dan daratan, namun mereka tidak akan tinggal diam dan membiarkan perairan Nusantara jatuh ke tangan armada Jepang.

Satu Armada Kulit Kuning vs Empat Armada Kulit Putih

Armada gabungan Sekutu di Hinda Belanda yang terdiri dari Inggris, AS, Belanda dan Australia seluruhnya memiliki 2 kapal penjelajah berat, 3 kapal penjelajah ringan dan 9 kapal perusak. Sementara armada Jepang terdiri dari 2 kapal penjelajah berat, 2 kapal penjelajah ringan, 14 kapal perusak serta 10 kapal transport.

Pada tanggal 27 Februari 1942, bertolak dari Singapura, armada Dai Nippon mulai melakukan serangan melewati Selat Karimata menuju Laut Jawa. Turut bersama armada itu 10 kapal transport yang membawa infantri yang rencananya akan melakukan pendaratan amfibi di pantai utara P. Jawa. Armada gabungan Sekutu yang di pusatkan di Surabaya bergerak ke utara untuk melakukan pencegatan. Tanpa perlu melakukan kesepakatan, kedua belah pihak “memilih” Laut Jawa sebagai arena pertempuran.

Dari segi persenjataan armada Jepang jauh lebih kuat dibanding armada Sekutu. Kapal penjelajah berat Jepang memiliki 10 meriam berkaliber 8 inci, sementara kapal penjelajah berat Sekutu hanya memiliki 8 meriam berkaliber 8 inci ditambah kapal penjelajah ringan yang hanya memiliki 6 meriam dengan kaliber yang sama.

Pertempuran yang dimulai sekitar pukul 16:00 waktu setempat itu berjalan kurang seimbang. Unggul secara teknis dari kapal-kapal perang Sekutu, armada Jepang mengambil banyak keuntungan dari pertempuran sengit yang berlangsung selama kurang lebih 7 jam itu. Kalah moral karena terus terpukul mundur sejak Januari di berbagai front menghadapi bala tentara Jepang, juga merupakan salah satu faktor penting yang mengakibatkan Sekutu mengalami kekalahan telak dalam pertempuran Laut Jawa.

Penjelajah berat Inggris HMS Exeter tenggelam, 1 Maret 1942 dalam pertempuran Laut Jawa

Dalam pertempuran yang sangat menguras energi itu Sekutu mengalami kerugian yang tidak kecil. Armada Jepang berhasil menenggelamkan 2 kapal penjelajah ringan dan 3 kapal perusak Sekutu, ditambah dengan 1 kapal penjelajah berat Sekutu yang rusak berat terkena hantaman meriam 8 inci. Lebih dari itu Sekutu juga kehilangan sekitar 2.300 pelaut yang gugur dalam pertempuran Laut Jawa.

Kerugian pihak Jepang jauh lebih kecil. Tak satupun kapal perang Jepang yang berhasil ditenggelamkan oleh kapal-kapal perang Sekutu. Hanya 1 kapal perusak yang ‘penyok’ berat akibat terkena tembakan meriam kapal Sekutu. Korban jiwa di pihak Dai Nippon juga jauh lebih kecil. Tercatat hanya 36 pelaut Jepang yang gugur dalam pertempuran itu.

Menjelang tengah malam, kapal-kapal perang Sekutu yang masih tersisa segera menarik diri dari arena pertempuran dan menjauh dari jangkauan tembakan peluru meriam armada Jepang. Namun, mereka—yang tersadar bahwa Laut Jawa tak lagi dapat dipertahankan—tidak kembali ke pangkalan Surabaya, melainkan langsung menuju Darwin, Australia, dengan membawa memori yang amat getir.

Laut Jawa—sebagai jantung perairan Nusantara—telah dikuasai armada Jepang. Tidak ada lagi penghalang bagi serangan dan pendaratan amfibi bala tentara ke pantai utara Jawa. Satu-satunya “keberhasilan” armada Sekutu dalam pertempuran Laut Jawa adalah tertundanya pendaratan amfibi pasukan Jepang ke pantai utara Jawa. Dengan demikian, sebagian tentara gabungan Sekutu di Pulau Jawa kini harus mempersiapkan diri untuk melakukan pertempuran di darat melawan serdadu Jepang—tanpa perlindungan dari armada mereka yang telah dipukul mundur ke Australia. [] Disarikan dari berbagai sumber. Bersambung.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here