Mengenang 75 Tahun Jatuhnya Hindia Belanda (3 habis)

0
289
Panglima Tentara ke 16 Jepang Letnan Jenderal Hitoshi Imamura (kanan) dan Hein ter Poorten Panglima KNIL (kiri) dalam rapat persiapan penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda di Pangkalan Udara KNIL, Kalijati, 9 Maret 1942.

Nusantara.news, Jakarta

      “…jikalau tanda­-tanda yang sekarang tertampak itu tidak menyalahi perhitungan manusia, perang Pacific itu satu ketika tentu akan meledak!”
   “Kita tidak mengatakan bahwa perang Pacific itu tahun ini akan pecah. Kita tidak pula    mengatakan bahwa ia sebentar lagi akan meledak. Kita hanyalah memperingatkan, bahwa dengan adanya persaingan Amerika, Jepang dan Inggeris itu, peperangan itu akanterjadi.”
            Soekarno, Indonesia Menggugat (Pledoi Soekarno dalam sidang pengadilan negeri Kolonial Hindia Belanda, Bandung, 1930)

 

Menjelang kejatuhan Hindia Belanda, para pemimpin pergerakan nasional Indonesia tengah menjalani pembuangan. Soekarno diasingkan di Bengkulu, sementara Hatta dan Sjahrir diasingkan di Banda Neira, Maluku. Pemerintah Hindia Belanda sendiri tidak punya rencana khusus terhadap mereka bilamana Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang. Ancaman invasi militer asing ke Hindia Belanda benar-benar tak pernah terbayangkan sebelumnya di benak penguasa di Batavia. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kolonial Belanda sebenarnya tidak memiliki visi geopolitik, sebagaimana negeri penjajah lainnya, seperti Inggris, misalnya.

Ketika ada usulan dari kalangan internal di pucuk pimpinan pemerintah Hindia Belanda agar mengungsikan ketiga tokoh pergerakan itu ke Australia situasinya sudah terlambat. Pada awal Frebruari 1942 balatentara Jepang berhasil merebut sebagian wilayah Hindia Belanda, terutama di luar Jawa.

Keputusan-keputusan strategis dari pemerintah Kerajaan Belanda yang saat itu berada dalam pengungsian di Inggris—karena negeri mereka diduduki Jerman—sulit diambil dalam kondisi yang super genting ini. Hal ini membuat pemerintah Hindia Belanda di Batavia mengalami semacam disorientasi. Hanya Hatta dan Sjahrir yang sempat “diselamatkan” oleh pemerintah Hindia Belanda dari Banda Neira ke Batavia. Ketika ada rencana untuk mengungsikan Soekarno dari Bengkulu ke Batavia situasi peperangan ternyata berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan.

Rencana pemindahan Soekarno dari Bengkulu ke Batavia menjadi berantakan bersamaan dengan munculnya unit-unit serdadu Jepang dari Tentara ke 25 yang menjejakkan sepatu lars mereka di pantai Merak, Indramayu dan Rembang tepat pada tanggal 1 Maret menyusul kemenangan mereka dalam pertempuran Laut Jawa. Dalam arti militer, kehadiran serdadu Jepang di pantai utara Jawa merupakan sebuah pertanda buruk bagi pemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian, runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda di bumi Nusantara yang telah dibangun selama ratusan tahun itu kini hanya tinggal hitungan hari.

Selain memindahkan ibukota dari Batavia ke Bandung yang dilakukan secara tergesa-gesa, unit-unit militer Belanda dan tentara Sekutu yang masih tersisa dimobilisasi untuk menghadapi bala tentara Jepang. Pasukan Sekutu yang saat itu dikonsentrasikan di Jawa bagian barat terdiri dari 3 divisi infantri KNIL dengan jumlah total pasukan sebanyak 93.000 orang, 5.000 tentara Inggris, 3.000 tentara Australia dan 750 tentara AS.

Rumah bersejarah tempat penandatanganan dokumen penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda ke Jepang, berlokasi di Kompleks Pangkalan TNI AU Suryadarma, Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Dalam pertempuran selama kurang-lebih seminggu, Sekutu di bawah pimpinan Gubernur Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer akhirnya menyerah tanpa syarat pada tanggal 9 Maret 1942 kepada Jepang yang diwakili oleh Letjen Hitoshi, Panglima Tentara ke 16. Penandatanganan dokumen dilakukan di kawasan pangkalan Angkatan Udara KNIL, Kalijati, Subang. Tjarda sendiri akhirnya tercatat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda terakhir. Ia menjabat sebagai Gubernur Jendral sejak 1936.

Selama masa pendudukan Jepang wilayah eks Hindia Belanda dibagi ke dalam tiga wilayah yurisdiksi militer. Jawa dan Madura ditempatkan di bawah kendali Tentara Ke 16, Sumatera bersama semenanjung Malaya di bawah kekuasaan Tentara Ke 25. Tentara Ke 16 dan Tentara Ke 25 merupakan bagian dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Rikugun). Wilayah kepulauan eks Hindia Belanda bagian timur berada di bawah kekuasaan komando Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun).

Kolonialisme Barat di Nusantara telah digantikan oleh kolonialisme “Saudara Tua”. Tetapi, kolonialisme tetap kolonialisme, apapun warna kulitnya. Ia adalah sistem penindasan ekonomi-politik yang terorganisir. Ditaklukkannya Hindia Belanda oleh Jepang merupakan sepenggal episode sejarah panjang bumi Nusantara yang selalu “menarik perhatian” berbagai kekuatan dunia sejak ratusan tahun sebelumnya.

Bumi Nusantara: Arena Pertarungan Global

Tanggal 8 Maret tiga perempat abad yang lalu selalu dikenang sebagai hari yang menandai tamatnya kekuasaan kolonial Belanda di bumi Nusantara. Dalam rangakaian invasinya ke Asia Tenggara, bala tentara Jepang telah berhasil menggulung 3 imperialis Barat yang telah bercokol selama ratusan tahun di wilayah itu: Perancis di Indochina (Vietnam, Kamboja dan Laos); Inggris di Malaya, Serawak, termasuk Brunei, dan Burma (sekarang Myanmar); serta Belanda di kepulauan Nusantara.

Dari sudut kepentingan Jepang, penguasaan atas wilayah Hindia Belanda tidak bisa tidak kecuali harus menyingkirkan kekuatan Barat dari wilayah itu. Kesinambungan hidupnya industri dan ekonomi Jepang yang sebagian besar tergantung dari pasokan SDA eksternal sedemikian rupa telah membuat negeri itu “memilih” kepulauan Nusantara sebagai sumber penghidupan. Dengan demikian, posisi kepulauan Nusantara memiliki dimensi ekonomi dan politik internasional yang sangat kuat.

Tidak mengherankan jika kekayaan sumber daya alam di kepulauan Nusantara telah menjadi daya tarik tersendiri bagi negeri-negeri lain untuk menaklukan wilayah ini dari abad ke abad. Perang Asia Timur Raya sebagai salah satu perang terbesar di abad ke 20, berdasarkan analisis sejarah, sama sekali tidak dapat dipisahkan dari faktor kekayaan SDA di kepulauan Nusantara yang begitu melimpah.

Pertarungan antar berbagai kekuatan eksternal untuk memperebutkan kekayaan SDA di bumi Nusantara, dengan demikian,  menjadi salah satu faktor sentral di balik meletusnya perang   Asia Timur Raya. Faktor geopolitik sangat kuat mewarnai positioning kepulauan Nusantara dalam segala aspek.

Dampak geopolitik dari pecahnya Perang Asia Timur Raya bagi negeri-negeri di Asia Tenggara adalah bahwa gerakan sapu bersih bala tentara Dai Nippon di kawasan ini telah membuat negara-negara eks kolonial tak lagi dapat kembali berkuasa seperti sebelum perang. Ekspansi militer Jepang telah membuat kolonialisme Barat sulit memulihkan posisinya di wilayah ini, sekalipun Jepang akhirnya kalah dalam perang Asia Timur Raya di tahun 1945.

Di masa lalu, upaya dominasi dari berbagai kekuatan eksternal atas kepulauan Nusantara dilakukan dengan cara pertarungan fisik (militer). Kini, pertarungan kekuatan-kekuatan eksternal untuk menguasai wilayah yang dikaruniai limpahan kekayaan SDA itu dilakukan dengan metoda yang jauh lebih canggih dan tidak selalu tampak melalui mata telanjang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here