Mengenang Sri Ajati yang Membuat Chairil Anwar Patah Hati

0
2477
Sri Ajati di usianya yang ke-83. Masih tampak sisa-sisa kecantikan yang membuat Chairil Anwar tergila-gila/ Foto Istimewa

Nusantara.news, Jakarta – Hingga Sang Penyair Legendaris Indonesia Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949, Sri Ajati tidak pernah tahu kalau ada puisi yang khusus dipersembahkan untuknya :

SENJA DI PELABUHAN KECIL – Chairil Anwar
Buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
diantara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

Kritikus Sastra HB Jassin menilai sajak itu berisi kerisauan hati, kesedihan begitu mendalam yang tak terucapkan. Sri Ajati yang begitu mempesona adalah gadis tinggi semampai, hitam manis, rambut berombak dan memiliki kerling mata yang dalam. “Tidak ada agaknya pemuda sehat yang tidak terpukau oleh kecantikannya,”ulas Jassin dalam buku “Pengarang Indonesia dan Dunianya” (Gramedia, Jakarta, 1983).

Cinta Chairil kepada Sri Ajati sangat platonis. Dalam perbincangannya dengan Alwi Shahab, seorang jurnalis yang melacak dirinya, Ajati yang sempat berkarir menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu mengaku baru tahu kalau ada puisi untuknya setelah diberi tahu oleh Mimiek, putri angkat tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sutan Syahrir, yang bertandang ke rumahnya di Serang sebelum dirinya pindah ke Magelang.

Sri Ajati mengaku kenal Chairil Anwar saat menjadi penyiar radio Jakarta Hoso Kyokam milik pemerintah Jepang di Jakarta. Saat penjajahan Hindia Belanda radio itu bernama Nirom. Kini sudah menjadi Stasiun Radio RRI di Jl. Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Di tempat itu Ajati sering bertegur sapa dengan Chairil Anwar yang bergaul dengan sejumlah seniman di sana.

Selama bergaul dengannya, Chairil tak pernah mengungkapkan perasaan hatinya. Sri Ajati juga sudah bertunangan dan akhirnya menikah dengan RH Soeparno, seorang dokter. Begitu menikah keduanya pindah ke Serang, sesudah itu suaminya pindah tugas di sebuah rumah sakit militer Magelang.  Sejak itu dia tidak pernah bertemu Chairil Anwar lagi.

Nenek yang wafat tahun 2009 di usianya yang ke-90 itu mengaku pernah ngobrol lama dengan Chairil Anwar di kediamannya, Jl Kesehatan V, Petojo, Jakarta Pusat.

“Saya duduk di korsi rotan dan dia duduk di lantai sebelah kanan saya. Ia bercerita baru saja mengunjungi seorang teman bernama Sri. Sang gadis yang bernama Sri memakai baju daster (kala itu disebut housecoat). Ia bercerita sambil memegang daster yang saya pakai. Chairil bercerita, daster yang dipakai Sri dari sutera asli. Kebetulan daster yang saya pakai juga dari sutera asli. Kala itu saya tidak tahu siapa yang dimaksud Chairil gadis bernama Sri itu,” kenang Ajati kepada Alwi Shahab.

Sri Ajati mengaku heran, kenapa Chairil membuat sajak untuknya. Padahal, ketika itu ada sejumlah teman wanitanya yang lain, seperti Gadis Rasyid, Nursamsu, dan Zus Ratulangi. Chairil, ketika itu juga dekat dengan Usmar Ismail, Rosihan Anwar dan HB Jassin. Singkat cerita, lingkungan pergaulan antara dirinya dan Chairil Anwar kurang lebih sama.

Namun Sri Ajati mengaku terkesan dengan sajak-sajak Chairil Anwar. Hanya saja, penyair kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini dinilai tidak pandai mengurus diri sendiri.”Rambutnya acak-acakan. Matanya merah, karena kurang tidur. Di tangan kiri dan kanannya penuh buku-buku. Memang Chairil dikenal sebagai kutu buku,” tutur Ajati kepada Alwi, dua tahun menjelang wafatnya.

Toh begitu Sri Ajati menilai Chairil seorang seniman yang jujur, tak tahan dan tidak bisa melihat hal-hal yang kurang baik. ”Kalau saja dia hidup pada zaman Orde Baru, saya kira pasti dia ditahan karena dia akan berani mengkritik hal-hal yang dianggapnya kurang baik dan kurang benar,” kata nenek yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis itu.

Kepada Alwi Sri Ajati mengaku pernah sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat Sekolah Menengah. MULO dalam Bahasa Indonesia berarti Pendidikan Dasar yang Diperluas. Setelah lulus dari MULO, Sri Ajati melanjutkan kuliah ke Fakultas Sastra UI. Namun mutu pendidikan zaman Belanda, terang Ajati, lebih bermutu. Bayangkan saja, pelajar setingkat MULO sudah menguasai Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris.

Meskipun lahir di Tegal, tapi Sri Ajati lebih merasa sebagai anak Betawi. Sebab sejak usia 8 tahun sudah dibawa ayahnya ke Jakarta dan tinggal di Gang Seha, Pacenongan. Dia juga pernah tinggal di Gang Adjudant, kini Jl. Kramat II, Kwitang. Ayah Sri Ajati dan puluhan keluarga lainnya memang mengontrak rumah dari warga keturunan Arab bermarga Alkaff.

Begitulah sekelumit kisah Sri Ajati, perempuan tinggi semampai yang membuat Chairil Anwar tergila-gila dan patah hati. Kini Ajati sudah menyusul Chairil di alam barza. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan tempat yang mulia bagi keduanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here