Mengenang Winnie Mandela yang Wafat di Usia ke-81

1
164
Winnie dan mantan suaminya Nelson Mandela yang dikenal sebagai ikon perjuangan anti apartheid di negaranya

Nusantara.news, Jakarta – Winnie Madikizela-Mandela baru saja wafat pada Senin Pahing (2/4) di usianya yang ke-81 tahun. Mendiang dan mantan suaminya Nelson Mandela dikenang sebagai simbol perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan selama lebih dari tiga dasawarsa. Ribuan pelayat mendatangi rumahnya di Soweto, Johannesburg, saat berita kematiannya tersebar.

Juru Bicara Keluarga Victor Dlamini menyebutkan, pada Senin (2/4) Nyonya Mandela berpulang dengan damai di sore hari yang dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang yang dicintai” setelah lama sakit – yang telah melihat dia keluar masuk Rumah Sakit sejak awal tahun ini.

Mendiang Winnie Mandela yang lahir di Eastern Cape – kini disebut Trankei – pada 26 September 1936 dengan nama Nomzamo Winifred Zanyiwe Madikizela. Sejak menikah dengan pejuang anti-apartheid Nelson Mandela, selanjutnya dikenal dengan nama Winnie Mandela.

Meskipun pernikahan keduanya berakhir dengan perceraian, namun Winnie yang mendapatkan dua putri dari suaminya tetap mempertahankan nama Mandela hingga akhir hayatnya.

Winnie saat menyambut pembebasan suaminya

Saat bertemu dengan calon suaminya – Nelson Mandela – Winnie dikenal sebagai pekerja sosial yang terlatih. Kedua pasangan ini menikah pada 1958. Setelah pernikahan berjalan 5 tahun, tepatnya pada 1963, suaminya dipenjara dengan vonis hukuman seumur hidup. Saat suaminya dipenjara itu Winnie berperan terus mengobarkan cita-cita suaminya dari luar penjara. Acap kali pula Winnie dijebloskan ke penjara karena peran pentingnya dalam menggelorakan keadilan dan kesetaraan di negerinya.

Bunda Bangsa

Atas perjuangannya itu Winnie Mandela diabadikan Namanya sebagai “Bunda Bangsa”.  Presiden Afrika Selatan (Afsel) Cyril Ramaphosa – yang dipuji Winnie Mandela sebelum dirinya masuk Rumah Sakit – menyebutnya sebagai “suara pembangkangan” terhadap pemerintah minoritas kulit putih. “Dalam menghadapi eksploitasi, mendiang adalah seorang pejuang keadilan dan kesetaraan,” piji Cyril.

“Dia adalah simbol abadi dari keinginan rakyat kita untuk bebas,” lanjutnya.

Pensiunan Uskup Agung Afsel dan Peraih Penghargaan Nobel Perdamaian Desmond Tutu mengatakan dia adalah “simbol perjuangan melawan apartheid. Pembangkangannya yang berani sangat menginspirasi untuk saya dan untuk segenap pejuang kesetaraan,” tandas Desmond Tutu yang juga tokoh fenomenal di Afsel itu.

Menteri Energi Jeff Radebe – membacakan pernyataan atas nama keluarga – memberikan penghormatan kepada “seorang raksasa yang melangkahi lanskap politik Afrika Selatan”. “Saat ANC – African National Congress – mencelupkan spanduk revolusioner kami sebagai tanda hormat kepada ikon perjuangan pembebasan kami yang besar ini,” tuturnya.

“Keluarga Mandela sangat bersyukur atas karunia hidupnya dan bahkan ketika hati kami hancur saat dia meninggal, kami mendesak semua orang yang mencintainya untuk selalu mengenang perempuan Afsel yang paling luar biasa ini,” lanjut Radebe.

Ketua Kongres Nasional Afrika (ANC) Gwede Mantashe mengatakan :”Dengan kepergian Mama Winnie, (kami telah kehilangan satu di antara sedikit orang yang masih tersisa dari generasi pejuang dan ikon kami. Mendiang adalah satu di antara mereka yang akan memberi tahu kami apa itu salah dan benar, dan kita telah kehilangan panduan itu.”

Kebanggaan Afrika

Dalam tulisan berjudul “Kebanggaan dan Suka Cita Afrika Selatan” analis BBC News Johannesburg Milton Nkosi mengaku mengenal Winnie Madikizela-Mandela secara pribadi. Keduanya tinggal di lingkungan yang sama di Soweto. Winnie – tulis Nkosi – bagi banyak orang adalah kebanggaan dan sukacita banga – sebuah ikon dalam dirinya – terlepas dari fakta dia adalah mantan istri seorang tokoh fenomenal Nelson Mandela.

Bahkan Nkosi menyebut Winnie sebagai pekerja sosial kulit hitam pertama di Afsel. Cinta dan keinginannya untuk membantu mereka yang membutuhkan selalu “membakar” dari relung hatinya. Mendiang selalu bicara manis meskipun menghadapi kebrutalan segregasi rasial yang sangat luar biasa. Setiap polisi datang ke rumahnya di Orlando West, dia menghadapinya sendiri. Keberaniannya memang luar biasa.

Winnie tak pernah jera memperjuangkan pembebasan suaminya

Dia tidak pernah menyerah. Tidak satu inci pun – dan kadang-kadang, ini membuatnya dalam kesulitan. Sebagai aktivis anti-apartheid, Mosioua Lekota mencatat dalam pembelaannya: “Mereka yang tidak melakukan apa pun di bawah apartheid tidak pernah membuat kesalahan.”

Winnie Mandela, tulis Nkosi, akan dikenang karena perjuangannya berlawan sistem yang tidak manusiawi, bukan karena kesalahan yang pernah dia buat dalam pertarungan itu. Karena memang Winnie Mandela saat memimpin ANC pernah diperkarakan penegak hukum pemerintahan kulit putih karena menghukum pengkhianat dengan sangat kejam.

Kontroversi Perkara

Pada akhir 1980-an – menjelang Mandela keluar dari Penjara – Winnie dituntut atas dakwaan menggerakkan anak buahnya melakukan teror di Soweto. Untuk menjadi pelajaran bagi anggota ANC yang berkhianat, Winnie dikabarkan mendukung praktek “necklacing” – menempatkan ban terbakar di sekitar leher informan yang dicurigai – yang dilakukan oleh anak-anak buahnya yang sudah ditangkap polisi.

Winnie bersamatim pengacara dalam sidang pengadilan yang kontroversial

Winnie juga pernah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Kulit Putih karena kasus penculikan dan dijatuhi hukuman 6 tahun penjara untuk kasus kematian seorang militan kota – Stompie Seipei yang berusia 14 tahun. Winnie selalu menolak terlibat dalam perkara itu – sumber lai mengatakan kelompok militan kota sengaja diciptakan oleh intelijen pemerintahan kulit putih untuk merusak reputasi Mandela – dan hukumannya pun dikurangi menjadi denda.

Suaminya Nelson Mandela yang dibebaskan dari penjara pada Februari 1990 senantiasa mendampingi persidangan istrinya. Tapi dua tahun berikutnya pernikahan mereka diambang kehancuran. Keduanya benar-benar bercerai pada tahun 1996. Meskipun bukan lagi menjadi istri Nelson Mandela, Winnie tetap mempertahankan nama Mandela dan terus menjalin ikatan dengan keluarga mantan suaminya.

Winnie tetap melibatkan diri secara aktif di politik. Dan lagi-lagi Winnie tersandung kasus hukum saat membagi-bagikan uang pinjaman dari perbankan untuk membantu masyarakat miskin yang diabaikan oleh negara. Praktek bagi-bagi uang itu disebut sebagai “Robinhood” yang membawanya berurusan dengan pengadilan pada tahun 2003.

Terlepas dari “dosa putih” yang sempat dialaminya dan membuatnya divonis hukuman percobaan selama 3 tahun 6 bulan, namun – bukan saja masyarakat Afsel melainkan juga – dunia akan mengenang Winnie Madikizela-Mandela sebagai simbol kuat perjuangan anti-apartheid Afsel ketika suaminya dibuang dan dipenjara – dan Winnie tidak pernah jera menuntut pembebasan suaminya.

Berkat perjuangannya pula, perlawanan anti-apartheid – dengan sosok ikonik Nelson Mandela –  menjadi perhatian dunia. Karena tekanan dunia internasional itu pemerintahan kulit putih Afsel dipaksa berunding dan bersedia menyerahkan pemerintah kepada siapa pun pemerintahan hasil pemilihan umum yang demokratis. Karena kulit hitam sebagai mayoritas maka ANC – partai yang didirikan warga kulit hitam – tampil sebagai pemenang yang mengantarkan elson Mandela sebagai pemimpin kulit hitam pertama di Afsel.

Tentu, semua itu tidak terlepas dari perjuangan Winnie yang meskipun dikaitkan dengan sejumlah kontroversi namun tidak mengurangi sikap hormat warga kulit hitam Afsel yang kini mengendalikan kekuasaan di negerinya. []

1 KOMENTAR

  1. Winnie, tentu, tokoh hebat sll berkelindan dng kontroversi … satu hal yg menjadikannya ikon abadi: seseorang yg tdk pernah berjuang utk diri sendiri, dia tlh meninggalkan kebaikan dan kebenaran!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here