Mengerikan, Ada 3.937 Warga Jatim Menjadi Bandar Narkoba  

0
409
Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek Diskotek MG, Jalan Tubagus Angke, Jakarta, Minggu (17/12/2017). Dalam diskotek tersebut terdapat laboratorium atau pabrik pembuat narkoba cair. Petugas BNN mengamankan 120 orang pengunjung diskotek yang terindikasi positif menggunakan narkoba serta sejumlah barang bukti. Foto: antara

Nusantara.news, Jawa Timur – Belum lama ini heboh dibongkar pabrik pembuat narkotika di sebuah diskotek Jalan Tubangus Angke, Jakarta Barat. Aparat gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri menemukan puluhan botol narkoba cair. Diketahui diskotek tersebut sudah berdiri selama dua tahun. Diduga, dalam rentang waktu itu pula mereka memproduksi narkoba.

Pengelola diskotek juga memberlakukan keanggotaan kepada para pengunjung. Gunanya, setiap pengunjung bisa bertransaksi narkoba yang diedarkan di dalam. Sebab petugas berhasil menemukan 80-an botol air mineral yang berisi narkoba cair di diskotek tersebut. Hasil penelitian, cairan tersebut mengandung amfetamin dan metamfetamin.

Saat ini Indonesia sudah masuk dalam situasi darurat narkoba. BNN mencatat, masyarakat Indonesia sekarang ini masuk dalam fase ketergantungan narkoba hampir mencapai 6 juta orang. Angka ini belum termasuk pengguna ganda baik pengedar maupun masyarakat yang masih coba-coba.

Dalam penelitian yang dilakukan BNN bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) Depok, hampir 6 juta masyarakat aktif masuk dalam jeratan narkotika berbagai jenis. Ditambah lagi rentan usia pengguna narkoba semakin meluas.

Akibat banyaknya pengguna terlebih pecandu narkoba, mengakibatkan bandar maupun mengedar narkoba semakin banyak memasukkan barang haram itu ke Tanah Air. Sehingga petugas BNN maupun polisi harus bekerja ekstra untuk membendung masuknya narkoba.

Seharusnya bonus demografi yang mengalami usia produktif harus diberdayakan. Tapi yang terjadi sebaliknya, para generasi usia produktif mal;ah diracuni narkoba. Hal ini tentu bisa menghancurkan generasi muda.

Penggunaan narkotika di Indonesia merupakan terbesar di tingkat Asia. Bahkan dari penelusuran BNN, konsumen menggunakan seluruh 65 jenis narkotika. Padahal jika dibandingkan negara lain, hanya mengonsumsi 5 hingga 6 jenis narkoba saja.

Di Jawa Timur, kondisi darurat narkoba sudah sampai dalam taraf memprihatinkan. Dari data yang dikeluarkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Jawa Timur, tercatat dari 23.765 penghuni Lapas dan Rutan, sebanyak 3.937 di antaranya adalah bandar narkoba.

Menurutnya, 3.937 bandar narkoba yang menjadi terpidana itu merupakan kasus dalam satu tahun. “Jumlah itu dalam kurun waktu satu tahun, dan tersebar di seluruh Lapas dan Rutan di Jawa Timur,” ujar Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Timur Susy Susilowati, Senin (18/12/2017).

Susy menambahkan jumlah tersebut ada yang masih jalani persidangan, ada yang sudah inkrah jadi tinggal menjalani hukuman. “Karena perkara narkoba tidak dapat potongan hukuman atau remisi jadi jumlahnya sangat banyak,” ujarnya. 

Sementara itu Karutan Medaeng Bambang Hariyanto menyebut dari 2.717 tahanan yang ada saat ini, 50 persen merupakan kasus narkoba. “Kasus narkoba sangat dominan, 50 persen tahanan di Rutan Medaeng merupakan kasus narkoba,” ujarnya singkat.

Yang mencengangkan justru penggunaan narkoba. Disebutkan sebanyak 90.000 orang memakai barang haram tersebut. Peningkatan pengguna narkoba di Jawa Timur benar-benar mengerikan, karena mencari 0,02 persen dari total seluruh penduduk Jatim yang totalnya 40 juta jiwa.

Diperkirakan pengguna narkoba di Jawa Timur mencapai 568.304 pengguna. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak kedua di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 212.704 atau 37 persennya masih dalam tahap I atau coba pakai. Sedangkan 263.843 jiwa atau 46 persennya adalah dalam tahap II atau teratur pakai. Sedangkan tahap III adalah tahap pecandu non suntik mencapai 82.668 orang, dan terakhir sebanyak 9089 jiwa adalah pecandu suntik.

Untuk tahap I dan II masih bisa disembuhkan dan diselamatkan. Namun bagi pengguna tahap III dan IV cukup sulit disembuhkan. Minimal butuh waktu 6 bulan atau 3 tahun baru bisa lepas.

Untuk diketahui angka prevalansi pengguna narkoba secara nasional tahun 2014 sebesar 2,5% dari jumlah penduduk atau sekitar 4 juta orang yang menggunakan narkoba. Belum lagi tahun 2015 yang naik 0,1% atau sekitar 4,1 juta pengguna narkoba. Dengan kata lain negara dirugikan sebesar Rp 63 triliun yang dibelanjakan untuk narkoba.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur (Jatim), Brigadir Jenderal Polisi Fatkhur Rahman mengungkapkan, di Jatim ada sekitar 102 jaringan bandar narkoba. Dari total 102 jaringan bandar narkoba tersebut, kata Fatkhur, sebagian besarnya dikendalikan dari balik Lapas. “Dari 102 jaringan itu, 70 persen di antaranya dikendalikan dari balik Lapas,” kata Fatkhur.

Fatkhur mengatakan, selama 2017, tepatnya dari Januari hingga Oktober, BNNP Jatim telah mengungkap sekitar 30 jaringan. Dari pengungkapan jaringan-jaringan bandar narkoba tersebut, 53 orang tersangka bisa diamankan, di mana lima orang diantaranya meninggal dunia, karena melakukan perlawanan saat dilakukan tindakan oleh petugas.

“Jadi tersangka yang kita amankan ada 48 orang. Lima meninggal dunia karena harus dilakukan tindakan tegas dan keras yang akhirnya meninggal dunia. Kalau totalnya 53 orang tersangak selama 2017,” ujarnya.

Fatkhur menargetkan, di dua bulan sisa 2017 ini, BNNP Jatim bisa kembali mengungkap sekitar tiga jaringan bandar narkoba. “Insya Allah dalam dua bulan ke depan mudah-mudahan dua atau tiga jaringan bisa kita ungkap lagi,” kata Fatkhur.

Ia menjelaskan, kebanyakan narkoba yang beredar di Jawa Timur berasal dari tiga kota utama. Ketiga kota yang dimaksud adalah Jakarta, Batam dan Medan. Adapun pengirimannya dilakukan dengan bermacam-macam cara, seperti lewat darat, udara, laut, dan juga melalui jasa pengiriman paket. “Kita peringatkan kepada para bandar yang masih berani mengedarkan narkoba di Jatim supaya berpikir dua kali. Berhenti atau mati,” ujar Fatkhur.

Ditegaskan lagi, dari jumlah pengguna narkoba tersebut, fakta mengejutkan justru jumlah pelajar yang menjadi pengguna narkoba. “Dari data yang ada di BNNP, 20 persen pengguna narkoba kalangan pelajar. Baik SMA maupun mahasiswa,” ucapnya, belum lama ini.

Saat ini, imbuh Fatkhur, jumlah pengguna narkoba di Jatim menempati peringkat kedua setelah Provinsi Jawa Barat. Jumlahnya kurang lebih sekitar 900 ribu orang di Jatim. Dari jumlah tersebut, didominasi oleh usia produktif, yakni 15 hingga 35 tahun.

“Kami mengimbau agar pelajar tidak salah dalam bergaul. Meski banyak pengguna narkoba dari kalangan pelajar, tidak ada kalangan pelajar yang menjadi pengedar,” ujar dia.

Ditambahkan Fatkhur, fenomena narkoba di Jatim membuat BNN lebih gencar melakukan edukasi ke sekolah, kampus, dan lingkungan masyarakat. BNN Jatim juga mengagendakan kampanye di lingkungan pekerja.

Memutus Mata Rantai Narkoba

Sejauh ini BNNP Jatim dan Polri telah berusaha memutus mata rantai jaringan peredaran narkoba. Terbaru, BNNP Jatim berhasil membongkar sindikat narkoba jenis sabu seberat 1000 gram asal Mojokerto.

Jaringan Mojokerto ini diduga dikendalikan dari Lapas Porong dengan pengendali atas nama Rafa. Saat itu tersangka mengaku akan melakukan pengiriman ke Mojokerto kepada seorang penerima yang sudah tidak asing bagi petugas BNNP karena sekurangnya sudah 3 kali menjemput paket narkotika dari jaringan lain, melalui jalur Bangkalan – Surabaya – Mojokerto. Petugas terpaksa melakukan tindakan tegas, dan tersangka dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara namun nyawanya tidak tertolong.

Sebelumnya BNNP Jatim juga menembak mati seorang bandar narkoba di Sidoarjo, Jawa Timur, setelah menangkap dua orang lainnya dalam penggerebekan di sebuah hotel di Jalan Diponegoro, Surabaya. Seorang bandar narkoba yang ditembak mati berinisial DBS, usia 50 tahun, warga Jalan Hangtuah, Sidoarjo, Jawa Timur. BNNP Jatim terpaksa menembaknya karena berupaya melawan petugas.

Barang bukti yang diamankan petugas dari tersangka seberat 1,445 kilogram sabu-sabu. Dari bungkusnya pihak BNNP Jatim menduga narkotika sabu-sabu ini berasal dari Cina yang dikirim ke Malaysia, kemudian masuk ke Indonesia melalui Aceh, kemudian singgah di Medan, sebelum akhirnya dikirim ke Jawa Timur. Mereka bagian dari jaringan narkoba Aceh-Medan.

BNNP Jatim sebelumnya menemukan data penumpang Lion Air yang identik dengan tersangka IRW dan MR, yang berangkat dari Bandara Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara, dan tiba di Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sedati, Kabupaten Sidoarjo.

Keduanya lolos dari pemeriksaan petugas bandara karena narkoba sabu-sabu yang dibawanya disembunyikan dengan cara diinjak di sepatu yang dikenakan oleh kedua orang ini. Petugas lantas membuntuti IRW dan MR saat turun di Bandara Juanda, hingga keduanya naik angkutan umum menuju sebuah hotel di kawasan Jalan Diponegoro, Surabaya.

Di tempat terpisah, Polda Jatim memusnahkan barang bukti tindak pidana narkoba. Lebih dari 5 kg sabu, 195 pohon ganja dan 3 juta obat daftar G. Pemusnahan barang bukti dipimpin Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin dan didampingi Direktur Reserse Narkoba Kombes Pol Sentosa Ginting, serta pejabat instansi lain seperti Wakil Kepala Kejati Jatim, Kasgartab III Surabaya, BPOM, dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, di depan barak Dalmas, komplek Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Selasa (19/12/2017).

Barang bukti yang dimusnahkan berasal dari sitaan yang dilakukan Ditreskoba Polda Jatim, Satreskoba Polrestabes Surabaya, Polresta Sidoarjo, Polres Lumajang dan Polres Pasuruan. “Sesuai instruksi dari Mabes, untuk memusnahkan barang bukti narkoba secara serentak. Barang bukti yang dimusnahkan ini ungkap kasus dari Polda dan Polres jajaran,” kata Machfud Arifin.

Barang bukti tersebut disita dari total 6 kasus dan 12 tersangka (8 laki dan 4 perempuan). Sedangkan seorang tersangka yang kedapatan membawa barang bukti 5 kg sabu dan tewas terkena tembakan polisi. “Kita akan sosialisasi tentang bahaya narkoba,” ujarnya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pernah mengatakan, penyelundupan narkoba ke Tanah Air menunjukkan bahwa Indonesia masih lemah dari segi aturan, dan tindakan terhadap para bandar sehingga mereka berbondong-bondong menjajakan barangnya ke Indonesia.

“Selain memang potensial market, kita mungkin dianggap lemah untuk bertindak, hukum kita dianggap lemah, sehingga mereka merajalela di Indonesia,” kata Tito, belum lama ini.

Oleh karena itu, dia menegaskan, akan menjalin kerjasama dengan sejumlah instansi untuk memperkuat sistem pengamanan khususnya di daerah perbatasan yang rawan dijadikan pintu gerbang penyelundupan barang ilegal.

Tito berjanji akan menindak tegas dan menembak mati para bandar narkoba khususnya WNA yang berani coba-coba menyelundupkan barangnya ke wilayah Indonesia. “Bahkan saya sudah sampaikan (kepada anak buah) selesaikan secara adat, artinya kalau melawan tembak,” pungkasnya.

Senada, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso atau Buwas mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Indonesia yang masih darurat narkoba.

Menurutnya, Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak tahun 1971. Ketika itu, Presiden RI ke-2 Soeharto menyatakan, Indonesia sedang dalam kondisi darurat narkoba.

“Untuk kesekian kalinya presiden kita, beliau sudah menyampaikan Indonesia dalam kondisi darurat narkoba. Sampai hari ini masih darurat narkoba,” katanya saat berada di Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Buwas menyebut, dengan banyaknya peredaran narkoba saat ini, berarti tidak ada perubahan yang terjadi dari tahun 1971 hingga saat ini. “Karena tahun 71 Pak Harto (Presiden Soeharto) sudah mengatakan darurat narkoba,” imbuhnya.

Buwas menjelaskan, meski pada 1971 sudah berstatus darurat narkoba, belum ada upaya signifikan dalam mengatasi status tersebut. Bahkan, kasus yang berkaitan dengan narkoba terus meningkat hingga saat ini. “Jumlah korban semakin besar, perkembangan peredarannya semakin besar. Pemakaiannya semakin besar. Karena kita semua tidak serius menangani masalah narkoba. Kita cukup mendengungkan darurat narkoba, sudah,” ucapnya.

Ia mengatakan, pengaruh narkoba sudah menyentuh setiap lini di setiap daerah di Indonesia. Tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang terbebas dari pengaruh narkoba. “Sekarang kita lihat provinsi mana yang bebas dari narkoba, tidak ada. Kita turun ke kota-kabupaten. Kota-kabupaten mana yang bebas dari narkoba? tidak ada. Kecamatan, tidak ada yang menjamin ada kecamatan yang bebas dari narkoba. Bahkan sampai RT-RW,” tegasnya.

Saking geregetannya terhadap bandar narkoba, Buwas sendiri pernah menegaskan kepada anak buahnya untuk tidak akan segan-segan menembak para bandar dan pengedar narkoba seperti yang dilakukan pemerintahan Rodrigo Duterte di Filipina.

Dalam kacamata Buwas, aksi Duterte positif, sebab tidak memberi peluang bandar narkoba untuk bergerak leluasa. Di Filipina, sejak dilantik Juni silam, Duterte menggelar operasi guna memberantas narkoba. Nyaris 2.000 orang ditembak mati dalam operasi anti-narkoba yang digelar aparat atas perintah Duterte. Meski demikian, kepolisian hanya mengonfirmasi 756 orang yang tewas. Konon, itu pun terjadi karena para bandar berkonfrontasi dengan polisi.

Di sisi lain, kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) mengkritik keras aksi Duterte. Aktivis Human Rights Watch, Phelim Kine, secara khusus menyorot kematian Danicia May, seorang bocah lima tahun yang disebut tewas tertembak dalam operasi anti-narkoba.

May sedang makan siang bersama kakeknya, Maxima Garcia, ketika pria bersenjata memberondong mereka. Sebelumnya, Garcia masuk dalam daftar buruan polisi dalam kasus narkoba.

Kasus Filipina memang mengingatkan pada peristiwa penembak misterius (petrus) yang terjadi di Indonesia di era 1980-an. Saat itu, banyak orang tewas ditembak petrus. Dalih utama operasi itu adalah menjaga keamanan dan ketertiban, dengan sasaran para kriminalis (preman).

Korban tewas saat itu mencapai ribuan orang. Taksiran jumlah korban datang dari Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM, yang menyebut angka kematian akibat petrus mencapai 10 ribu orang. Semua mati tanpa pengadilan. Nah, siapkah Indonesia menjalankan penindakan seperti jaman petrus, tentu targetnya semata-mata adalah bandar narkoba.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here