Mengerucut, Duet Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi

0
419

Nusantara.news, Jakarta – Duet Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi makin mengerucut. Hal ini terindikasi dari pernyataan Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Golkar Nusron Wahid di Jakarta, Kamis (21/12/2017), yang mengatakan terbuka berkomunikasi dengan Partai Demokrat, Hanura, dan PDIP.

Dinamika Pilgub Jabar

Proses pencalonan di Pilgub Jabar penuh dinamika. Jauh lebih dinamis dibanding proses pencalonan Pilgub Jatim. Proses pencalonan Pilgub Jatim bahkan dapat dikatakan sudah tuntas setelah koalisi PDIP-PKB mengusung pasangan Syaifullah Jusuf – Abdullah Azwar Anas (Gus Ipul-Anas), dan Koalisi Partai Demokrat dan Partai Golkar yang mengusung Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak.

Pilgub Jateng juga berpotensi berkembang dinamis. Namun sampai saat ini masih belum sepanas Jabar. Nama-nama dalam bursa Pilgub Jateng sudah bermunculan. Antara lain petahana Ganjar Pranowo,   Komjen Budi Waseso, Bupati Sukohardjo Wardoyo Wijaya, Marwan Jafar, dan mantan menteri ESDM Sudirman Said. Namun,  sampai saat ini baru satu nama yang sudah pasti, yakni nama Menteri ESDM Sudirman Said yang dicalonkan oleh Partai Gerindra.

Dinamika pencalonan di Jabar paling dahsyat. Nama Walikota Bandung Ridwan Kamil jauh hari sebelumnya, sudah ditaksir oleh Partai Gerindra dan PDIP. Tetapi dalam perjalanannya, justru Partai Nasdem  yang pertama menyatakan mengusung Ridwan Kamil, yang rencananya berkoalisi dengan PKB dan PPP dan belakangan muncul Partai Golkar.

Nama Deddy Mizwar juga sempat terombang-ambing. Awalnya didesas-desuskan akan diusung oleh Partai Gerindra untuk dipasangkan dengan kader PKS. Namun, desas-desus itu tak kunjung terealiasi.

Deddy Mizwar akhirnya menjadi kader Partai Demokrat. Setelah itu muncul rencana koalisi antara Partai Demokrat, PAN dan PKS dengan pasangan calon yang akan diusung Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu.

Partai Gerindra sempat mengeluarkan pernyataan soal pasangan ini. Komentar Gerindra adalah, tidak setuju dengan Ahmad Syaikhu sebagai calon wakil gubenur. Komentar ini seolah-olah Gerindra hendak ikut dalam koalisi Demokrat, PAN dan PKS, dan ketidaksetujuannya terhadap Ahmad Syaikhu seolah ingin mendesakkan kadernya sebagai calon wakil.

Belakangan Gerindra muncul dengan nama Mayjen TNI (Purn) Sudrajat sebagai calon gubernur.  Munculnya nama Mayjen TNI (Purn) Sudrajat dapat dibaca bahwa Gerindra ingin menjadi satu poros tersendiri dalam Pigub Jabar.

Nama Mayjen TNI (Purn) Sudrajat sekaligus berpotensi membuat rencana koalisi Demokrat, PAN dan PKS bubar. Sebab, Gerindra mematok Mayjen TNI (Purn) Sudrajat sebagai calon gubernur, sehingga tidak mungkin dipasangkan dengan Deddy Mizwar yang juga dipatok oleh Partai Demokrat sebagai calon gubernur.

Kalaupun PKS ikhlas menarik Ahmad Syaikhu, Gerindra tetap tidak mungkin masuk dalam rancang koalisi Demokrat, PAN dan PKS, karena siapa yang akan jadi calon wakil di antara Deddy Mizwar dan Sudrajat mengingat keduanya dipatok oleh partai masing-masing sebagai calon gubenur.

Melihat pengalaman di DKI Jakarta, maka Gerindra yang memiliki 11 kursi di DPRD Jabar akan berkoalisi dengan PKS yang memiliki 12 kursi di DPRD Jabar. Jumlah kursi keduanya cukup mengusung satu pasang calon.

Pilgub Jabar kian dinamis karena Dedi Mulyadi yang semula sudah redup setelah Setya Novanto memberikan rekomendasi kepada Ridwan Kamil, hidup kembali setelah Airlangga Hartarto terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Nama Dedi Mulyadi semakin berkibar karena Nusron mengatakan syarat partai lain berkoalisi dengan Golkar adalah harus menempatkan Dedi Mulyadi sebagai calon gubernur atau calon wakil gubenur.

Satu-satunya partai besar yang belum menyatakan sikap secara tegas adalah PDIP. Dengan 20 kursi di DPRD Jabar, PDIP bisa mengusung satu pasang calon gubernur. Tetapi pertanyaannya, akankah PDIP mengusung satu pasang calon sendiri atau  berkoalisi dengan partai lain mengusung calon yang disepakati bersama?

Dua Kubu

Pendaftaran calon gubernur dan juga bupati dan walikota dalam pilkada serentak di 171 daerah Juli 2017 mendatang, dibuka tanggal 8 Januari 2018 dan ditutup tanggal 10 Januari 2018. Masa waktu bagi partai politik  untuk berkoalisi dan memilih calon tersisa sedikit waktu lagi. Bila dihitung  sejak tanggal 22 Desember 2017, maka waktu yang tersisa sekitar 16 hari lagi. Bila dihitung hari kerja, setelah dikurangi hari libur Natal dan Tahun Baru, praktis waktu yang tersisa tinggal  sekitar 5 atau enam hari lagi.

Karena itu sangat kuat diyakini, terutama partai-partai besar atau partai berpengaruh, seperti PDIP, Gerindra, Demokrat, Golkar, sudah mengantongi calon partai bakal kawan berkoalisi termasuk dengan nama calon yang akan diusung.

Dari segi peluang, di Jabar terbuka empat pasang calon gubenur. PDIP bisa mencalonkan satu pasang calon. Jumlah kursi koalisi Gerindra dan PKS cukup untuk mengusung satu pasang calon. Jumlah kursi koalisi Demokrat, PPP dan PAN juga cukup mengusung satu pasng calon. Demikian juga jumlah koalisi Golkar dan Hanura, cukup mengusung satu pasang calon. Jadi ada kemungkinan terjadi empat kubu, yakni kubu Demokrat, kubu Golkar, kubu Gerindra dan kubu PDIP.

Dari empat kubu tersebut, baru dua kubu yang sudah menyebut nama calon gubernur yakni kubu Demokrat dengan calon gubernur Deddy Mizwar dan kubu Gerindra dengan calon gubernur Mayjen TNI (Purn) Sudrajat.

Apakah dua kubu lainnya yakni Golkar dan PDIP akan membentuk kubu sendiri atau berkoalisi dengan kubu yang sudah ada yakni kubu Demokrat atau kubu Gerindra?

Golkar yang tidak mempermalsahkan Dedi Mulyadi sebagai wakil gubernur, berarti berpotensi tidak membentuk kubu sendiri alias berkoalisi dengan kubu yang sudah ada. Sementara PDIP sampai saat ini belum bersikap apakah akan berdiri di satu kubu sendiri atau juga berkoalisi dengan kubu yang sudah ada yakni kubu Demokrat atau kubu Gerindra.

Atau PDIP dan Golkar membentuk satu kubu sendiri?

Sejak Novanto disebut-sebut terlibat dalam kasus e-KTP, Golkar memang dekat dengan Jokowi. Setelah voting tentang presidential threshold terkait UU Pemilu beberapa waktu lalu, Golkar dan PDIP bahkan sempat keluar pernyataan akan berkoalisi dalam sejumlah pilkada. Setelah Airlangga memimpin Partai Golkar, kedekatan dengan Jokowi tidak berubah.

Bila kedua partai ini membentuk satu kubu sendiri, maka Pilgub Jabar akan diikuti tiga kubu, yakni kubu Demokrat dengan cagub Deddy Mizwar, kubu Gerindra dengan Mayjen TNI (Purn) Sudrajat sebagai cagub, dan kubu koalisi Golkar-PDIP dengan alternatif cagub adalah Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil, Anton Charlyan dan mungkin akan muncul nama baru.

Sesuai dengan pendataran yang dibuka tanggal 8 Januari 2018, maka partai-partai akan mengambil keputusan dalam waktu dekat.

Seperti apa formasi cagub? Mengacu pada keberadaan pilkada serentak 2018 yang dijadikan sebagai “pilpres kecil”, maka empat kubu tadi diperkirakan akan mengerucut pada dua kubu pilpres yakni kubu Prabowo dan kubu Jokowi.

Demikian juga Pilgub Jatim dan Pilgub Jateng , daerah yang memiliki daftar pemilih tetap (DPT) terbanyak di seluruh propinsi di Indonesia setelah Jabar, akan mengerucut pada dua kubu utama yakni kubu Prabowo dengan kubu Jokowi.

Di Jawa Barat tidak tertutup kemungkinan partai-partai yang tidak terkonsolidasi ke dalam kubu Prabowo akan masuk ke kubu Jokowi.

Partai yang kemungkinan masuk ke kubu Prabowo, terutama adalah Gerindra dan PKS. Sedang partai yang masuk ke kubu Jokowi terutama adalah Golkar dan PDIP.

Jika sekarang PDIP belum menyebut calon gubernur, dan Golkar bersedia memosisikan Dedi Mulyadi sebagai calon wakil gubernur, maka kubu Jokowi kemungkinan akan mengusung Deddy Mizwar (Demokrat) sebagai calon gubernur dipasangkan degan Dedi Mulyadi (Golkar) sebagai calon wakil gubenur. PDIP dengan demikian berbaur dan membentuk koalisi besar dengan Demokrat dan Golkar ditambah partai lain seperti PAN, Nasdem, PPP, Hanura. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here