Mengintip Jazz Ndeso Ala NgayogJazz 2017 di Sleman

0
299
Sejumlah peserta mengikuti kirab saat pembukaan Ngayogjazz 2017 bertajuk "Wani NgeJazz Luhur Wekasane" di Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (18/11). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pd/17.

Nusantara.news, Yogyakarta – Siapa bilang Jazz musiknya warga elite yang biasa manggung di pub-pub papan atas? Setidaknya di Yogyakarta sejak 2007 sudah terselenggara event music jazz tahunan NgayogJazz yang digelar dari desa ke desa. Prinsipnya adalah njajah deso milang kori, menjelejah desa menghitung pintu. Seperti pengamen atau petugas statistik.

Pada Sabtu, 18 November kemarin, saat berita tiang listrik Setnov viral di media sosial, komunitas penggemar Jazz Yogyakarta yang didirikan oleh musisi Djaduk Ferianto, kembali menggelar NgayogJazz 2017 di dusun Kledokan, desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Sebelum acara dimulai ada kirab seperti tampak pada gambar. Acara bertema “Wani Ngejazz Luhur Wekasane” itu menyediakan lima panggung untuk 25 group penampil yang hadir di desa yang lokasinya dekat Bandara Adi Soetjipto dan Candi Prambanan itu.

Ketua Penyelenggara Bambang Paningron dan mantan Aktivis Pijar Tri Agus Susanto Siswowiharjo

Ajang Ngayogjazz 2017, karena lokasinya di desa kali, akan dijadikan ajang mudik lebaran para musisi jazz Indonesia, bahkan Internasional. Mengutip keterangan Bambang Paningron selaku ketua penyelenggara, Ngayogjazz akan menjadi tempat bagi para musikus jazz untuk menunjukkan keahliannya.

“Ini seperti reuni atau Lebarannya musisi jazz Indonesia. Bagi musisi yang baru naik ini menjadi kebanggaan karena pernah tampil di Ngayogjazz,” beber Bambang.

Tema “Wani NgeJazz Luhur Wekasane” itu, lanjut Bambang, diambil dari peribahasa Jawa “Wani Ngalah Luhur Wekasane”. Artinya siapa yang berani mengalah akan mendapatkan kemenangan di kemudian hari.

“Jadi siapapun yang mau memberikan kontribusi dan apresiasinya terhadap jazz, baik penyelenggara, warga desa yang ditunjuk sebagai tuan rumah, musisi, maupun penonton, akan mendapatkan kemuliaan,” terang Bambang

Tagline ini muncul, sebut Bambang, setelah melihat perkembangan dinamika bangsa ini yang makin banyak orang ingin menang sendiri dan membawa atau memaksakan kebenaran mereka sendiri tanpa bisa menerima pikiran dan pendapat orang lain.

Penampilan Bianglala Voice yang tak kalah memukau

Dusun Kledokan yang berada di wilayah Sleman bagian timur dengan nuansa pedesaan menjadi tuan rumah tahun ini. Ada lima panggung di kawasan yang berada tidak jauh dari Monumen Plataran yang merupakan jejak sejarah peristiwa pertempuran TNI melawan tentara Belanda pada masa Agresi Militer II tahun 1948-1949.

Panggung pun diberi nama seperti zaman perjuangan yakni panggung Doorstoot, panggung Gerilya, panggung Markas, panggung Serbu dan panggung Merdeka.

Bambang mengungkap ada sekitar 26 musisi baik musisi lokal, nasional hingga internasional. Beberapa musisi itu antara lain Everyday, Rubah di Selatan, Nonaria feat Bonita, Sri Hanuraga trio bersama penyanyi jazz Dira Sugandi. Ada juga kelompok jazz dari Prancis yang diprakarsai Remi Panossian, Remi Panossian Trio. Kemudian pasangan musisi Endah N Resha serta Gugun Blues Shelter dan lain-lain.

Memang, sempat ada selentingan protes tentang masuknya Gugun Blues Shelter sebagai satu diantara 26 penampil. Namun Djaduk yang tampaknya juga sebagai kurator menyebutkan musik kelompok Gugun masuk genre jazz. “Root musik jazz itu dari blues,” terang Djaduk.

Selanjutnya ada dari komunitas jazz se-nusantara dari berbagai daerah seperti Pekalongan, Purwokerto, Ponorogo, Solo, Trenggalek, Lampung, Magelang, Surabaya dan Yogyakarta sendiri. Kemudian ada juga kesenian tradisional dari Paguyuban Gejog Lesung Tjipto Suoro dan Paguyuban Bregada Gotri Seloaji.

“Ngayogjazz 2017 ini akan menjadi momen lebaran atau reuninya musisi jazz. Semua musisi jazz berkumpul mulai dari musisi lokal, nasional hingga international setelah setahun berkreasi di daerahnya masing masing,” katanya.

Endah n Resha membawakan lagu untuk anak Munir. Terinspirasi Caping karya Goenawan Mohamad

Untuk datang ke lokasi, panitia juga sudah menyediakan kantong-kantong parkir di kawasan tersebut. Namun bagi yang tidak ada kendaraan juga ada kendaraan bernama Shuttle Jazz yang akan mengantarnya. Penonton tinggal memilih titik pemberangkatan yang disediakan mulai pukul 15.00-22.00 WIB.

Shuttle Jazz akan diberangkatkan menuju padukuhan Kledokan (Tugu Batu Kledokan/Terminal Bus Ngayogjazz) dari 2 titik awal keberangkatan (Cupable cafe – Yakkum Pakem dan Jogja Nasional Museum) di Jl Amri Yahya Gampingan Kota Yogyakarta.

Selain ada 5 panggung utama untuk permainan jazz, panitia juga menyediakan fasilitas untuk Pasar Jazz, Pameran Foto dan dan pentas kesenian tradisional.

“Yang baru dari Ngayogjazz adanya kerja sama dengan Komunitas Jendela membuat sebuah gerakan sosial yang mengumpulkan buku tulis kosong pada pelaksanaan Ngayogjazz tahun 2017 ini. Pengunjung Ngayogjazz diharapkan untuk membawa buku tulis ataupun buku gambar kosong sebagai pengganti tiket masuk,” imbuh Bambang.

Yang jelas, dengan tema plesetan, Yogyakarta memang gudangnya dagelan, suasana pedesaan yang sebenarnya tidak ndeso-ndeso amat, dijamin membuat suasana NgayogJazz 2017 lebih segar, greng (antusias) dan gayeng (akrab dan seru).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here