Mengintip Peluang Para Kandidat di Pilgub Jatim, Khofifah Paling Kuat

0
209

Nusantara.news, Surabaya – Meski masih setahun lagi, aroma jelang Pemilihan Gubernur Jawa Timur terus semerbak. Sederet nama terus muncul menghiasi pemberitaan dengan berbagai kegiatannya. Ada Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, Abdullah Azwar Anas, Abdul Halim Iskandar, Hasan Aminudin dan lainnya.

Namun, dari sejumlah nama tokoh tersebut, Khofifah Indar Parawansa dinilai merupakan sosok yang paling kuat untuk meraih Jatim 1. Demikian pernyataan pengamat politik dan komunikasi, Dimas Oky Nugroho kepada Nusantara.news, Jumat (28/4/2017).

“Ini pandangan saya pribadi, karena saya bukan lembaga survei. Menurut saya, jika Khofifah nantinya benar-benar maju, dia sudah punya modal kuat dan riil. Khofifah memiliki peluang yang sangat besar untuk memenangi Pilkada Jatim,” kata Dimas Oky Nugroho saat dihubungi Nusantara.news.

Terkait dengan modal dan kekuatan nama-nama lainnya alumni Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Airlangga Surabaya, yang juga peraih gelar MPhil (Master of Philosophy) bidang Politik Internasional Universitas of Glasgow, Skotlandia, Inggris itu membeberkan berbagai peluang dan kelebihan masing-masing. Semua kandidat, menurut Dimas, punya peluang yang sama untuk maju di Pilgub Jawa Timur, tinggal bagaimana mereka menjabarkannya ke dalam strategi.

“Saifullah Yusuf, Khofifah, Tri Rismaharini, Azwar Anas dan nama lainnyasama-sama punya peluang. Namun, semua itu kembali kepada personal masing-masing, tergantung independensi secara individu,” terang Dimas Oky, yang juga Direktur Eksekutif ARSC.

Untuk sukses mendapat dukungan pemilih dan memenangi pilkada, dalam pandangan Dimas, modalnya adalah perilaku personal yang bisa diukur dari berbagai hasil survei. Dimas meyakini bahwa masyarakat pemilih di Jatim akan lebih melihat sosok dan kinerja publik dari para kandidat, termasuk apa yang akan mereka lakukan ke depan.

“Kalau saya melihat, Khofifah sangat kuat. Pertama, secara personal nama Khofifah telah tertancap dan sangat dekat di akar rumput. Dua kali maju di Pilgub Jatim merupakan modal yang cukup besar yang dimiliki Khofifah. Khofifah punya pendukung riil, dan sampai saat ini kekuatan itu terus menguat dan tidak bisa disepelekan,” urainya.

Kedua, Khofifah masih aktif menjabat Menteri Sosial dan dia sangat aktif dengan berbagai program pro rakyat. “Jangan lupa, rakyat itu akan selalu mengingat jika pernah diberikan sesuatu dan itu merupakan modal besar bagi dirinya,” ujarnya.

Terkait dengan adanya kesamaan latar belakang NU pada sosok Gus Ipul, Khofifah, Abdul Halim dan Azwar Anas, Dimas menyatakan bahwa mereka memiliki peluang yang sama, namun mereka juga harus bisa mengukur siapa kelompok sasaran pemilih yang harus didekati.

Dimas mengilustrasikan Pilkada DKI Jakarta dimana kemenangan Anies-Sandi banyak ditopang oleh pemilih menengah ke bawah yang merupakan mayoritas penduduk Jakarta. Ia menyatakan, untuk Pilgub Jatim kandidat harus bisa memotret peta sosial dan potensi suara calon pemilihnya.

Menanggapi variasi wilayah kultural di Jatim yang meliputi Mataraman, Arek, Pandalungan  dan Madura, Dimas menyatakan, “Hal semacam itu tidak bersifat mutlak, khususnya bagi Khofifah. Ia punya energi kuat dan telah lama melekat dihati rakyat yang dibuktikan di dua Pilgub Jatim sebelumnya.”

Sementara Gus Ipul juga punya kekuatan. Sebagai pendamping gubernur dua periode, menurut Dimas, Gus Ipul punya catatan dan penilaian di masyarakat. Di sisi lain Risma—meski punya kelebihan—namun tidak sekuat Khofifah. Nama Risma selain di Surabaya juga terkenal di Jakarta, meski di sejumlah daerah di Jatim yang memiliki 38 kabupaten/kota tidak semuanya mengenal Risma.

Ia menyebutkan faktor penting berikutnya adalah parpol pengusung para kandidat. Namun, penentunya adalah berpulang pada popularitas para kandidat. “Saat ini demokrasi itu terus berkembang, masyarakat lebih dulu akan memilih sosok yang populis, pintar dan bisa berkomunikasi serta mendengar kebutuhan rakyat,” ujarnya.

Dalam soal gender, Dimas menyatakan bahwa Jatim relatif tidak ada masalah. Jatim dinilai sangat baik dan bisa menerima pemimpin perempuan. Masalahnya adalah bagaimana para kandidat dapat mengemas isu-isu ekonomi untuk memajukan rakyat, isu politik identitas serta persepsi personal.

“Soal ekonomi misalnya, kandidat harus bisa memotret, siapa sasaran untuk mendulang suara. Mengemas dan memberikan konsep dalam mengatasi kesenjangan dan kemiskinan merupakan hal penting bagi para kandidat,” ungkapnya.

Untuk cara berkomunikasi, berdasarkan pengamatan Dimas, Khofifah lagi-lagi unggul dibanding nama-nama lain. “Itu semua dimiliki oleh Khofifah. Selain cerdas, Khofifah ‘orang kuat’ dan dekat dengan masyarakat bawah, karena sejak muda telah berorganisasi,” terangnya.

Dimas menambahkan, Jatim adalah contoh sebuah provinsi yang mampu mengakomodasi  kepentingan masyarakat politik dan masyarakat sipil dalam bingkai kebijakan yang merupakan kombinasi antara populisme dan teknokrasi. “Ini merupakan salah satu warisan penting Pakde Karwo,” ujarnya.

“Khofifah adalah sosok yang paling memenuhi kualifikasi itu,” pungkas alumnus Antropologi Politik, University of South Wales (UNSW) Sydney, Australia ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here