Mengintip Pesona Alam dan Budaya Pulau Tomia, Wakatobi

0
564
Anak-anak berkumpul untuk mengikuti ritual Safara'a di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/11). ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/17. *** Local Caption *** yaitu ritual membelah laut yang dilakukan setiap bulan Safar penanggalan Domariah tahun Hijriah dengan tujuan memohon dan memanjatkan doa keselamatan.

Nusantara.news, Wanci – Rasanya tidak pas kalau bepergian ke Wakatobi tanpa berkunjung ke Pulau Tomia. Di Pulau yang memiliki sejumlah pantai eksotis itu memiliki 30 titik penyelaman dan snorkeling yang ditetapkan UNESCO sebagai pusat cagar biosfir dunia.

Panorama bawah laut di titik selam Mari Mabuk pulau Tomia Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (5/11). ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/17.

Sejatinya Wakatobi sendiri adalah singkatan dari empat pulau besar, masing-masing Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Secara keseluruhan Kabupaten Wakatobi yang memiliki Taman Nasional Wakatobi seluas 1,39 juta hektar itu didiami oleh 95.712 jiwa (BPS, 2011). Pengaruh budaya Buton, Bugis, Makassar, Maluku, Flores, Jawa, bahkan Sumatera sangat kental di daerah ini.

Tari Lutunani ditampilkan pada rangkaian Festival Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/11). ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/17.

Pulau Tomia dapat ditempuh 4 jam perjalanan laut dari Wanci, ibukota Wakatobi di Pulau Wangi-wangi. Kendati ada sekitar 30 titik spot diving, tapi yang terkenal di kalangan turis asing adalah Ali Reef, Roma, Cornucopia, House Reef dan Teluk Maya. Tentu saja tantangannya berbeda-beda, ada yang aman bagi pemula seperti Roma, tapi ada yang sudah benar-benar ahli seperti Cornucopia.

Perairan yang jernih, berkedalaman antara 15-30 meter, kaya terumbu karang dan ikan-ikan laut dalam, sudah pasti menjadi daya pikat sendiri bagi wisatawan untuk berfoto di dasar lautan. Kelestarian terumbu karang di pantai Tomia umumnya terjaga dengan baik.

Sejumlah anak membawakan tari Sajo Moane di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/11). ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/17.

Padahal Pulau Tomia berada di luar kawasan Taman Nasional, bahkan sejak dulu kala menjadi jalur maritim yang cukup padat di kawasan Indonesia Timur. Namun warga, sebagaimana umumnya masyarakat bahari, menganggap laut sebagai penyelamat keberlangsungan hidupnya.

Letaknya yang cukup strategis menjadikan Pulau Tomia sejak sebelum Indonesia Merdeka sudah bersentuhan dengan budaya lain di kepulauan nusantara. Maka, selain kaya pesona alam yang unik dan eksotis, Pulau Tomia juga kaya unsur budaya.

Sejumlah ibu membuat kue Karasi di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/11). ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/17.

Untuk lebih meningkatkan daya tarik bagi wisatawan, akhir tahun lalu digelar Parade Budaya dan Festival Pulau Tomia, yang diisi dengan berbagai atraksi seni dan budaya warga setempat. Pada Festival itu beragam tarian tradisional, seperti Lutunani sebagai tari penyambutan tamu, Sajo Moane sebagai tarian perang-perangan dengan diiringi kendang dan gamelan, dipentaskan.

Warga melakukan ritual Siri Wale di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (3/11). ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/17.

Bukan itu saja, warga Pulau juga memperagakan pembuatan kudapan khas Wakatobi, seperti kue Karasi yang menyerupai benang saling berkait sebagai simbol kesatuan dalam ikatan. Festival diakhiri ritual Siri Wale. Saat itu warga dari dua Kecamatan di Pulau Tomia berkumpul di Pantai Lakota, melakukan upacara adat mandi bersama-sama dan makan di laut.

Laut bagi masyarakat Pulau Tamia adalah sumber berkah yang mesti dijaga kelestariannya untuk keberlangsungan hidup dari generasi ke generasi. Gelaran Festival itu sekaligus sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan yang memberikan keselamatan di darat dan di laut. []

Sumber Antarafoto

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here