Mengobati Luka Jakarta

0
176

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno kemarin dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta. Resmilah sudah mereka menjadi duet yang memimpin Ibukota untuk lima tahun ke depan.

Hal pertama yang diinginkan warga Jakarta kepada gubernur dan wakil gubernur baru ini adalah: Wujudkan janji kampanye. Apalagi Anies sendiri sudah menegaskan, bahwa substansi tugasnya di Jakarta adalah melaksanakan semua yang dijanjikan selama kampanye.

Publik menunggu itu. Sebab, manusia dipegang dari ucapannya. Orang kebanyakan saja begitu, apalagi pemimpin. Tentu urgensi dan tanggungjawab untuk membuktikan ucapan jauh lebih tinggi dari orang biasa.

Ditambah lagi, proses sosial politik yang mengantarkan Anies ke singasana Jakarta, seperti diketahui, sangat tidak mudah, dan tidak murah. Ada ongkos sosial yang teramat tinggi yang harus dibayar bersama oleh rakyat –tidak hanya warga Jakarta, tapi mungkin di hampir semua negara ini. Pilkada Jakarta kemarin lebih dari sekadar perlombaan memenangkan pilihan rakyat, tapi sudah menjadi pertandingan, di mana kontestan tidak saling berdampingan, namun saling berhadapan, dan bahkan dalam beberapa sisi sudah berubah menjadi pertarungan.

Galibnya dalam pertarungan, tentu banyak yang terluka. Dan harus diakui, luka itu belum sembuh benar. Penolakan Djarot Saiful Hidayat untuk mengikuti prosesi serah terima memori jabatan ke Gubernur Anies Baswedan –mudah-mudahan kita salah—bisa dibaca dari sudut itu. Sebab, biasanya serah terima jabatan dilakukan pejabat lama kepada pejabat baru. Apalagi, sudah ada contoh terbaik dari periode sebelumnya. Fauzi Bowo seusai membacakan serah terima dengan gubernur Jakarta yang baru, Joko Widodo, langsung menyalami dan memberi pelukan hangat kepada bekas pesaingnya itu. Akibatnya, semua luka-luka akibat benturan selama kampanye yang ketat, sembuh seketika.

Anies, apa boleh buat, tidak menerima suasana hangat itu. Realita itulah yang dihadapi Anies-Sandi: Bahwa ada warganya yang belum bisa move on dari kekalahan. Jumlahnya mungkin tak sebanyak awal-awal kekalahan, dan semakin hari pasti semakin berkurang. Dan pada akhirnya akan hanya menyisakan orang-orang teramat sulit beranjak dari trauma kekalahan saja, seperti Djarot dan kawan-kawannya.

Cepat atau lambatnya, atau bahkan gagal atau berhasilnya, publik Jakarta pendukung Ahok-Djarot melupakan trauma itu sebagian besar ditentukan oleh Anies-Sandi. Jika mereka berdua berhasil menunjukkan kinerja yang cemerlang, memenuhi semua janji yang terlanjur diucapkan, proses memulihkan luka Jakarta akan berjalan sempurna. Tapi, kalau Anies-Sandi tak menghasilkan apa-apa, hanya sibuk membenahi masalah di diri mereka sendiri, menghabiskan waktu berputar-putar tanpa tahu hendak ke mana, luka Jakarta akan semakin menganga.

Kita percaya, sebagai akademisi Anies Baswedan akan sangat paham peta masalah yang dihadapi dan sistematika penyelesaian: Dari memulainya, apa yang harus dilakukan dan di titik apa menyudahinya. Sandiaga Uno, dengan latar belakang pengusaha, kita juga percaya, dia akan mampu mengambil keputusan yang cepat, tepat dan terukur.

Akademisi dan usahawan, sebetulnya, adalah orang yang bekerja dalam diam. Di atas kertas, mereka adalah jenis orang yang mengacu kepada hasil, bukan kepada proses. Di sinilah kita berharap, mereka tak terjebak pada politik gincu. Politik yang mengutamakan dramatisasi ketimbang substansi.

Sebagai akademisi dan pengusaha, mereka pasti paham beda antara manajer dengan operator. Artinya, duduk di kantor tidak lebih buruk dari turun ke lapangan. Bagi seorang pemimpin, turun ke lapangan untuk memastikan semua rencana berjalan sesuai ketentuan, tak lebih dari sekadar menunjukkan total immersion saja, bukan untuk memperlihatkan otoritas eksekutorial.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here