Menguak Agenda Tersembunyi Inggris Merapat ke China

0
246
Presiden China Xi Jinping berjabat tangan dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May menjelang pertemuan dua negara di Kediaman Tamu Negara Diaoyutai di Beijing, China, Kamis (1/2). ANTARA FOTO/REUTERS/Wu Hong/Pool/djo/18

Nusantara.news, Beijing – Sebagai sesama anggota tetap Dewan Keamanan PBB, hubungan Inggris dan China menjadi sangat penting di tengah tekanan di dalam negeri Inggris sendiri terkait masa transisi Brexit dari Uni Eropa dan tekanan perdagangan internasional setelah Amerika Serikat (AS) mewujudkan kebijakan proteksionisnya.

Selama berkeliling di negeri Tirai Bambu, Perdana Menteri Inggris Theresa May yang didampingi “First Gentleman” Philip May, suaminya, dia mendapatkan sambutan hangat. Media setempat menyambutnya dengan sebutan “Aunty May”, suatu panggilan kehormatan dalam tradisi masyarakat China yang tidak semua tamu mendapatkan kehormatan seperti itu.

Persekutuan Strategis

Baru pada kunjungannya di hari ke-2, Theresa May disambut oleh Presiden China Xi Jinping dalam suasana penuh persahabatan. Kedua kepala pemerintahan itu sempat menggelar jumpa pers bersama. Kepada media yang hadir May menyebutkan Inggris dan China menikmati “masa keemasan” dalam hubungan kedua negara.

Theresa May yang negaranya berkepentingan memperluas sendiri perdagangan internasional setelah tidak lagi menjadi bagian dari Uni Eropa menginginkan “maju lebih jauh dalam kemitraan strategis global yang kita bangun”.

Perdana Menteri Inggris berada di China sebagai kelapa delegasi bisnis beranggotakan 50 pengusaha papan atas di negaranya. Sebelum bertemu Xi Jinping, pada Kamis (1/2) kemarin, sehari sebelumnya May disambut Perdana Menteri China Li Keqiang. Keduanya sempat berdiskusi tentang perdagangan dan Brexit.

Sedangkan pembicaraannya dengan Xi akan fokus pada masalah global. Termasuk di dalamnya menyikapi proteksionisme AS, perubahan cuaca global, termasuk ambisi nuklir Korea Utara.

Setelah keduanya berjabat tangan dalam sesi pemotretan, PM May dan Presiden Xi duduk saling berhadapan dengan menyertakan anggota delegasi masing-masing di sebuah meja konferensi “Diaoyutai State Guesthouse” di Beijing.

PM May memuji hubungan perdagangan yang membaik antara kedua negara sejak kunjungan kenegaraan Presiden X ke Inggris pada 2015 lalu. Dia menambahkan, “Saya sangat senang dengan hubungan orang ke orang yang dapat kita bangun di bidang pendidikan dan kebudayaan.”

“Dan saat kami berdua duduk bersama sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ada tantangan global yang kami hadapi, sama seperti yang dilakukan orang lain di dunia ini,” tandas May yang sebelumnya juga mengingatkan, “kami adalah pemain penting di panggung dunia”.

Di hadapan Presiden Xi dia tidak segan-segan mengangkat isu lingkungan hidup yang sebenarnya tidak begitu disukai baik China atau AS di bawah kepemimpinan Donald Trump. Tapi May acuh saja mempresentasikan seria Blue Planet II yang ditayangkan BBC dengan sebuah pesan pribadi dari presenternya, Sir David Attenborough.

Serial Blue Planet II meneliti efek perilaku manusia terhadap lingkungan dan digunakan sebagai rujukan oleh PM May pada bulan lalu, ketika dia berjanji memberantas semua plastik yang dapat dihindari di Inggris pada tahun 2042 sebagai strategi hijau 25 tahun.

Di hari pertama kunjungannya, sebagaimana dikutip dari laporan BBC London, May mengumumkan upaya bersama Inggris – China untuk memperkuat tindakan internasional melawan perdagangan gading ilegal.

Persetujuan Dagang

PM China Li Keqiang saat bertemu May, Rabu (31/1) kemarin lusa juga mengumumkan China akan membuka pasarnya ke Inggris, termasuk untuk produk pertanian dan jasa keuangan.

Perdagangan Inggris – China sekarang ini bernilai £ 59 miliar per tahun. PM Inggris berharap ada kesepakatan baru senilai £ 9 miliar lebih yang akan ditanda-tangani selama kunjungannya ke negeri Tirai Bambu itu.

Satu di antara 50 perusahaan Inggris yang datang bersama May, sebut saja Medopad yang bergerak di bidang teknologi kesehatan mengaku telah menandatangani lebih dari 100 juta proyek komersial dan kemitraan dengan berbagai organisasi termasuk China Resources, GSK China, Peking University dan Lenovo.

Editor BBC Laura Kuenssberg menyebut kehadiran PM May di China mendapatkan sambutan yang hangat di tengah tekanan politik di dalam negeri yang mendesaknya lebih tegas dalam berunding dengan Uni Eropa.

Menteri Perdagangan Internasional Inggris Liam Fox juga ikut dalam rombongan dan mengingatkan agar kolega-kolega resesifnya fokus pada “gambaran besar”.

Dengan menyebut sejumlah kesepakatan perdagangan selama kunjungannya, Liam Fox kepada Laura mengklaim bahwa membangun tingkat perdagangan dengan China adalah “kisah sukses” yang nyata.

Selama perjalanan delegasi dagang China ke Inggris, Fox yakin mampu membuat kesepakatan perdagangan baru dengan China senilai £ 9 miliar. Kesepakatan baru itu sebut Fox adalah kesepakatan perdagangan jangka panjang. Perdagangan internasional Inggris selama ini memang dibatasi, bukan saja sebelum ada Brexit, melainkan dalam era transisi sekarang ini.

Era Emas

Media-media milik pemerintah China menggelar karpet merah untuk kedatangan Theresa May dalam misi perdagangan yang dijadwalkan berlangsung 3 hari. Sebutan “Aunt May” disematkan kepada May sebagai panggilan penuh kasih sayang yang biasanya hanya diperuntukkan bagi sekutu penting Beijing.

Media pemerintah menyambut baik kunjungan May yang menunjukkan hubungan China-Inggris bergerak kea rah yang positif. Mereka optimis tentang hubungan perdagangan dan kebudayaan yang akan terus meningkat.

Banyak surat kabar berpengaruh di China menempatkan di halaman depan kunjungan itu dengan judul menantang. “Reference News” yang memiliki pembaca besar di China menuliskan judul “Perdana Menteri Inggris Kunjungi China untuk Meningkatkan Era Emas”.

Tagline “Era Emas” diciptakan saat kunjungan kenegaraan pertama Presiden Xi ke Inggris pada Oktober 2015 saat pemerintah Inggris masih dipimpin David Cameron. Kata-kata itu juga berulang kali ditekankan, baik oleh May maupun Xi untuk menegaskan bahwa hubungan bilateral kedua negara akan menjadi kekuatan penting di panggung dunia.

China yang sejumlah produknya terancam di AS bisa mendapatkan keuntungan dari peningkatan perdagangan. Begitu pula dengan Inggris setelah meninggalkan Uni Eropa, tulis Global Times, surat kabar berbahasa Inggris yang terbit di China di halaman depannya. Dengan demikian Beijing akan menjadi sangat penting paska Brexit.

Jadi, Uni Eropa yang hingga kini terus memaksa kesepakatan dengan Inggris baik dalam perdagangan maupun hak kewarganegaraan, secara geo politik dan geo strategi akan mulai berhitung ulang dengan merapatnya Inggris ke Beijing. Apalagi, China dan Inggris adalah 2 di antara 5 anggota tetap Dewan Keamanan PBB selain AS, Rusia dan Perancis.

Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, kini Uni Eropa hanya memiliki Perancis sebagai wakil tetap di DK PBB. Jerman yang menjadi raksasa ekonomi Uni Eropa tidak bisa menjadi anggota tetap DK PBB karena dia kalah Perang Dunia II. Bersatunya Inggris dan China akan membuat dunia yang selama ini hanya dikuasai AS, Uni Eropa, Rusia dan China, mau tidak mau harus pula memperhitungkan Inggris.

Paling tidak, kunjungan May ke China akan memberikan harapan kepada konstituennya di dalam negeri yang menganggap May terlalu bertekuk lutut – kepada Uni Eropa – sebagai seni berpolitik yang cemerlang untuk membuatnya memiliki posisi tawar saat berunding dengan pimpinan parlemen Uni Eropa di Brussel.

Sebab dengan bersekutu dengan China, Inggris akan menunjukkan kekuatannya yang tidak bisa diperlakukan secara semena-mena.

Saat Uni Eropa tidak sejalan dengan kebijakan proteksionis Trump, Rusia lebih banyak berjalan sendiri dengan agendanya sendiri, mesranya hubungan Inggris dan China yang masing-masing memiliki sekutu, Inggris dengan persemakmurannya dan China dengan penguasaannya di Afrika, akan menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan dunia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here