Menguak Kekejaman Komunis Cina Bantai Bangsanya Sendiri (2) 

0
733

Nusantara.news, Surabaya – Sejak tragedi 20 Juli 1999, pembantaian sadis terhadap pengikut Falun Gong oleh rezim Jiang Zemin di RRC menyedot perhatian dunia.  Bahkan, beberapa dokumen penyiksaan korban yang masih hidup saat diambil paksa organ tubuhnnya  praktisi (pengajar) Falun Gong sempat beredar keluar RRC.

Bau anyir kekejaman komunis Cina pun menyeruak, menyusul aksi protes sejumlah pengikut dan simpatisan Falun Gong di depan Komisi Eropa, 15 Juni 2006.

Menanggapi aduan itu, pada 23 Juni 2006 pengacara HAM Kanada David Matas dan Sekretaris Negara Kanada untuk Asia-Pasifik David Kilgour turun, memulai penyelidikan. Hasil temuan dari penyelidikan independen selama 10 tahun membuat dunia tercengang dan geleng-geleng kepala.

Pemerintah Cina diduga telah mengeksekusi 1,5 juta tahanan Falun Gong secara ilegal untuk donor organ. Diperkirakan setiap tahun terdapat sekitar 60-100 ribu tahanan yang diambil organ jantung, ginjal, lever, mata dan lainnya secara paksa, sejak tahun 1999.

Laporan yang akhirnya terbit tahun 2009 itu memberi titik terang bahwa fakta pengambilan organ dari pengikut Falun Gong, benar adanya. Organ tubuh mereka diambil paksa dari para tahanan. Hasil investigasi yang mendalam ditemukan ada lebih dari 900 rumah sakit   yang melakukan malpraktik terhadap kelompok meditasi keseimbangan spiritual Falun Gong ini.

“Tahun 1999, Partai Komunis Cina menyadari tingginya pertumbuhan jumlah anggota Falun Gong. Mereka takut ideologi (Komunisme) akan tergoyahkan dan mulai menahan ribuan anggota itu. Jika menolak, para anggota Falun Gong disiksa bahkan dibunuh,” kata laporan tersebut.

Masih menurut laporan itu, para tahanan harus melalui serangkaian tes medis sebelum dimasukkan dalam database donor organ. Lewat cara ini, pemerintah mendapatkan calon donor secara cepat. Para dokter bedah yang diwawancara mengaku tidak ingat berapa jumlah transplantasi organ yang mereka kerjakan tiap hari. Beberapa diantaranya bahkan menyebut, melakukan transplantasi lever sebanyak enam kali dalam sehari.

Pemerintah memberi pernyataan resmi bahwa ada 10 ribu transplantasi organ yang dilakukan di Cina. Namun tim peneliti tersebut meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih banyak.

“Kita dapat tahu (jumlah transplantasi organ) dengan mudah dari data dua atau tiga rumah sakit terbesar Cina. Perbedaan angka yang besar dari pernyataan pemerintah membuat kami mengambil kesimpulan ada lebih banyak eksekusi tahanan anggota Falun Gong dari yang diberitakan. Konklusi utama dari ini adalah Partai Komunis Cina bertanggung jawab atas pembunuhan massal orang-orang tak bersalah,” ujar Matas.

Versi terbaru hasil penyelidikan juga disampaikan dalam film dokumenter “Bloody Harvest: Revised Report into Allegations of Organ Harvesting of Falun Gong Practitioners in China”. Film yang disutradarai oleh Leon Lee, seorang Kanada keturunan Cina memenangkan Peabody Award pada tahun 2015 ini cukup tajam mengisahkan kekejaman yang dialami pengikut falun Gong.

Film dokumenter yang mengikutsertakan Matas dan wawancara Kilgour dengan pasien dan keluarga mereka yang telah menerima transplantasi di Tiongkok dan menemukan banyak bukti bahwa pengambilan organ paksa itu bukan omong kosong.

Lee berkomentar bahwa pasien di luar RRC biasanya harus menunggu dua sampai tiga tahun untuk menemukan ginjal atau hati yang cocok. Namun, berkat “perlakuam khusus” pemerintah RRC terhadap pengikut Falun Gong, waiting list menjadi lebih pendek. Hanya diperlukan menunggu antara dua minggu hingga satu bulan saja untuk dapat memperoleh jaringan organ yang cocok.

Salah seorang peneliti, Lee, menelepon ke lebih dari 100 rumah sakit dan mencatat percakapan. Mereka berpura-pura menjadi pasien yang membutuhkan organ. Mereka menemukan bahwa sekitar 15% dari dokter mengakui sumber organ diperoleh dari sebagian besar pengikut Falun Gong yang dipenjara. Tim penelitik menyimpulkan bahwa pengambilan organ sangat mungkin dikendalikan oleh pemerintah, atau setidaknya sudah mendapatkan izin dari pemerintah.

Tim juga melihat peningkatan cepat dalam jumlah transplantasi organ yang dilakukan setelah tahun 2000 dan meyakini hal itu sebagai adalah praktik yang tidak dilakukan oleh beberapa oknum dokter dan oknum-oknum yang berada dalam sistem peradilan, melainkan dikendalikan pemerintah secara sistematis.

Bahkan pada tahun 2014, ketika dokter Tiongkok mungkin mulai menyadari adanya penyelidikan internasional dalam pengambilan organ, mereka masih menemukan beberapa percakapan yang mengonfirmasi bahwa sumber organ berasal dari praktisi Falun Gong yang ditahan.

Kartu nama praktisi Falun Gong Chen Hua yang digunakan ketika dia ditahan di sebuah lembaga kerja paksa di Guangzhou, Tiongkok. Chen Hua telah dikirim ke kamp kerja paksa dua kali sebelum ia berhasil melarikan diri ke AS. Dia ingat bahwa praktisi Falun Gong disiksa di kamp kerja paksa, tetapi juga menerima “perhatian medis khusus” dan tes darah rutin. Tes darah terbatas pada praktisi Falun Gong saja.

Praktisi Ma Chunmei bersaksi di sidang Kongres Amerika Serikat pada 26 Mei 2016. Dia telah dipenjarakan di Kamp Kerja Paksa Wanita Provinsi Jilin Heizuizi dua kali sebelum dia datang ke Amerika pada tahun 2004. Pada tahun 2002, dia dibawa ke Rumah Sakit Provinsi Jilin, di mana sampel sumsum tulang diambil. Dia tidak memiliki gejala penyakit pada saat itu.

Ketika dia dibebaskan, praktisi Falun Gong lainnya, yang juga seorang dokter menjelaskan kepadanya bahwa sampel adalah untuk menemukan ginjal yang cocok untuk transplantasi. Zhang Erping, juru bicara Falun Gong, mengatakan bahwa pemerintah RRC menggunakan praktisi Falun Gong sebagai sumber organ.

“Ketika seorang wartawan dari media barat berpura-pura menjadi pasien dan bertanya tentang sumber organ, beberapa rumah sakit akan mengatakan kepadanya bahwa donor  organ berasal dari  seorang praktisi Falun Gong, karena mereka (praktisi Falun Gong) melakukan latihan dan memiliki kesehatan yang baik, sehingga kualitas organ dapat dijamin,” tutur Zhang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here