Menguak Kekejaman Komunis Cina Bantai Bangsanya Sendiri (3-Habis)

0
362
Falun Gong practitioners hold a march in Washington on July 14, calling for Jiang Zemin, the former dictator who instigated the persecution of Falun Gong in China, to be brought to justice. (Larry Dye/Epoch Times)

Nusantara.news, Surabaya – Sejak rezim Jiang Zemin tahun 1993-2003 berkuasa hingga sekarang RRC dipimpin Xin Jinping, aksi penangkapan, penganiayaan dan pembantaian pengikut ajaran Falun Gong masih terus terjadi. Korban juga terus bertambah. Pada pertengahan Januari 2017, dilaporkan sebanyak 5 korban meninggal setelah disiksa.

Mereka diantaranya, Wang Xiuyun warga Provinsi Henan, Li Yuqin warga Shanghai, Gao Yixi warga Provinsi Heilongjiang, Yang Zhongsheng warga Provinsi Zhejiang dan Yan Guoyan dari warga Provinsi Hebei. Tragedi kekejaman itu menambah panjang daftar kasus kematian akibat penyiksaan yang jumlahnya mencapai 4.064 kasus, sejak tragedi Juli 1999.

Dilansir dari Minghui, laporan semester pertama dilaporkan sebanyak 4.892 praktisi organisasi ini yang ditangkap berasal dari seluruh Cina, dan meliputi hampir setiap provinsi dan kota yang secara terpusat dikendalikan. Provinsi Shandong memiliki paling banyak angka penangkapan (968, 19,8%), diikuti wilayah Liaoning (574, 11,7%), Hebei (422, 8,6%), Heilongjiang (369, 7,5%) dan Jilin (314, 6,4%).

Selain itu, sebanyak 1.939 kasus pelecehan juga tersebar di seluruh negeri. Di Provinsi Shandong menjadi daftar teratas, tercatat sebanyak 577 kasus, berikutnya di wilayah Hebei (383 kasus) dan Sichuan (120 kasus). Sembilan belas provinsi lain yang terdaftar kasus dua digit pelecehan, sedangkan 7 provinsi yang tersisa kasus satu digit.

Praktisi yang menjadi target termasuk orang-orang dari semua lapisan masyarakat, termasuk instruktur perguruan tinggi, mahasiswa, dokter, insinyur, akuntan, dan pengusaha.

Sebanyak 682 atau (13,9%) praktisi ditangkap karena mengajukan tuntutan hukum terhadap mantan pemimpin Partai Komunis Cina Jiang Zemin, yang memerintahkan penganiayaan terhadap Falun Gong pada tahun 1999. Lainnya dilaporkan atau ditangkap oleh polisi karena menyebarkan informasi tentang penganiayaan, atau ditangkap dalam pertemuan praktisi.

Banyak praktisi Falun Gong masuk daftar hitam polisi, kehidupan sehari-hari mereka dipantau. Tak sedikit pula mereka yang ditangkap saat pertemuan dengan praktisi lainnya. Pada 21 Januari 2016 misalnya, puluhan praktisi di Beijing ditangkap saat pertemuan. Mereka ditahan di kantor polisi sebelum dipindahkan ke Pusat Penahanan Tongzhou. Hanya satu praktisi dibebaskan dengan adanya sebuah jaminan.

Satu diantaranya adalah kisah yang dialami Teng Shijun, dari Tumen, Provinsi Jilin, ditangkap di kediamannya pada 12 Mei 2016, setelah delapan tahun pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk melarikan diri dari penganiayaan. Sebelumnya dia telah ditangkap beberapa kali, dihukum di kamp kerja paksa dua kali, dan ditahan di pusat pencucian otak selama tiga kali. Dia disiksa secara brutal karena menolak melepaskan keyakinannya pada Falun Gong.

Untuk melarikan diri dari pelecehan lebih lanjut, ia terpaksa meninggalkan rumahnya dan tinggal di jalanan setelah pembebasan terbarunya dari kamp kerja paksa pada tahun 2008. Delapan tahun kemudian, ia ditangkap lagi. Dia saat ini keluar dengan jaminan karena tekanan darah tinggi.

Lain lagi dengan kisah Qin Wei, seorang seniman di Beijing, yang ditangkap untuk kedelapan kalinya pada 18 Mei 2016 saat membagikan komentar yang mengkritik Partai Komunis Cina. Dia saat ini ia ditahan dan didakwa “menggunakan sebuah aliran sesat untuk merusak penegakan hukum.” Sebelum itu, ia telah dipenjara selama lima tahun, karena keyakinannya. Wajahnya dirusak dengan tongkat listrik, dilarang tidur selama berbulan-bulan, dan bentuk penyiksaan lainnya.

Anggota keluarga Liu juga terdampak dalam banyak kasus penangkapan. Istri dan anaknya dibawa ke kantor polisi pada 3 Juni 2016. Sementara Liu sedang diinterogasi, sang anak  dibawa ke ruangan yang berbeda dan untuk menanyakan keterlibatan orang tuanya seputar Falun Gong. Anak berusia 4 tahun itu dibawa kembali pulang oleh keluarganya setelah 36 jam penahanan menakutkan. Ibunya ditahan di tahanan polisi selama satu bulan dan dibebaskan pada 4 Juli 2016.

Di Provinsi Hebei, sebelas praktisi ditangkap karena mengajukan tuntutan hukum terhadap Jiang Zemin antara 14 dan 20 Januari 2016. Setelah batas 15 hari penahanan sementara berakhir, polisi masih menolak untuk membebaskan mereka kecuali mereka setuju untuk menulis sebuah pernyataan yang menyangkal keyakinan mereka dan keluarga mereka untuk membayar denda dan biaya makanan.

Pada 14 Juni 2016, Wang Zhongxian, dari Kota Yantai, Provinsi Shandong pergi ke penjara untuk menjemput istrinya, Wang Haohong, yang telah dipenjara selama tujuh tahun. Bukannya pulang dengan istrinya, Wang sendiri ditangkap dan ditahan di Pusat Pencucian Otak Ling’nan. Ia dipindahkan ke Pusat Penahanan Zhaoyuan pada 21 Juni 2016 dan kunjungan keluarga ditolak.

Ketika keluarganya pergi ke Divisi Keamanan Domestik, 5 Agustus 2016 untuk menuntut pembebasannya, mereka diberitahu bahwa Wang telah dipindahkan ke Pusat Pencucian Otak Linglong. Keberadaannya sampai saat ini tidak diketahui.

Zheng Kaiyuan, 78 tahun, seorang pensiunan guru dari Kabupaten Hechuan di Chongqing, ditangkap pada 12 Juni 2016 dan dibawa ke Pusat Pencucian Otak Wuzun oleh agen dari Kantor 610 setempat. Ketika ia melakukan mogok makan untuk memrotes penganiayaan, petugas mengambil darah dan menyuntikkan beberapa obat yang tidak diketahui di sekitar hati dan limpanya. Dia segera mengalami atrofi otot dan nyeri yang sangat lama di seluruh tubuhnya. Dia sekarang terbaring tak berdaya di tempat tidur, sangat kurus, dan hanya minum dan makan makanan cair.

Meskipun beberapa praktisi dibebaskan tak lama setelah penangkapan mereka, sebagian besar dari mereka masih mendekam di tahanan. Tak jarang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, meskipun penahanan panjang secara hukum telah kedaluwarsa, namun tidak juga dibebaskan.

Selain siksaan fisik, juga tidak sedikit diantara mereka yang digantung hingga tewas. Sengat dengan tongkat listrik dan dipaksa makan makanan basi merupakan metode lain untuk menghanbisi anggota kelompok ini.

Ada juga kasus polisi secara paksa menyuntikkan obat yang tidak diketahui ke tubuh praktisi, yang menyebabkan berbagai gejala, termasuk atrofi otot, penglihatan kabur, kehilangan memori, dan penurunan berat badan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here