Menguak Misteri Kecilnya Gaji Pilot Lion Air GT-61-

0
257
Pilot Lion Air GT-610 Bhavye Suneja diketahui melaporkan gaji ke BPJS Ketenagakerjaan hanya Rp3,7 juta, sementara Lion Air merasa menggajinya sebesar US$9000 per bulan. Ada manipulasi angka gaji pilot Lion Air yang perlu diselidiki karena melanggar UU BPJS Ketenagakerjaan.

Nusantara.news, Jakarta – Kontroversi tragedi Lion Air tak hanya berhenti pada kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan GT-610. Rupanya praktik bisnis Lion Air masih meninggalkan jejak buram soak kepemilikan hingga gaji pilot yang direndah-rendahkan.

Dalam kasus pilot Lion Air GT-610 Bhavye Suneja, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan hanya akan memberikan manfaat santunan (kematian) sebesar Rp177 juta. Darimana angka tersebut?

Dalam rumus pemberian manfaat santunan (kematian), sesuai dengan UU BPJS Ketenagakerjaan No. 03/015 bahwa ahli waris penerima manfaat mendapatkan hak 48 x nilai gaji yang dilaporkan dalam dua bulan terakhir. Jika hak pilot sebesar Rp177 juta, maka diketahui gaji yang dilaporkan ke BPKS Ketenagakerjaan hanyalah Rp3,7 juta per bulan.

Di sinilah letak kejanggalan, bagaimana mungkin seorang pilot bergaji Rp3,7 juta, mendekati angka Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta. Padahal pilot baru atau pilot junior begitu bergabung ke maskapai penerbangan minimum bisa menerima gaji Rp40 juta.

Sementara pilot Bhavye Suneja adalah pilot senior dengan pengalaman 6.000 jam terbang. Berbeda dengan hitung-hitungan co-pilot Harvino melaporkan sendiri gajinya kepada BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp20 juta per bulan. Sehingga ia berhak menerima manfaat santunan (kematian) sebesar Rp960 juta.

Dari sini lah kejanggalan itu ditangkap oleh BPJS Ketenagakerjaan, berapa sebernya gaji pilot Lion Air GT-610?

Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto mengatakan pihaknya tak memiliki data mengenai besaran gaji sesungguhnya dari setiap perusahaan. Dia mengaku hanya menerima laporan dari perusahaan.

Agus juga mengatakan perlu melakukan pendalaman lebih lanjut apakah Lion Air telah sesuai memberikan laporan tersebut dengan gaji pegawai yang sesungguhnya.

“Perlu didalami lebih lanjut apakah upah yang dilaporkan ke BPJSTK memang benar dengan upah riilnya. Atau apakah upah riilnya memang sebesar yang dilaporkan ke BPJSTK,” demikian Agus.

Walau begitu, Agus tak menampik bahwa selama ini memang sudah menjadi rahasia umum bila ada perusahaan yang memberikan laporan tak sesuai dengan gaji para pegawainya. Hal itu biasanya dilakukan karena perusahaan tak ingin membayar premi yang besar kepada BPJS Ketenagakerjaan. Hal itu disayangkan karena nantinya nilai manfaat yang akan diterima oleh nasabah pun akan berkurang.

Agus menengarai masih ada yang (memperkecil laporan) seperti itu. Misalnya gaji sebenarnya Rp25 juta. Dilaporkan oleh perusahaan ke BPJSTK Rp3,7 juta. Jika pekerja meninggal, maka manfaat (santunan) kematian yang dibayar oleh BPJSTK Rp3,7 juta x 48. Sisanya perusahaan harus bertanggung jawab untuk membayar sebesar Rp21,3 juta x48.

Deputi Direktur Bidang Humas dan Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan Irvansyah Utoh Banja juga mengatakan, pelaporan besaran upah yang tak sesuai justru merugikan para pekerja yang terdaftar dalam program perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Sebab, semua manfaat program berbasis pada upah.

Misalnya pada Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) terdapat santunan sebesar 48 dikalikan dengan upah dilaporkan jika mengalami kecelakaan kerja berdampak meninggal. Atau pada Jaminan Hari Tua (JHT) yang bersifat tabungan dengan hasil pengembangan di atas rata-rata deposito bank pemerintah, saldo JHT juga berdasarkan akumulasi iuran based on upah dilaporkan.

Dia menjelaskan, seharusnya upah yang dilaporkan oleh perusahaan kepada BPJS Ketenagakerjaan berupa take home pay atau seluruh gaji rutin yang diterima oleh pegawai setiap bulannya.

Gaji pilot US$9000

Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait angkat bicara mengenai isu gaji pilotnya yang menerbangkan pesawat JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang mengalami insiden awal pekan ini. Dia membantah jika gaji pilotnya hanya sebesar Rp 3,7 juta.

“Mana mungkin pilot asing gajinya Rp3,7 juta, siapa yang mau? Jadi jawaban saya itu saja. Jadi itu nggak bener. Jawaban saya gitu aja,” tegas Edward membantah.

Pilot yang membawa pesawat Lion Air JT 610 saat itu ialah Bhavye Suneja. Dia merupakan pilot asing asal India yang bekerja untuk Lion Air.

Edward mengakui kalau ada perbedaan laporan dari perusahaan kepada BPJS Ketenagakerjaan tentang gaji pilot tersebut. Namun, ia tak menjelaskan mengapa Lion Air memberikan laporan yang berbeda kepada BPJS Ketenagakerjaan.

“Itu dulu mungkin waktu kita melaporkan mereka ikut BPJS sebagai tenaga kerja asing, jadi kita ambil itu. Bukan penghasilan mereka,” katanya.

Dengan demikian tidak mungkin pilot bergaji Rp3,7 juta. Namun hal itu terjadi karena kaitannya dengan BPJS Ketenagakerjaan sebagai tenaga kerja asing, sehingga ada catatannya.

Selain membantah besaran gaji pilotnya, dia juga membantah mengenai besaran gaji pramugari yang diterima hanya sebesar Rp3,6 juta. Dia bilang pramugari bisa mendapatkan penghasilan yang lebih dari itu. Pramugari mendapat gaji UMP, tapi menerima penghasilan lain seperti jam terbang dan lainnya.

Edward menegaskan, untuk pilot asing Lion Air menerapkan gaji sebesar US$9000 per bulan atau ekuivalen Rp137,16 juta. Hanya saja, ia tak menjelaskan mengapa Lion Air memberikan laporan yang berbeda kepada BPJS Ketenagakerjaan. Dia hanya mengatakan bahwa besaran gaji pilotnya tak seperti yang banyak disebutkan selama ini.

Dari sini terlihat jelas bahwa ada fakta, bahwa gaji pilot Bhavye Suneja sebesar US$9000 per bulan. Fakta lain ternyata yang dilaporkan kepada BPJS Ketenagakerjaan hanya Rp3,7 juta.

Dengan demikian ada upaya mengecil-ngecilkan pelaporan gaji pilot Lion Air ke BPJS Ketenagakerjaan hanya sebesar Rp3,7 juta. Hal ini tentu bertentangan dengan UU BPKS Ketenagakerjaan, bahkan terselip unsur kriminal atau manipulasi data gaji pilot.

Itu sebabnya, Kementerian Tenaga Kerja perlu mendalami praktik tidak jujur, atau praktik kriminal terkait pelaporan gaji pilot yang perlu diusut dan diselesaikan. Tentu saja ini bukan hal yang tanpa sebab, tentu ada kesengajaan yang membuat hal itu terjadi.

Pendalaman perlu dilakukan untuk memastikan, apakah hal itu memang disetting oleh Lion Air sebagai korporasi. Atau memang inisiatif pribadi pilot Bhavye Suneja agar beban BPJS Ketenagakerjaan lebih kecil dari seharusnya.

Apakah mungkin hal itu terjadi berkat kerjasama dengan orang dalam BPJS Ketenagakerjaan. Dengan demikian semua harus dibuka setransparan mungkin agar tidak ada kejadian serupa di kemudian hari.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here