Babak Baru Bisnis Pertamina (2)

Mengubah Potensi Kegagalan Menjadi Keberhasilan

0
51
Pertaruhan bisnis Pertamina ketika ia bisa menguubah segala kendala mengelola Blok Rokan menjadi keberkahan untuk bangsa.

Nusantara.news, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk mempercayakan pengelolaan Blok Rokan kepada PT Pertamina (Persero). Praktis mulai 2021, Pertamina benar-benar menjadi tuan rumah di tanah sendiri.

Keputusan ini murni diambil atas dasar pertimbangan bisnis dan ekonomi setelah mengevaluasi pengajuan proposal Pertamina yang dinilai lebih baik dalam mengelola blok tersebut dibandingkan pengelola lama, yakn Chevron Pacific Indonesia.

Indikasi utamanya kelebihan proposal Pertamina adalah, Signature Bonus yang disodorkan Pertamina sebesar US$784 juta atau sekitar Rp11,3 triliun dan nilai komitmen pasti sebesar US$500 juta atau Rp7,2 triliun dalam menjalankan aktivitas eksploitasi migas.

Besarnya angka tersebut juga membuktikan bahwa secara finansial Pertamina masih dalam kondisi sehat.

Terpilihnya Pertamina sebagai pengelola, akan meningkatkan kontribusi Pertamina terhadap produksi migas nasional. Sejauh ini, porsi Pertamina produksi migas nasional telah meningkat dari sekitar 23% saat ini, menjadi sebesar 36% pada tahun 2018 dan 39% tahun 2019 saat blok migas terminasi mulai aktif dikelola Pertamina.

Antisipasi kabar buruk

Sebagaimana lazim dikenal pameol di kalangan industri migas, sumber daya alam yang kaya kalau salah kelola bisa menjadi kutukan. Sumber daya alam di Blok Rokan yang seharusnya menjadi berkah buat bangsa ini, bisa saja berubah menjadi bencana, terutama jika ada salah kelola, intervensi yang berlebihan dan hanky pengky para pemburu renta.

Kalau ini terjadi, tentu ini adalah kabar buruk yang perlu diantisipasi. Rinciannya kabar buruk yang tidak perlu terjadi itu antara lain, pertama, misalnya Pertamina tidak siap dari segi SDM, teknologi maupun keuangan, sehingga produksi Blok Rokan yang menyumbang hingga 30% terhadap minyak nasional bisa merosot atau gagal sama sekali.

Kalau ini terjadi, maka total impor minyak mentah bisa melonjak tidak lagi 800.000 barel per hari. Tentu kita semua tak menginginkan hal ini terjadi, itu sebabnya Pertamina harus dipastikan siap baik dari segi SDM, teknologi maupun keuangan. Kalau tidak siap, tentu bisa saja menggunakan jasa pihak ketiga yang di dunia migas hal itu biasa terjadi.

Untuk itu tidak ada salahnya jika Pertamina tetap meng-hire Chevron sebagai mitra operator Pertamina dalam mengelola Blok Rokan. Karena Chevron sudah teruji selama 49 tahun terakhir menangani blok minyak paling basah tersebut.

Kedua, kalau sampai Pertamina sebagai operator mengalami kegagalan dalam mengeksplorasi lanjutan Blok Rokan, maka bisa menjadi bencana migas. Potensi kegagalan itu bisa dari sisi SDM, teknologi, keuangan, bahkan metodologi.

Sebagaimana yang pernah didengar, jika Pertamina yang mengelola jangan sampai terjadi seperti kasus PT Lapindo Berantas (anak perusahaan dari PT Energi Mega Persada), menimbulkan kerugian dan kesalahan dari teknik pengeboran yang hasilnya negara dirugikan bahwa itu disebutkan menjadi bencana nasional. Yang memikul kerugian malah rakyat Indonesia.

Ketiga, dalam kasus Blok Rokan sikap Pemerintah Jokowi mendua terkait kondisi keuangan Pertamina. Di satu sisi Pertamina dimenangkan karena dianggap kondisi keuangannya bagus dan mampu mengelola Blok Rokan dengan segala bonus yang diberikan.

Pada sisi lain, Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno memberikan surat kepada manajemen Pertamina yang membolehkan manajemen melakukan aksi korporasi. Termasuk diantaranya menjual aset-aset di bisnis hulu. Dua informasi yang tidak simetris ini ditangkap pasar tidak sinkron dan itu adalah kabar buruk buat pasar.

Faktanya, kondisi keuangan Pertamina memang menurun, terutama laba bersih dan penerimaan, pada saat yang sama beban biaya Pertamina terus melonjak. Sehingga sampai 2021 kinerja keuangan Pertamina akan terus menurun.

Keempat, dalam bekerjasama dengan Chevron nantinya, Pertamina jangan mau didikte, tapi justru Pertamina yang harus memegang kendali. Kalau sampai Pertamina didikte karena kelemahan SDM, Teknologi, maupun keuangan, maka Pertamina akan merugi karena dibohongi Chevron.

Kelima, dalam Undang-Undang APBN 2018 disebutkan sebagai public service obligation (PSO), Pertamina dibebani penugasan menjual BBM bersubsidi sehingga Pertamina mengalam kerugian akibat hal tersebut. Kerugian itu harusnya langsung dibayar APBN 2018 karena memang likuiditas pemerintah kering, namun mekanisme itu tak jalan, alias pemerintah melanggar UU APBN 2018.

Profil Blok Rokan

Blok Rokan adalah blok terbesar di RI yang selama 94 tahun terakhir dikuasai oleh Chevron Pasific Indonesia. Perusahaan migas asal Amerika Serikat ini, pertama kali datang ke Sumatra dan ekspedisi di lokasi tersebut pada 1924. Dan, melakukan produksi pertama pada 1952.

Produksi di PSC Rokan dimulai pada Mei 1952, saat lapangan Minas beroperasi dengan tingkat produksi awal 15.000 barel/hari. Tingkat produksi ini kemudian melesat menjadi lebih dari 100.000 barel/hari, saat pengiriman produksi dipindah dari Pakning ke Dumai. Tidak lama, produksi skala penuh di Duri dimulai pada tahun 1957.

Selama akhir 1960-an hingga awal 1970-an, lapangan minyak yang jumlahnya tak terhitung mulai terkoneksi dengan berkembangnya pembangunan infrastruktur jalur pipa. Pada Mei 1973, produksi memuncak hingga hampir mencapai 1.000.000 barel/hari.

Kini, berdasar data SKK Migas, rata-rata produksi di blok Rokan mencapai 210 ribu barel per hari dan dikuasai 100% oleh Pertamina.

Dengan rata-rata produksi 210 ribu barel per hari, siapa tidak tergiur untuk menyuntikkan bor di sumur minyaknya.

Sebagaimana diketahui, blok Rokan adalah daerah produsen minyak terbesar di Indonesia, berlokasi di Sumatera bagian Tengah, dan terdiri dari lebih dari 90 lapangan yang berproduksi, termasuk “raksasa” Minas dan Duri yang dioperasikan oleh Chevron Pacific Indonesia (CPI). CPI merupakan perusahaan Indonesia yang dimiliki oleh Chevron.

Secara historis, area CPI terdiri dari empat wilayah kontrak: PSC Rokan, PSC Siak, PSC Mountain Front-Kuantan, dan PSC Coastal Plains-Pekanbaru. Akan tetapi, pada awal 2014, hanya PSC Rokan yang dioperasikan oleh CPI.

Pada tahun 1985, CPI mengimplementasikan program Enhanced Oil Recovery (EOR), yang mencakup penggunanaan injeksi air dan uap (steam flood). Hal ini berhasil memperpanjang usia dari banyak lapangan minyak milik CPI, termasuk Minas dan Duri. Hingga hari ini, area CPI mengelola proyek stream flood terbesar di dunia, di mana faktor pemulihannya saat ini mencapai 50%.

Selain itu, proyek percontohan injeksi polimer/surfactant untuk meningkatkan tingkat pemulihan minyak di lapangan Minas telah dioperasikan dalam beberapa tahun terakhir. Sekitar 20 sumur injeksi dibor selama 2013-2014 untuk keperluan proyek percontohan.

Meskipun skala dari proyek percontohan ini sedikit demi sedikit meningkat, hingga saat ini masih dalam tahap uji coba, sehingga belum berdampak pada produksi PSC Rokan secara keseluruhan. Biaya yang tinggi dari bahan kimiawi surfactant menjadi salah satu alasan utama metode ini belum diimplementasikan secara penuh.

Pertanyaannya, apakah kehadiran Pertamina sebagai operator baru Blok Rokan akan membuat Pertamina pulih dan bahkan menjadi semakin besar? Atau justru sebaliknya menimbulkan banyak masalah karena keterbatasan SDM, teknologi, metodologi maupun keuangan?

Kita semua berharap Pertamina akan semakin besar.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here