Menguji Daya Tahan Rupiah Jelang Kenaikan Bunga The Fed

0
57
Daya tahan rupiah pada 2018 akan menghadapi ujian yang amat berat. Rencana kenaikan bunga Fed Fund Rate akan menjadi faktor penekan dengan durasi empat kali dalam tahun ini.

Nusantara.news, Jakarta – Rencana Federal Reserve menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) tinggal menghitung hari, sementara rupiah dan mata uang utama dunia sudah merespon negatif. Akan kah rupiah terus melemah?

Rumors yang berkembang FFR pertama akan dinaikkan antara 21-23 Maret 2018 ini, sedikitnya tahun ini akan dilakukan kenaikkan FFR tiga hingga empat kali. Tentu saja ini menjadi PR bersama gubernur bank-bank sentral di dunia.

Ada beberapa faktor pelemahan rupiah beberapa waktu belakangan ini, antara lain ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS. Faktor lainnya adalah terkait proposal penurunan pajak AS dan konsolidasi ekonomi AS.

Sambil mengalami pelemahan rupiah yang signifikan, terjadi peningkatan risiko kredit perbankan. Terutama ditandai dengan kredit macet di industri perbankan pada 2017 akan berlanjut pada 2018.

Kredit macet perbankan nasional yang harus direstrukturisasi pada 2017 tercatat Rp259,9 triliun. Dari jumlah tersebut, sumbangan kredit macet bank-bank pelat merah mencapai Rp132,6 triliun, dengan rincian Bank Mandiri Rp49,93 triliun, BRI Rp41,37 triliun, BNI Rp28,59 triliun dan BTN Rp12,76 triliun.

Total kredit macet dan harus direstrukturisasi tersebut tentu saja terbawa (carry forward) hingga 2018 karena memang belum ada solusi yang kongkret selain restrukturisasi. Sementara di 2018 banyak sekali beban utang yang akan jatuh tempo, ditambah defisit anggaran yang membengkak dan shortfall pajak yang makin besar.

Di sisi lain credit default swap (CDS) Indonesia belakangan terus meningkat ke posisi 103,15, merupakan level tertinggi sejak Januari 2018. CDS Indonesia sempat menyentuh level terendah pada 9 Januari 2018 di level 76,92. Peningkatan CDS sepanjang 2018 sebesar 16,2% juga merupakan yang tertinggi di kawasan Asia setelah Pakistan 30,8%.

Sementara sejak Januari—Maret 2018, terjadi aliran total dana masuk dan keluar (capital infow dan capital flight) mencapai Rp61,75 triliun. Di Januari 2018 terdapat dana masuk sebesar Rp33,6 triliun, sementara Februari keluar lagi Rp21,55 triliun, kemudian sampai 20 Maret 2018 keluar lagi Rp6,6 triliun.

Ini menunjukkan dinamika dana investor asing di Surat Berhaga Negara (SBN). Sementara arahnya ke depan capital flight ke depan semakin meningkat karena investor asing merespon penguatan rupiah.

Ditambah pula utang Indonesia terus meningkat menjadi Rp4.965 triliun sampai Januari 2018. Sementara Indef mencatat utang Indonesia telah tembus Rp7.000 triliun. Lepas dari perbedaan data tersebut, yang jelas trend utang meningkat bakal menjadi faktor penekan rupiah ke depan.

Fundamental kuat

Sementara Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara meyakini pelemahan tersebut bersifat temporer alias sementara. Pada akhirnya, daya tahan nilai tukar akan bergantung kepada fundamental ekonomi masing-masing negara.

“Pada akhirnya kembali ke fundamental masing-masing. Yang jelas kalau fundamental kita baik-baik saja ya oke-oke saja,” ujar Mirza.

Mirza menyebut, bank sentral memandang neraca pembayaran Indonesia dalam kondisi yang sehat. Bahkan, proyeksi neraca pembayaran direvisi ke atas menjadi US$11 miliar pada 2017.

Sebelumnya, neraca pembayaran Indonesia diproyeksikan surplus sebesar US$6 miliar, kemudian direvisi menjadi US$9 miliar. Untuk tahun 2018, surplus neraca pembayaran diproyeksikan mencapai US$6 miliar.

Sementara itu, inflasi indeks harga konsumen (IHK) juga terjaga dengan baik, di mana pada September 2017 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan (mtm). Dengan demikian, secara tahunan inflasi IHK berada pada posisi 3,72%.

“Inflasi kita kemungkinan bisa di bawah 4%, bisa mendekati 3,5%. Tapi kita mesti harus pantau,” jelas Mirza.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga membaik pada pada 2017 sebesar 5,07%. Meskipun demikian, Mirza mengakui laju pertumbuhan ekonomi Indonesia belum terlampau kencang.

Secara umum kondisi perekonomian Indonesia baik.  Jadi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat.

Hanya saja cadangan devisa Indonesia harus tergerus US$3 miliar menjadi US$128,06 miliar demi mempertahankan rupiah tetap bertengger di kisaran Rp13.765 per dolar AS. Seandainya Bank Indonesia tidak melakukan intervensi, boleh jadi rupiah bisa melambung di atas Rp15.000 per dolar AS.

Demi tetap hadir di pasar, BI juga berkomitmen siap mempertahankan rupiah dengan sisa cadangan devisa yang ada.

Daya tahan rupiah

DBS Group Research menurunkan proyeksi rentang perdagangan rupiah terhadap dolar antara 5,5% hingga 6,1%. Dolar AS pun diperkirakan tidak akan mencapai lebih dari Rp 14.000 untuk satu tahun ke depan. Kendati demikian, rupiah tidak berarti kebal terhadap pergerakan mata uang global.

Contohnya ketika Tiongkok mendevaluasi mata uangnya pada Januari tahun ini, rupiah kembali terdepresiasi. Begitu pula ketika rakyat Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) pada Juni 2017.

Dengan demikian kerentanan likuiditas Indonesia memang sudah berkurang dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi, rencana kenaikan suku bunga AS tetap bisa mempengaruhi pergerakan rupiah  ke depan. Faktor risikonya terutama berasal dari utang luar negeri yang terus meningkat serta cadangan devisa yang masih rendah.

Tekanan jual terhadap rupiah dapat balik lagi jika utang luar negeri jangka pendek dan defisit transaksi berjalan memburuk lagi.

Upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi kelihatannya masih menghadapi tantangan karena terbatasnya ruang untuk menaikkan defisit anggaran. Meskipun sejak September tahun lalu sudah 13 paket kebijakan yang dikeluarkan.

Salah satu andalan dalam jangka pendek adalah program amnesti pajak yang ditargetkan dapat menarik dana repatriasi hingga Rp1.000 triliun atau sekitar US$75 miliar. Selain untuk meningkatkan penerimaan negara dan membiayai proyek infrastruktur, keberhasilan program amnesti pajak sekaligus akan memperbaiki kredibilitas fiskal pemerintah.

Persoalannya kemudian, bagaimana mungkin peringkat investasi naik, sementara utang bertambah lantaran naiknya peringkat utang, sedangkan pertumbuhan ekonomi malah stagnasi. Tentu ada yang tak beres dalam pengelolaan ekonomi belakangan ini, karena ada variabel yang tidak terdeteksi oleh pemerintah.

Inilah yang bakal menjadi taruhan seberapa kuat daya tahan nilai tukar menghadapi kondisi ekonomi global yang terus memburuk.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here