Polisi Bertarung di Pilkada 2018 (1)

Menguji Elektabilitas Jenderal Polisi

0
423

Nusantara.news, Jakarta – Pemilihan Kepala Daerah serentak tahun 2018 nanti rupanya merangsang syahwat politik banyak orang. Tak hanya politisi yang terpincut, tapi juga artis, pengusaha, seniman dan aneka profesi lainnya. Tak ketinggalan sejumlah jenderal militer dan polisi yang sudah di penghujung masa dinas aktif, juga bakal meramaikan arena.

Dari kalangan TNI, sampai saat ini sudah ada nama Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi. Edy, lelaki suku Melayu Deli yang abituren Akademi Militer tahun 1985 itu, memasang tekad maju ke Pilkada Gubernur Sumatera Utara. (Lihat: https://nusantara.news/pangkostrad-maju-pilkada-uji-coba-elektabilitas-tni/)

Sementara dari kepolisian sudah ada beberapa perwira tinggi aktif yang kabarnya akan mencoba peruntungannya di kontestasi pemilihan gubernur. Sebutlah misalnya, Komandan Korps Brimob Polri, Irjen Pol Murad Ismail. Putra Waihaong, Ambon ini, akan maju dalam Pilkada Maluku. “Saya siap membangun Maluku,” ujar Murad, yang konon akan diusung Partai Nasdem ini. ‘’Maluku ini perlu diperbaiki,’’ ujarnya.

Juga ada nama Wakil Kalemdiklat Polri, Irjen Pol Anton Charliyan, yang disebut-sebut bakal bertarung di Pilkada Jabar, karena namanya masuk dalam radar PDIP. “Ada beberapa nama hasil penjaringan, salah satunya mantan Kapolda Jabar, Pak Anton Charliyan”, kata Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto. Selain itu Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Paulus Waterpauw, kabarnya juga digadang-gadang untuk terjun arena Pilgub di kampung halamannya, Papua.

Namun, Anton dan Paulus belum secara terbuka menyatakan niatnya untuk maju. “Kalau ada partai dan masyarakat yang mendukung, Kapolri juga dukung, saya siap,” kata Anton. Jawaban sama diberikan Paulus. “Terserah pimpinan, jika ada perintah atau restu maka sebagai prajurit saya siap,” ujarnya.

Paulus bisa jadi berhitung agak panjang. Sebab, pria kelahiran Fakfak 25 Oktober 1964 ini, masih bisa berdinas di kepolisian sampai tahun 2022. Apalagi karir alumni Akpol 1987 ini cukup cemerlang. Dengan sekarang memimpin polda tipe A, prospek karirnya masih terbuka luas. Sampai pensiun lima tahun lagi, jumlah bintang di pundaknya masih bisa bertambah.

Berbeda dengan Murad Ismail. Pria kelahiran tahun 1960 ini sudah harus pensiun September tahun depan. Dengan masa dinas kurang dari setahun, rasanya kecil peluang lulusan Akpol 1985 ini meraih bintang tiga. Karena itu, bisa jadi kalkulasi Murad tak sepanjang Paulus Waterpauw. Anton Charliyan mungkin akan memiliki pertimbangan yang sama dengan Murad. Anton, lulusan Akpol 1984, akan pensiun November tahun depan.

Selain kedua pati itu, ada juga pamen Polri yang menggantungkan harapan dalam Pilkada. Dia adalah Kombes Pol Syafiin, analis madya Divisi Hukum Polri. Mantan Kepala Biro Umum Sekretaris Militer Kepresidenan itu sudah mendaftar ke DPD Partai Demokrat Jatim untuk menjadi calon gubernur di provinsi itu. “Saya siap mundur dari polisi jika Partai Demokrat memilih saya sebagai cagub atau cawagub Jatim,” katanya.

Sementara dari purnawirawan polisi ada nama Irjen Pol (Purn) Prof. Dr. Farouk Muhammad, wakil ketua DPD. Mantan Gubernur PTIK kelahiran Bima ini menyasar jabatan Gubernur NTB. Farouk sudah resmi mendaftar ke Partai Demokrat NTB. “Saya serius maju pilkada,” kata lulusan Akabri Kepolisian 1972 ini.

Farouk mengincar Sitti Rohmi Djalilah, kader Partai Demokrat yang telah mendapat dukungan partai itu untuk maju sebagai bakal calon gubernur atau wakil gubernur.

Pensiunan pati Polri lain yang sudah bulat tekadnya menjadi kepala daerah adalah Brigjen Pol Siswandi Adi, reserse narkoba yang terkenal itu. Lulusan Akpol 1984 yang baru saja pensiun bulan Juli kemarin menetapkan “target operasinya” lebih rendah: Walikota Cirebon. Nama Siswandi adalah salah satu dari 10 nama yang direkomendasikan DPD Partai Golkar Cirebon ke DPP Partai Golkar.

“Insya Allah niat saya sudah bulat untuk maju di pilkada Kota Cirebon. Motivasi saya hanya satu, membawa Kota Cirebon lebih maju dari sekarang,” ujarnya.

Selain itu ada nama pensiunan pati Polri yang beredar untuk maju Pilkada, meski sinyalnya belum sekuat Farouk dan Siswandi. Untuk Pilkada Jatim saja, ada dua nama yang beredar, misalnya dua mantan Kapolda Jatim, Irjen Pol (Purn) Hadiatmoko dan Irjen Pol (Purn) Anton Setiadji.

Hadiatmoko adalah Ketua DPD PKPI Jawa Timur, dan Anton adalah Ketua DPD Partai Berkarya Jawa Timur. Kedua partai ini memang tak bisa mengusung calon, namun mereka berharap dipinang calon gubernur yang jadi pendamping. Bisa jadi mereka ingin meniru mantan Kapolda Jatim lain, Irjen Pol (Purn) Herman S. Sumawiredja, yang digandeng Khofifah Indar Parawansa dalam Pilgub 2013.

Harapan menjadi pendamping itu sudah terucap dari mulut Anton. Peraih Adhi Makayasa Akpol 1983 ini menyatakan siap menjadi pendamping Khofifah, karena partai bentukan Tommy Soeharto itu sejak jauh hari menjadi pendukung Khofifah.

Menakar Peluang

Sebesar apa peluang para polisi ini untuk terpilih? Banyak faktor penentunya. Dari segi kemampuan pribadi, jelas mereka mumpuni. Sebab, dari segi usia, mereka belum terlalu tua, rata-rata masih 60-an tahun. Kecuali Farouk Muhammad yang sudah berusia 69 tahun pada saat pilkada nanti.

Berbeda dengan orang sipil,  berkat disiplin militer, kondisi fisik mereka relatif masih cukup tangguh. Dari segi pengalaman, rata-rata pernah memimpin wilayah setingkat provinsi atau bahkan lebih. Misalnya sebagai kapolda atau kapolres. Dari aspek pendidikan, mereka juga sangat memadai. Seorang jenderal sudah pasti lulusan akademi kepolisian. Setelah itu mereka juga harus menjalani serangkaian pendidikan kedinasan untuk kepentingan kenaikan pangkat. Artinya, dari aspek-aspek ini, harus diakui mereka relatif lebih baik ketimbang rata-rata politisi sipil. Farouk bahkan bergelar profesor dan meraih doktor dari Florida State University, Amerika Serikat.

Selain itu, tentu saja, dukungan partai. Soal ini masih menjadi persoalan, sebab belum ada rekomendasi resmi dari partai politik untuk menetapkan mereka sebagai calon, entah untuk kepala atau wakil kepala daerah.

Mencari partai pendukung ini tak gampang. Kalaupun rekomendasi satu partai sudah diterbitkan, para calon itu masih harus berjibaku mencari partai koalisi. Sebab, di semua daerah pencalonan yang bakal diramaikan oleh para pati Polri itu, nyaris tak ada yang memenuhi ambang batas pencalonan 20 persen kursi atau 25 persen pemilih.

Murad Ismail, kalau jadi diusung Partai Nasdem, masih perlu berjuang mencari mitra. Sebab Nasdem hanya punya 4 kursi, dari 45 kursi DPRD Maluku. Seniornya, Farouk Muhammad, juga sama. Jika benar dicalonkan Partai Demokrat, kekurangan kursinya masih banyak. Partai ini hanya punya 8 kursi dan 65 kursi DPRD NTB.

Selain itu, potensi elektabilitas mereka memang belum ada yang teruji. Kecuali Farouk, yang sudah dua kali terpilih menjadi anggota DPD dari NTB. Untuk periode kedua ini, Farouk mengantongi suara pemilih sebanyak 152.306. Setidaknya itu bisa menjadi modal awal untuk pilkada nanti.

Dari sisi ini, Farouk mungkin bisa optimistis. Sebab, calon pesaingnya di pilkada nanti semuanya adalah muka baru. Gubernur saat ini, TGH M Zainul Majdi, tidak boleh lagi maju karena sudah dua kali menjabat. Saingan Farouk, dari segi popularitas, adalah Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Tetapi, dalam Pemilu 2014 lalu, perolehan suara Farouk jauh melampaui Fahri yang hanya meraih 125.083 suara –walau tak bisa dibandingkan secara lurus, karena Fahri bertarung untuk DPR sedangkan Farouk di DPD. Pesaing berat lainnya adalah Wagub saat ini, Muhammad Amin, yang sudah pula menegaskan akan maju menjadi calon gubernur pada Pilkada 2018.

Hal yang menarik dari pencalonan para pati polisi ini adalah mereka bertarung di kampung halamannya sendiri dan pernah menjadi daerah tugas sebagai kapolda. Murad Ismail kelahiran Ambon dan mantan Kapolda Maluku. Farouk lahir di Bima dan pernah menjadi Kapolda NTB. Begitu juga dengan Anton Setiadji, arek Malang yang pernah menjadi Kapolda Jatim. Hanya Siswandi Adi yang bukan putra daerah Cirebon. Dia orang Jawa yang lahir di Medan, namun pernah tiga tahun menjadi Kapolresta Cirebon. (bersambung)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here