Mengukur Kekuatan Politik Prabowo-Sandiaga Uno

0
165
Pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Sandiaga Uno

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa waktu lalu, Prabowo Subianto telah mengumumkan Sandiaga Salahudin Uno sebagai cawapres yang akan mendampinginya di Pilpres 2019. Pada Kamis (9/8/2018) malam, di kediamannya, di Jalan Kertanegara, Jakarta, diiringi sorak sorai massa pendukung, Prabowo mendapuk wakil gubernur DKI Jakarta ini setelah melalui pembahasan dan lobi-lobi yang alot dengan partai koalisi.

“Pimpinan tiga partai politik, yaitu PKS, PAN, dan Gerindra, telah memutuskan dan memberi kepercayaan kepada saya, Prabowo Subianto, dan Saudara Sandiaga Uno untuk maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden untuk masa bakti 2019-2024,” ujar Prabowo.

Muculnya nama Sandi di detik-detik akhir pendaftaran capres-cawapres ini tentu mengejutkan banyak pihak. Selain dianggap sama-sama dari partai Gerindra yang dikhawatirkan tak akan banyak mendongkrak elektabilitas pasangan ini, juga berpotensi tak mendapatkan dukungan total dari basis massa PKS ataupun Demokrat, yang sejak awal sama-sama menginginkan kadernya jadi calon RI-2. Sementara PAN relatif lebih berlapang dada.

Peluang Menang Prabowo-Sandi Lebih Besar dari Petahana

Di atas kertas, beberapa polling baik yang diadakan sejumlah lembaga maupun tokoh sesaat setelah pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), menempatkan posisi Prabowo-Sandi jauh lebih unggul dari pasangan petahana Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

Misalnya: Indonesia Lawyer Club (Jokowi-Ma’ruf Amin 26%, Prabowo-Sandiaga Uno 63%, Tidak memilih 11%), Media Online Kumparan (Jokowi-Ma’ruf Amin 21%, Prabowo-Sandiaga Uno 79%), Radio Elshinta (Jokowi-Ma’ruf Amin 21%, Prabowo-Sandiaga Uno 79%), Polling Pilpres 2019 – 2024 (Jokowi-Ma’ruf Amin 23%, Prabowo-Sandiaga Uno 77%), Fahira Idris (Jokowi-Ma’ruf Amin 16%, Prabowo-Sandiaga Uno 79%), dan Iwan Fals (Jokowi-Ma’ruf Amin 27%, Prabowo-Sandiaga Uno 68%, Tidak memilih 5%).

Pengamat Politik Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai, peluang pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menarik massa tengah lebih besar ketimbang pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin. Massa tengah yang dimaksud Ray adalah massa yang belum menentukan pilihan politik. “Potensi dari Prabowo-Sandi lebih banyak peluang menarik massa. Kalau dilihat yang sektor tengah, ingin pemilih milenial, kelompok kelas menengah, terdidik yang di mana figurnya Sandiaga bisa masuk ke sini,” kata Ray dalam diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2018).

Ray berpendapat sebaliknya terhadap Ma’aruf Amin. Menurut dia, Ma’aruf tak memiliki daya tarik di kalangan massa tengah. Hadirnya Ma’aruf Amin sebagai pendamping Jokowi dinilai menimbulkan risiko massa tengah akan menunda pilihan politiknya.

“Pak Prabowo punya potensi mendulang suara. Selama ini kan problemnya Pak Prabowo bagaimana menarik kelompok tengah. Problemnya Pak Jokowi sebenarnya bukan kelompok tengah, tapi dengan Pak Ma’aruf hadir, yang tadinya 60 persen ke Pak Jokowi, bisa jadi menunda,” terang Ray.

Senada, peneliti politik Dedi Kurnia Syah mengatakan, peluang Prabowo-Sandiaga lebih besar dari petahana. “Prabowo memiliki potensi mendulang suara baru, dari kalangan muda dan ibu-ibu, magnetnya ada pada performa Sandiaga Uno,” ujar Dedi.

Sementara Jokowi-Maruf Amin, tambah Dedi, basis pemilihnya kelompok loyalis parpol dan organisasi Islam semisal NU, tetapi tak lantas masyarakat NU kelas bawah dapat tergiring, dan Sandiaga hadir untuk meraup kalangan pemilih di luar itu, dan jumlahnya berpotensi lebih banyak dibanding Jokowi.

Pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno didampingi para petinggi partai pendukung seperti Gerindra,PKS, PAN, dan Demokrat saat mendaftar ke KPU

Memang tak dipungkiri, pertimbangan Prabowo memilih Sandiaga, tampaknya selain sebagai jalan tengah di antara kebuntuan politik dalam koalisinya, juga karena mewakili elite politik baru yang berasal dari kalangan pengusaha-profesional, yang diharapkan mampu mengelola isu-isu ekonomi. Hal ini sekaligus menunjukkan Prabwowo ingin menawarkan narasi baru yang lebih fresh dan menjual, tak melulu pada politik identitas keagamaan. Sebab, jika Prabowo masih menggunakan narasi lama, sepertinya akan susah bersaing dengan Jokowi.

Namun jika narasi kampanye Prabowo-Sandiaga berubah, misalnya soal isu ekonomi, keadilan, kesejahteraan rakyat, protoleransi, dan nasionalisme, maka Jokowi akan kesulitan memenangi pemilu. Terlebih, kubu Jokowi kerap melambungkan narasi-narasi lawas yang diulang-ulang dan membosankan seperti intoleransi, tudingan hoax, tolak politik identitas dan politisasi agama. Tema-tema narasi itu, utamanya soal politisasi agama dan politik identias, kini jutsru menjadi warna baru politik kubu Jokowi. Sehingga dalam konteks ini, pragmatisme Jokowi dalam memilih cawapres lebih “telanjang” ketimbang Prabowo.

Kekuatan lainnya, dengan memilih cawapres Sandiaga, Prabowo bisa menarik suara dari kelompok milenial (pemilih muda) yang jumlahnya lebih dari 50 persen dari total jumlah pemilih pada Pilpres 2019, perempuan, dan ibu rumah tangga (emak-emak) yang juga signifikan populasinya. Jika tiga “golongan” pemilih ini mampu digaet maksimal, tentu merupakan kunci kemenangan bagi Prabowo-Sandi.

Pasangan Prabowo-Sandi juga diyakini mewakili kombinasi militer-sipil, Jawa-luar Jawa, Nasionalis-Santri (post-Islamisme), dan Tua-Muda. Sesuatu yang tidak dimiliki Jokowi-Ma’ruf Amin. Pun jangan lupa, tampilan luar seperti wajah tampan Sandi dan estetika lainnya, masih jadi penentu preferensi pemilih tradisional. Tak hanya itu, sebagai orang yang pernah masuk jajaran orang terkaya di Indonesia versi Forbes, Sandi dinilai mampu “mengamankan logistik” selama Pilpres.

Di luar itu, kekuatan tambahan Prabowo-Sandi terbantu dari kampanye politik #2019GantiPresiden yang diluncurkan oleh pihak yang tak puas dengan pemerintahan Jokowi, juga kekuatan dari kelompok Islam politik seperti Persaudaraan Alumni 212 dan GNF-U yang dikenal berseberangan dengan Jokowi. Terakhir, peluang menang Prabowo-Sandi cukup terbuka mengingat pasangan ini didukung oleh mesin politik paling militan dengan basis massa loyal (PKS dan PAN) serta hadirnya sosok jago strategi sekelas mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here