Mengukur Peluang Menang di Pilgub Jatim 2018

0
187
"Dua calon yang maju di Pilgub Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf"

Nusantara.news, Surabaya – Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), khususnya untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 2018 diprediksi bakal seru. Lantaran dua nama yang muncul sama-sama berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU), yakni Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa.

Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dipastikan memiliki basis massa pendukung yang tidak bisa di anggap enteng, peluang menang sangat memungkinkan. Selain pernah menjabat sebagai Ketua GP Ansor Jatim, Gus Ipul yang merupakan incumbent juga terimbas dengan keberhasilan Pemerintah Provinsi Jatim, karena dua periode mendampingi Soekarwo sebagai Wakil Gubernur Jatim. Namanya yang pernah bertengger di pemerintahan pusat, yakni pernah menjabat Menteri Desa Tertinggal, meski kemudian diganti karena kisruh internal PKB saat itu, bisa jadi merupakan penilaian perjalanan positifnya sebagai modal menapaki ring pertandingan di Pilgub Jatim.

Sementara, Khofifah yang menjabat Ketua Muslimat NU, juga pernah menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan di era pemerintahan Presiden RI Abdurrahman Wahid, serta Menteri Sosial di Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla, juga tak kalah moncer dibanding Gus Ipul.

Baca juga: Khofifah-Emil Siap Berlaga, Menangi Pilgub Jatim 2018

Sejumlah prestasi selama menjabat Ketua Muslimat NU, dan kiprahnya yang berurusan dengan wong cilik sebagai Menteri Sosial, dipastikan menjadi senjata hebat Khofifah untuk mendulang suara di Pilgub Jatim.

Lantas, bagaimana mengukur peluang kekuatan atau memastikan massa dari masing-masing kandidat benar-benar menjelma sebagai pemilih setia untuk memenangi pemilihan Gubernur Jatim? Dan, faktor apa saja yang dimungkinkan bakal menjadi batu rintangan untuk memetik kemenangan?

Bisa jadi hal ini menjadi kendala, misalnya yang sejak awal Gus Ipul tersebar maju berdampingan dengan Abdullah Azwar Anas sebagai bakal calon wakilnya. Tiba-tiba di detik-detik akhir nama Anas kemudian tumbang lantaran tersandung beredarnya foto syur dengan seorang perempuan dan menjadi viral. Posisi Anas kemudian digantikan munculnya nama Puti Guntur Soekarno. Kemunculan Puti Guntur di detik akhir waktu pendaftaran bisa jadi akan berimbas pada posisi tidak menguntungkan untuk Gus Ipul. Selain, masyarakat Jatim yang terlanjut gandrung dengan sosok Anas, namun kemudian tersandung badai dan mundur. Kemunculan Puti Guntur, yang pastinya tidak semua masyarakat di Jatim mengenal sosok cucu Bung Karno akan memunculkan keraguan, dan berpaling menyalurkan pilihan ke pasangan Khofifah-Emil.

Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno

Sementara, Khofifah setelah melalui proses perumusan oleh Tim Sembilan yang diketuai KH Solahudin Wahid atau Gus Sholah dengan nama besar Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Yang dalam perjalanannya kemudian muncul nama Emil Elistianto Dardak sebagai calon wakil gubernur, itu akan menambah magnet merasuk ke pikiran dan selera pemilih untuk mengarahkan pilihan ke pasangan Khofifah-Emil. Magnet pilihan itu, dipastikan karena “nama bersih” Khofifah yang merepresentasikan sosok perempuan pekerja serius, pantang menyerah dan selalu hadir di tengah rakyat, khususnya untuk mengatasi kesulitan.

Namun, apa pun yang pernah dan terus dilakukan oleh masing-masing kandidat untuk unggul di Pilgub Jatim semua berpulang pada masyarakat khususnya pemilik hak pilih. Siapa yang dipercaya, dipilih untuk memimpin dan pastinya untuk bisa merubah nasib mereka.

Pengamat: Pernyataan Gus Ipul kerdilkan diri sendiri

Pengamat politik Indobarometer, Muhammad Qodari dalam memberikan ulasannya perihal Gus Ipul. Qodari menjabarkan pengamatannya tentang posisi Gus Ipul yang dalam perjalanannya kemudian berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno.

Dia menyoroti, pernyataan Gus Ipul yang mengatakan pasangan dirinya (Gus Ipul) dengan Puti Guntur adalah sebuah takdir, itu oleh Qodari dinilai sebagai pernyataan yang mengecilkan diri sendiri, dan terkesan pasrah dan tak berdaya. Hal itu, dipastikan akan mempengaruhi perolehan dukungan pemilih untuk mendulang suara.

“Ini sudah takdir, saya akhirnya dipertemukan dan berpasangan dengan Mbak Puti. Seharusnya Gus Ipul tidak perlu mengucapkan kalimat seperti itu, itu kesannya cengeng dan pasrah,” urai Qudori menirukan kalimat Gus Ipul dan memberikan tanggapannya.

Baca juga: Puti Guntur Soekarno by Design

Qodari menegaskan, ucapan seperti itu seharusnya tidak perlu dilontarkan Gus Ipul, karena terkesan memposisikan diri tidak siap di pertarungan (Pilgub Jatim) dan itu akan mempengaruhi perolehan suara pemilih.

Khofifah – Emil Elistianto Dardak

“Kalau saya jadi Gus Ipul, tidak perlu mengucapkan kalimat seperti itu. Kalimat yang harus diucapkan idealnya, “Saya bersyukur akhirnya bisa mendapatkan pasangan Mbak Puti. Jadi harus yakin untuk bisa menang di Pilgub Jatim,” pungkas Qodari.

Menyimak kalimat yang disampaikan Qodari, kiranya benar sebagai calon yang maju di Pilkada harusnya tidak boleh ada kalimat yang mengecilkan diri sendiri. Karena ucapan seperti itu tidak menguntungkan dan menggambarkan posisi pasrah, tak berdaya dan terkesan tidak siap bertanding, isyaratnya menyerah dengan keadaan. Kalimat itu merupakan bentuk keraguan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here