Sosialisme dengan Karakteristik Cina (4)

0
167

Nusantara.news – Presiden AS terpilih Donald Trump telah menunjuk ekonom Peter Navarro, figur yang selama ini dikenal luas sebagai pengkritik keras Cina, sebagai kepala badan perdagangan nasional yang baru.  Navarro akan memimpin Dewan Nasional Perdagangan baru dan bertindak sebagai direktur perdagangan dan kebijakan industri.

Sebelumnya Navaro yang berprofesi sebagai  seorang akademisi merupakan salah seorang dari tim inti penasihat Trump selama kampanye pemilu. Buku-bukunya termasuk The Coming Cina Wars and Death by Cina dan Death by Cina: Confronting the Dragon – A Global Call to Action yang terbit di tahun 2011, memperlihatkan sikapnya yang sangat kritis terhadap kebijakan Cina, terutama di bidang ekonomi.

Selama masa pemilu, presiden terpilih kerap melontarkan berbagai  isu perdagangan sebagai tema utama kampanyenya dan mengkritik beberapa tawaran dan ide pengembangan kerjasama ekonomi internasional dari negara-negara seperti Cina dan Meksiko. Trump juga secara terbuka mengkritik Cina melalui Twitter baru-baru ini dengan melontarkan tuduhan bahwa Cina mendevaluasi mata uang mereka untuk menghambat persaingan dengan AS.

Beberapa waktu yang lalu Trump sempat membuat Beijing berang, saat ia berbicara dengan presiden Taiwan melalui telepon. Cina menilai, tindakan yang dilakukan Trump sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap “Kebijakan Satu Cina” yang salama beberapa dekade menjadi sikap dasar AS.

 

One Cina Policy

Kebijakan “Satu Cina” AS didasarkan atas sikap Washington yang mengakui secara legal dan politis bahwa RRC adalah satu-satunya representasi yang sah dari  Cina. Sebagaimana diketahui, kebijakan ini berawal dari pertemuan bersejarah Presiden AS Richrad Nixon dengan pemimpin RRC Mao Tse Tung di tahun 1972 untuk memulai babak baru hubungan kedua negara yang sebelumnya saling berseteru.

AS telah memposisikan RRC sebagai mitra strategis di kawasan asia Pasifik dalam mengimbangi kekuatan dan pengaruh politik Uni Soviet. Washington makin menyadari bahwa hubungan Moskow-Peking tidak selalu berjalan dengan mulus, dan oleh karenannya, akan jauh lebih masuk akal untuk memanfaatkannya ketimbang mengambil sikap anti-komunis yang membabi-buta—s ebagaimana yang dianut oleh AS selama beberapa dekade sebelumnya.

Sejak saat itu AS mengambil sikap “Satu Cina” (baca: RRC). Taiwan, yang sebelumnya merupakan sekutu AS, “disingkirkan”. Namun demikian, AS tetap menjalin hubungan dengan dengan Taiwan, sekalipun hanya melalui saluran-saluran informal. Namun demikian, satu hal yang pasti adalah kekuatan lobby Taiwan yang sebelumnya sangat berpengaruh di kalangan pengambil keputusan di Washington semakin melemah seiring dengan menguatnya hubungan AS-RRC. Bagi AS, RRC jauh lebih penting dari segi kepentingan globalnya di kawasan Asia-Pasifik dibanding Taiwan.

Menyusul perubahan yang terjadi menyangkut hubungan Washington-Beijing, konstelasi politik global terutama di kawasan Asia Pasifik, juga mengalami berubah. Selain semakin banyak negara di dunia yang mengakui RRC sebagai respresentasi Cina, posisi politik Taiwan dalam percaturan global juga semakin tergerus. Berbagai negara mulai membuka diri bagi hadirnya kedubes RRC dan menggeser posisi Taiwan yang sebelumnya diposisikan sebagai representasi resmi dari Cina.

Di tahun 1977, menyusul semakin mesranya hubungan Wahington-Beijing, SEATO—sebuah pakta pertahanan militer ciptaan AS di kawasan Asia Tenggara yang awalnya ditujukan untuk membendung RRC—dibubarkan. Dalam pandangan AS, jauh lebih bijaksana untuk mengambil manfaat ekonomi-politik dengan mendekatkan hubungannya dengan RRC ketimbang harus membiayai sebuah pakta pertahanan militer untuk membendung RRC.

[Keterangan Foto: Pertemuan Bersejarah Presiden AS Richard Nixon dan Pemimpin RRC Mao Tse Tung di Bejing, 21 Februari, 1972]

Ketika Deng  Xiaoping mencanangkan kebijakan pintu terbuka terhadap modal asing, AS menyambutnya dengan suka-cita. Para pengambil keputusan di Coca Cola, misalnya, saat itu membayangkan  1 milyar manusia di Cina daratan akan menjadi pasar terbesar bagi produk mereka lebih dari negara manapun di dunia. Sejak saat itu, investasi asing berbondong-bondong masuk ke Cina.

Cina komunis yang sebelumnya dilihat sebagai hantu yang menakutkan telah berubah menjadi taman firdaus bagi para kapitalis dunia. RRC menjadi kawan dekat negara-negara kapitalis. Kedua belah pihak sama-sama mengambil manfaat dari reformasi Deng Xiaoping yang membuka diri terhadap masuknya investasi asing.

 

AS-RRC: Bukannya Tanpa Kerikil

Kebijakan “Satu Cina” yang menjadi sikap AS selama 4,5 dekade tidak selamanya berjalan mulus. Sekalipun AS banyak mengambil manfaat politik dan ekonomi berkat kedekatannya RRC, namun hal ini tidak berarti tidak ada kerikil antar kedua negara.

Kebijakan moneter telah menjadi salah satu masalah terbesar hubungan antara Amerika Serikat dan Cina dalam dekade terakhir ini. Pokok persoalannya adalah, apakah nilai kurus mata uang masing-masing negara telah berada pada nilai yang sebenarnya. Masing-masing pihak  cenderung saling menyalahkan. Kebanyakan ahli moneter dan perdagangan setuju bahwa mata uang Cina pada dasarnya masih undervalued dibanding dollar AS.

Persoalan ini jelas berimplikasi pada neraca perdagangan antar kedua negara. Lebih dari itu, serbuan produk Cina ke pasar AS pada gilirannya juga berdampak melemahnya neraca perdagangan AS terhadap Cina. Di sisi lain, Cina kerap kali juga memasang tarif bea masuk yang tinggi terhadap produk AS.

Akibatnya, banyak kalangan pengusaha di AS melontarkan tuduhan bahwa Cina tidak menerapkan fair trade. Lebih dari itu, pelanggaran terhadap berbagai hak cipta merupakan praktik yang lazim di Cina. Tidak diragukan lagi, Cina jauh lebih banyak mengambil manfaat dibanding AS. Sejumalah elit politik AS sempat mendesak Presiden Obama agar mengambil sikap yang lebih keras terhadap Beijing.

 

Trump dan One Cina Policy

Presiden Trump tergolong pemimpin yang jeli dan sensitif dalam melihat implikasi negatif relasi AS-RRC selama ini. Atas dasar itu, ia mengambil sikap yang agak berbeda dengan para pendahulunya. Sikap kritisnya terhadap Cina boleh jadi menjadi daya tarik tersendiri bagi publik AS.

 

[Buku karya Peter Navarro, anggota “lingkar satu” Trump]

Sikap serius Trump terhadap Cina itu antara lain termanifestasi saat ia memilih figur-figur untuk menempati posisi lingkar dalamnya. Pilihannya terhadap Navarro yang dikenal luas sebagai akademisi yang kritis terhadap Cina untuk mengisi pos pimpinan Dewan Nasional Perdagangan merupakan indikasi bahwa Trump bersikap serius terhadap Cina.

Dalam sebuah kesempatan Navarro sempat melontarkan pernyataan keras terkait dengan implikasi ekonomi yang ditimbulkan dari hubungan AS-Cina. Ia menyatakan, basis industr manufaktur AS agak melemah, upah pekerja AS relative stagnan dalam 15 tahun terakhir serta  lebih dari 20 juta orang Amerika yang tidak dapat menemukan pekerjaan yang baik dengan upah yang layak.

Boleh jadi, AS di bawah Trump akan bersikap lebih keras terhadap RRC. Namun, apakah hal ini mengindikasikan bahwa AS akan meninggalkan One Cina Policy yang selama 4,5 dasawarsa menjadi landasan negeri itu dalam membangun relasi dengan RRC? Jawaban sementara atas pertanyaan ini adalah bahwa AS mungkin akan tetap mempertahankan One Cina Policy, setidaknya untuk sementara ini. Sikap kritis dan tegas terhadap RRC akan menjadi pilihan Trump ketimbang mengubah secara mendasar One Cina Policy.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here