Di Laut Masihkah Kita Jaya? (4)

Menjarah Natuna, Karena Ikan China Langka

0
83

Nusantara.news, Jakarta – Belakangan ini kita selalu dihebohkan oleh ulah kapal-kapal ikan Tiongkok yang jumlahnya ratusan memasuki perairan Nusantara atau setidaknya mencuri ikan di sekitaran Laut Kepulauan Natuna. RRT memang sengaja mengerahkan ribuan nelayannya untuk mencari ikan di mana saja untuk dibawa pulang dengan sebanyak-banyaknya.

Bahkan, untuk mencuri ikan pun, para nelayan Tiongkok kadang dikawal oleh satuan kapal patroli coast guard-nya atau kapal perang demi memberikan keamanan bagi nelayannya yang sedang mencuri ikan di perairan wilayah terlarang.

Akhirnya kita tahu, mengapa pemerintah RRT memberikan jalan bagi nelayannya untuk mencuri ikan di perairan wilayah negara lain, karena pada dasarnya daerah pesisir daratan RRT sudah tidak ada lagi ikannya. Di sepanjang pesisir daratan RRT, khususnya di kawasan Laut Tiongkok Timur yang berdekatan dengan Korea Selatan dan Jepang, sudah tidak ada ikan yang tersedia untuk ditangkap para nelayan RRT. Hal ini tentu mengancam sumber makan rakyat RRT pada umumnya. Sampai pada 2015, RRT mengonsumsi 35 persen produk laut dunia dan stok ikan di Laut Tiongkok Selatan sudah berkurang sampai 95 persen ketimbang tingkat ketersediaan pada 1950-an.

Dengan habisnya stok ikan di sepanjang  pesisir daratan RRT berdampak ekonomi yang sangat luar biasa. Itulah sebabnya RRT meningkatkan  jumlah kapal nelayannya. Pada 1979-2013, armada kapal ikan RRT tumbuh dari sekita 55.000 menjadi 700.000-an kapal denganpekerja sektor perikanan meningkat dari 2,25 juta orang menjadi 14 juta orang.

Pada periode ini, penghasilan nelayan RRT meningkat dari Rp 198.000 menjadi Rp 26,5 juta per bulan. Setiap tahun, industry perikanan RRT menghasilkan 260 miliar dollar AS atau 3 persen dari PDB Tiongkok.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here