Menteri Anomali Icon Kenaikan Harga-Harga

0
58
Sepanjang Menteri Perdagangan dipegang oleh Enggartiasto Lukita, berita di media selalu sibuk menangkis serangan akan kenaikan harga-harga pangan.

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa fenomena kenaikan harga-harga pangan semasa Kabinet Kerja ini. Lucunya kenaikan harga-harga dimaksud terjadi di saat seharusnya harga-harga itu turun, ini memang eranya menteri anomali memimpin.

Masih segar ketika Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengomentari mahalnya harga daging dengan mengatakan agar rakyat makan keong sawah (bekicot). Tentu saja itu sebuah solusi, tapi sebenarnya yang diharapkan rakyat adalah solusi agar menurunkan harga daging yang terus melonjak.

Begitu juga ketika harga cabe merangkak naik, Menteri Perdagangan Enggartiasto  Lukita meminta rakyat untuk menanam cabai sendiri. Ini memang bagian solusi, tapi tak terlihat upaya sang menteri untuk menurunkan harga cabe.

Begitu juga ketika harga beras naik pada saat panen raya tiba, sang menteri Enggar malah sibuk memasukan berjuta-juta ton impor beras. Apa yang dikerjakan berkebalikan dengan apa yang seharusnya dilakukan, yakni melindungi petani.

Belakangan ketika harga telur merangkak naik hingga menyentuh level Rp30.000 per kilogram, pun sang menteri mencari alasan yang tak logis. Peternak libur panjang lah, karena piala dunia lah, dan alasan-alasan lain yang tak masuk akal.

Tapi Mendag akhirnya membeberkan sejumlah faktor yang mempengaruhi kenaikan harga telur dan daging ayam di pasaran.

Menurut Enggar, salah satu penyebab kenaikan harga telur dan ayam dikarenakan masa libur panjang Lebaran 2018. Dari sisi supply ke pasar sampai ke konsumen terjadi pengurangan yang juga diakibatkan karena masa libur panjang. Ternyata para pekerja di peternakan mau cuti panjang,” ujar Enggar.

Selain itu, faktor cuaca ekstrim juga menyebabkan kenaikan harga telur dan daging ayam. Sebab, akibat cuaca ekstrim tingkat produktivitas para peternak ayam menurun. “Kita sepakat mengurangi kadar obat-obatan supaya lebih sehat, tapi lebih berisiko, risikonya tingkat kematian dan produktivitas. Ada cuaca ekstrim bisa kita saksikan di Dieng ada salju,” kilah Enggar.

Enggar mengungkapkan, kenaikan telur dan daging ayam tersebut terjadi sejak H-7 Lebaran 2018. Namun, pada tahun sebelumnya, sesudah lebaran haga akan kembali normal. Biasanya sesudah itu harga akan turun. Tapi terjadi anomali kenaikan harga.

Nah faktor ini lah yang terakumulasi sehingga pasokan dan pendistribusian ini secara relatif terganggu. Dari gangguan ini ada potensi menikmati margin keuntungan dari pedagang.

Enggar juga mengakui kenaikan harga komoditas tersebut juga dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kenaikan nilai dolar berdampak ke pakan ternak dan juga proyeksi atas anak ayam satu hari (day old chicken—DOC).

Sebagai informasi, harga telur ayam ras negeri, di Pasar Pal Merah akhir pekan lalu  mencapai Rp29.000 per kilogram. Sementara di salah satu pasar modern di Ciledug, Tangerang, harga telur sudah mulai turun menjadi Rp28.900 per kilogram.

Sebelumnya terjadi kenaikan harga telur ayam mencapai Rp5.000 sampai Rp7.000 per kilogram dari harga normal sekitar Rp22.000 sampai Rp24.000 selama musim lebaran. Harusnya setelah lebaran kembali normal, tapi nyatanya malah melonjak ke level Rp30.000 per kilogram.

Faktor penentu

Menurut Heri Sinaga, pedagang telur, yang menyebabkan telur ayam negeri naik hingga Rp30.000 per kilogram adalah karena dua faktor utama. Pertama, karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga ke level Rp14.600 per dolar AS.

Sementara pakan ternak hampir 60% diimpor dari luar negeri, untuk import tersebut membutuhkan dolar. Itu sebabnya pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpengaruh langsung pada harga telur.

Kedua, ketika harga daging naik di bulan puasa, masyarakat beralih memakan daging ayam. Oleh karena stok daging ayam potong terbatas, maka peternak dengan sangat terpaksa menjual ayam petelurnya untuk dikonsumsi. Sejak lebaran hingga saat ini masa produktivitas telur otomatis langsung menipis alias anjlok.

Itulah sebabnya, menurut Heri, suplai telur menjadi terbatas dan belum pulih karena produktivitas dan peremajaan ayam petelur membutuhkan waktu lebih lama. Pada gilirannya mengganggu supply dan demand.

Dia berpendapat situasi ini harusnya disadari Kementerian Perdagangan untuk kemudian mengantisipasinya dengan cepat. Karena Kementerian Perdagangan lambat merespon, akhirnya harga telur tinggi ini akan berlangsung cukup panjang.

Namun Heri mengakui sudah ada keenderungan harga mulai turun, karena produktivitas dan peremajaan ayam petelur sudah mulai menghasilkan. Namun turunnya lebih lambat ketimbang cepatnya kenaikan harga telur.

Di sini kita melihat, bahwa Menteri Perdagangan gagal mengatur harga-harga, setiap kali tampil di permukaan selalu kewalahan dan kagetan melihat lonjakan harga-harga. Harusnya Menteri Perdagangan memiliki intuisi dalam mencegah naiknya harga-harga, bukannya sibuk menangkis berbagai kenaikan harga-harga.

Bahkan yang memprihatinkan, kerap kali Menteri Perdagangan berbeda angka produksi beras dengan Menteri Pertanian, dan tak jarang juga berbeda angka dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Perum Bulog.

Kinerja Menteri Perdagangan yang muncul ke publik lebih mencerminkan icon kenaikan harga-harga, ketimbang menteri yang mampu mengendalikan harga-harga.

Perlu kiranya Menteri Perdagangan mawas diri dan menunjukkan keberpihakannya dengan NKRI.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here