Menteri Pertanian: Mustahil Negara Bisa Maju Jika Pertaniannya Masih Tradisional

0
220

Nusantara.news, Jombang – Menteri Pertanian RI Amran Andi Sulaiman menegaskan, mustahil pertanian di Indonesia bisa maju jika tidak dilakukan dengan cara-cara moderen. Untuk itu, Amran mengajak model pertanian di Indonesia segara dilakukan dengan cara moderen.

“Pertanian tidak akan maju kalau bukan pertanian moderen. Mustahil republik ini maju kalau bukan teknologi. Makanya tanpa mekanisasi mustahil pertanian ini maju, apalagi swasembada. Kunci majunya sebuah negara adalah modernisasi pertanian,” ujar Menteri Mertanian Amran Sulaiman saat memberikan sambutannya meninjau keberadaan SP3T di Jombang, Jawa Timur, Jumat (27/1/2017).

Dia menyebut dan mengaku bersyukur serta berterimakasih atas terobosan metode Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T) yang dilakukan oleh TNI.

Upaya semacam ini, lanjut menteri, adalah hal positif yang perlu ditiru dan dikembangkan di daerah-daerah lain di Indonesia. Selain terbukti bisa menekan harga jual beras ke masyarakat menjadi lebih murah, juga menguntungkan petani karena mendapat keuntungan berlipat dari metode SP3T tersebut. Tujuan lain, kata Mentan Amran, juga untuk mempercepat terwujudnya cita-cita mulia, menuju Indonesia swasembada. Termasuk meninggalkan impor sampai tahun 2019.

“Jangan melihat siapa yang mengerjakannya, tetapi lihat hasilnya, tidak peduli dilakukan oleh wartawan atau LSM, kalau hasilnya baik dan menguntungkan rakyat, membantu terwujudnya swasembada pangan harus kita ikuti. Bahkan, kalau boleh saya katakan, anggaran Kementan siap saya berikan untuk TNI guna mensejahterahkan bangsa Indonesia,” tegas Amran.

Disebutkan, TNI lebih dulu maju selangkah untuk memajukan pertanian di Indonesia, melalui SP3T. Amran juga mengaku terharu kepada tiga orang anggota TNI AD berpangkat Kopral yang disebut sebagai motor penggerak memajukan pertanian di desa-desa di Indonesia.

“Saya sangat terharu, tadi melihat Kasad (Jenderal TNI Mulyono) memberikan hormat kepada anak buahnya, jarang ada yang seperti ini Jenderal memberikan hormat ke kopral. Memang benar, mereka adalah pahlawan-pahlawan pejuang pertanian. Bapak saya juga kopral, dan memberikan pelajaran berharga sehingga saya bisa menjadi menteri. Saya diajari bertanam di sawah, di sawah tiga hektar saya lakukan dengan cara manual. Dan, kerja keras mereka inilah (para Kopral sebagai Babinsa) yang memajukan pertanian kita,” ujarnya.

Kepedulian dan penghargaan dari Mentan Amran itu pun diberikan berupa bantuan traktor seharga Rp300 juta untuk mengolah sawah mereka. Kemudian, kepada tiga orang prajurit tersebut Amran memberikan bantuan traktor.

“Saya berikan bantuan traktor, terserah mereknya apa. Dalam satu bulan ini sudah diterima. Tapi, saya pesan bantu masyarakat petani yang membutuhkan. Kalau umumnya sewa di luar atau umum besarnya 1,4 juta rupiah, untuk masyarakat sewanya harus lebih murah, 700 ribu rupiah saja,” ucap Amran.

Pujian juga dilontarkan kepada Bupati Jombang Nyono Suharli yang peduli dengan mereka-mereka dalam upaya peningkatan pertanian di daerahnya. Bantuan yang diberikan sebanyak 918 unit motor untuk para relawan yang berjuang dan peduli untuk memajukan pertanian di Indonesia.

Dia juga menyebut, yang telah dirancang memajukan pertanian di Indonesia adalah selain untuk menuju swasembada juga dalam dua bulan kedepan tidak ada lagi impor, sebaliknya malah bisa melakukan ekspor.

“Targetnya, kita tidak lagi berpikir impor. Tetapi sesuai yang kita rancang pertanian kita di 2025, pertanian kita menjadi lumbung dunia,” katanya

Terobosan SP3T Untungkan Petani Ringankan Rakyat

Kepada Nusantara.news, Komandan Korem 082 Citra Praja Yudha Jaya (CPYJ), Letkol Kavaleri Gathut Setyo Utomo, yang dipercaya memegang kendali pelaksanaannya, menyebut melalui SP3T menjadikan petani sejahtera, dan masyarakat sebagai konsumen tidak tercecik dengan tingginya harga beras.

Awal dibentuknya SP3T mengacu pada Perintah Kasat TNI, kemudian ditindaklanjuti oleh Pangdam V Brawijaya dan dilakukan langkah-langkah dengan menggandeng pihak lain untuk supervisi.

SP3T didirikan di bekas Markas Batalyon 503, di Desa Den Anyar, Kabupaten Jombang. Aset milik TNI AD ini sebelumnya selama 40 tahun mangkrak dan menjadi lahan tidur. Atas dasar tersebut, dan dengan MoU TNI dengan Kementan RI, kemudian dibangun sarana dan prasarana penunjang kegiatan SP3T.

“Itulah sejarah awal didirikannnya SP3T di lahan bekas Batalyon 503 ini,” ujar Gathut.

Langkah awal, dilakukan survei untuk kelayakan, yakni di Tuban, Bojonegoro dan Lamongan, kemudian jatuh pilihan di lokasi tersebut di Den Anyar bekas Batalyon 503, Jombang. Dilanjutkan rencana pelaksanaan renovasi sejumlah aset bangunan dan sarana penunjang.

Pertimbangannya, pertama sudah ada bangunan aset bekas Batalyon 503, yang 40 tahun terlantar atau mangkrak. Serta untuk mengamankan aset yang lama tidak terawat karena digunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Semangatnya selanjutnya membantu pemerintah menciptakan petani yang tangguh guna menuju swasembada pangan berkelanjutan.

Juga sebagai wadah pelatihan untuk menuju pertanian moderen. Menstabilkan harga beras serta sebagai lokasi pelatihan, dan sebagai forum kominikasi antar petani.

Di tempat ini, kegiatan yang dilakukan diantaranya penyemaian bibit secara moderen, menanam, memanen dilanjutkan dengan penggilingan kemudian, beras bisa dijual ke Bulog dengan harga tinggi.

Awal membentuk SP3T ini dibutuhkan anggaran senilai Rp1,13 miliar. Diantaranya untuk pengadaan mesin penyemaian senilai Rp320 juta, mesin pengering gabah seharga Rp600 juta, mesin penggiling gabah senilai Rp250 juta dan pengadaan traktor roda empat seharga Rp300 juta, serta pengadaan alat untuk pemanen seharga Rp380 juta. Dan dibangun lantai jemur yang berkapasitas 10 ton.

“Jadi, di SP3T ini, petani bisa memanfaatkannya dengan harga murah tetapi akan mendapat hasil panen yang tinggi. Jika dimusim hujan petani bisa menggiling di tempat ini dengan biaya murah, tetapi harga jualnya tetap tinggi,” katanya.

Jika musim panas dilakukan penjemuran gabah di lantai jemur, tetapi jika musim hujan dilakukan pengeringan dengan mesin pengering yang ada.

Penggilingan padi di lokasi SP3T menyerab gabah dari petani dengan harga tinggi yakni sampai Rp4500 per kilogram. Padahal, jika diluar harga jual dari petani ke pihak luar hanya Rp3.000. “Jadi petani tetap diuntungkan,” jelasnya.

Kemudian, terkait upaya untuk meningkatkan hasil pertanian dan semangat mewujudkan swasembada berkelanjutan berikut petikan wawancara Nusantara.news dengan Mentan Amran Sulaiman.

Apa target penerapan metode pertanian yang diterapkan ini?

Memperbaiki nasib petani menjadi lebih baik, dan menuju negeri ini bisa swasembada beras berkelanjutan. Tujuannya adalah mengentaskan kemiskinan, memajukan kesejahteraan rakyat, dan mencegah urbanisasi. Mustahil pertanian di Indonesia bisa maju kalau tidak dilakukan dengan cara-cara moderen, dan sekarang adalah saatnya. Lahan kita sangat luas, tetapi petani kita kerap terganggu dengan cuaca atau iklim, apalagi kalau musim hujan atau banjir,  akibatnya gabah hasil panen petani rusak. Untuk itu harus dilakukan pola tanam dan pengolahan hasil panen dengan cara moderen. Melalui SP3T di Den Anyar ini semua tantangan yang dihadapi petani terjawab. Kita harapkan ini diikuti Kodim-Kodim lainnya di Indonesia.

Mengapa Jombang dipilih sebagai pola tanam?

Setelah dilakukan survei, diantaranya di Tuban, Lamongan dan Bojonegoro, pilihannya jatuhnya di sini, di Jombang, karena keseriusan dan kesiapan Jombang sebagai model percontohan yang baik.

Bagaimana dengan anggaran program?

Anggaran sepenuhnya dari APBN, dari Kementan. Negara ini serius untuk memajukan kesejahteraan rakyat dan mengentas kemiskinan. SP3T merupakan salah satu caranya.

Sejauh mana program ini diharapkan bisa menanggulangi program pangan nasional?

Kita bisa hitung, kalau dengan cara tradisional biaya yang harus dikeluarkan mencapai 2,8 juta tetapi dengan cara ini (SP3T) biaya bisa ditekan menjadi hanya 1,7 juta. Ini akan menguntungkan dan mengangkat kesejahteraan petani.

Keuntungan apa yang didapat petani dan Pemkab Jombang?

Kita selalu dan terus berjuang untuk memperbaiki nasib petani. Petani bisa mendapat untung dari hasil panen, sementara masyarakat juga tidak terbebani dengan harga tinggi.

Bisa jadi, yang dikatakan Mentan RI Amran Sulaiman benar, tidak mungkin sebuah negara mencapai kemakmuran jika sistem pertaniannya masih tradisional. Dengan terobosan motede pola tanam dan pengolahan hasil panen yang dilakukan di SP3T, semua kesulitan bisa teratasi. Terbukti, Jombang telah swasembada beras bahkan mampu menyumbang kebutuhan Bolog untuk konsumsi nasional. Dengan menggandeng TNI, diharapkan wilayah lain mengikuti yang dilakukan Pemkab Jombang dalam rangkamenuju swasembada pangan berkelanjutan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here