Menuju Pilkada Aman 2018

0
170

MENJELANG tutup tahun kemarin, Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan penyelenggaran Pilkada 2018 yang akan digelar serentak di  171 daerah kabupaten, kota, provinsi. Presiden mengingatkan akan bahaya konflik horizontal antarmassa yang mungkin terjadi.

“Jangan sampai karena pilkada tidak rukun dengan tetangga. Jangan sampai tidak rukun antarsuku. Negara kita ini negara besar,” kata Presiden. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat tidak termakan isu SARA dalam menghadapi tahun politik mendatang. Hal ini sudah berulang kali disampaikan Presiden di berbagai kesempatan.

Kita wajib menggaris-bawahi peringatan Kepala Negara itu. Sebab, 15 Februari 2018 mendatang, sudah dimulai masa kampanye pilkada di semua daerah itu. Setiap daerah mempunyai karakteristik berbeda, sehingga spektrum ancaman konflik juga berbeda-beda.

Apalagi, pada tahap head-to-head competition antarpasangan kandidat, baik yang memang pesertanya hanya dua pasangan, atau dua pasangan di putaran kedua. Potensi konfliknya sangat tinggi.

Rakyat akan memilih salah satu dari kedua pasangan itu untuk memimpin daerahnya lima tahun ke depan.  Di tahap ini salah langkah sedikit saja bisa menyulut aksi kekerasan. Dan ini, kata Presiden, perlu dicegah.

Kita setuju pernyataan itu.  Sebab itu, dari sekarang sudah harus dibangun komitmen bersama untuk mencegah kompetisi berubah menjadi konflik. Pilkada adalah sebuah pintu gerbang memasuki babak baru perjalanan daerah ke masa depan. Bisa kita bayangkan, masa depan macam apa yang akan dimasuki jika pintu gerbang itu berlumuran darah, dan dendam. Dan jika benar, kampanye tanpa kekerasan itu bisa diwujudkan, setidaknya sampai pintu gerbangnya saja perjalanan daerah memasuki babak baru sudah mulus.

Komitmen inilah yang benar-benar perlu diuji. Komitmen itu sekaligus menghadapkan para kandidat di depan mahkamah rakyat yang sebenarnya. Rakyat akan menilai, apakah para pemimpin itu, atau para pemimpin partai politik yang berdiri di belakang mereka, benar-benar bisa memegang janji dengan menampilkan materi kampanye yang dewasa. Materi kampanye yang tidak memancing emosi kontestan lain. Materi kampanye yang mampu mendudukkan partai politik sebagai alat perjuangan kepentingan bangsa, dan bukan alat perjuangan kepentingan kelompok. Para pemimpin politik itu juga diuji kemampuan mereka untuk menumbuhkan iklim persaingan antarpartai yang kompetitif, dan bukannya permusuhan.

Peran para pemimpin yang mampu menampilkan kesejukan itu sangat menentukan perilaku massa politik di bawah. Para pemimpin politik harus menyadari bahwa massa politik kita adalah massa politik emosional, yang menentukan sikap dan pilihan berdasarkan emosi. Massa politik kita belum massa politik yang rasional, yang menentukan sikap dan pilihannya berdasarkan pertimbangan akal sehat. Karena itu, brutal tidaknya massa politik sangat ditentukan oleh gaya para pemimpinnya.

Rakyat juga akan menilai apakah para pemimpin politik itu benar-benar pemimpin yang berakar di tengah massanya. Kalau benar dia berakar, maka dia akan bisa mengendalikan gerakan massanya agar tetap dalam koridor kampanye yang santun.

Rakyat juga akan melihat seberapa besar kemampuan para pemimpin politik itu memberikan pendidikan politik kepada massanya. Para politisi itu seyogianya tidak melulu bersandar pada dukungan emosional, tapi juga berupaya membangun dukungan rasional. Untuk itu mereka harus berkompetisi pada program, platform, dan bukan melestarikan budaya kultus individu, menyuburkan praktek money politics, apalagi sekadar mengumbar janji kosong.

Mahkamah rakyat itulah yang harus dilewati para politisi sebelum rakyat menentukan pilihan. Jika rakyat menilainya memenuhi persyaratan sebagai pemimpin politik yang sehat, mumpuni, punya komitmen pada pendewasaan dan kecerdasan politik massa pendukungnya, maka sang pemimpin layak diserahi kepercayaan mengemban aspirasi rakyat. Tetapi, kalau sang pemimpin hanya bagai tong kosong yang berbunyi nyaring, amat berbahaya memberi mereka kekuasaan.

Pemilu mendatang memang menawarkan banyak sekali perbaikan peraturan. Tetapi, peraturan itu tidak akan bermakna apa-apa, jika para pelaku politik tidak berusaha bermain dalam semangat perbaikan itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here