Menumpang Krisis Qatar, Israel Hendak Tutup Cabang Al Jazeera

0
93

Nusantara.news, Jerussalem – Meski bukan bagian dari negara-negara yang terlibat dalam krisis diplomatik di kawasan Teluk yang telah mengisolasi Qatar, Israel tampaknya hendak mengambil momentum untuk menutup kantor cabang media yang dianggap sumber masalah diplomatik negara-negara Teluk, yaitu Al Jazeera.

Sebagaimana dilansir Washington Post Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang mempertimbangkan untuk menutup kantor lokal yang merupakan cabang Al-Jazeera di Israel. Seorang pejabat Israel mengatakan pada Selasa (13/6) waktu setempat, pertimbangan tersebut menyusul tindakan keras oleh negara-negara Muslim Sunni terhadap Qatar di seluruh wilayah tersebut.

Arab Saudi menjadi negara yang memelopori upaya isolasi Qatar dengan memutus hubungan diplomatik pada Senin 5 Juni lalu, menuduh negara Teluk yang kaya sumber daya energi itu, sebagai pendukung kelompok terorisme Islam di kawasan teluk, termasuk menuding saluran televisi Al Jazeera sebagai bagian dari media yang mendukung faham kekerasan tersebut.

Yordania dan Arab Saudi telah menutup kantor-kantor cabang Al Jazeera di negara masing-masing, sementara saluran dan situs media afiliasinya telah diblokir di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain.

Israel secara formal bukanlah negara yang menjadi bagian dari upaya isolasi Qatar, tetapi tekanan sejumlah negara Arab terhadap media Al Jazeera tampaknya dianggap Netanyahu sebagai momentum untuk berani menutup cabang lokal media tersebut di Israel.

Pejabat Israel memang telah lama menuduh Al Jazeera bersikap bias terhadap negara Yahudi tersebut dalam pemberitaan-pemberitaanya. Pada hari Senin (12/6) Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menuduh Al Jazeera kerap mempromosikan hasutan dan menyamakan liputan-liputan media tersebut seperti halnya propaganda “Nazi Jerman”.

Harian Yediot Ahronot, sebagaimana dikutip Washington Post melaporkan pada Selasa kemarin bahwa sejumlah pejabat pemerintah Israel telah mengadakan pertemuan awal membahas mengenai masalah Al Jazeera pada hari Senin lalu. Pejabat Israel tersebut mengkonfirmasi bahwa diskusi tengah berlangsung, tapi dia mengatakan belum ada keputusan apapun yang dibuat.

Pejabat itu mengaku bahwa dirinya tidak berwenang untuk membahas masalah ini dengan media. Sementara, juru bicara di Kantor Netanyahu juga menolak untuk berkomentar.

Walid Omary kepala biro lokal Al Jazeera mengatakan bahwa dia belum diberitahu mengenai tindakan formal apapun terhadap operasi tersebut. Namun, dia menolak klaim Israel tentang bias berita dan tuduhan telah melakukan hasutan.

“Ini bukan pertama kalinya mereka (pemerintah Israel) menyerang kita,” kata Omary. “Saya berharap mereka akan menarik kembali ancaman tersebut,” tambahnya.

Penutupan biro Al Jazeera di Israel kemungkinan akan menghadapi hambatan hukum yang cukup signifikan di negera itu, dan menguji komitmen Israel untuk melindungi kebebasan pers. Sejumlah pejabat kunci di Israel mungkin juga menentang langkah tersebut.

Al Jazeera yang artinya “jazirah” atau pulau adalah stasiun televisi berbahasa Arab dan Inggris yang berbasis di Doha, Qatar. Stasiun televisi ini menjadi populer setelah serangan 11 September 2001, ketika menyiarkan rekaman pernyataan Osama bin Laden dan pimpinan al-Qaeda lainnya.

Selain saluran berita utama, Al Jazeera juga mengoperasikan beberapa saluran televisi khusus lainnya, antara lain Al Jazeera English, Al Jazeera Sports, Al Jazeera Live, dan Al Jazeera Children’s Channel. Selain itu, Al Jazeera juga mengoperasikan situs web berita berbahasa Arab dan Inggris.

Al Jazeera mengklaim sebagai satu-satunya stasiun televisi yang independen secara politik di Timur Tengah. Saat ini Al Jazeera telah menyaingi BBC dalam skala jumlah pemirsa yang diperkirakan mencapai 50 juta pemirsa.

Al Jazeera tumbuh berawal dengan modal dari raja Qatar sejumlah sekitar USD 150 juta, dan memulai siaran pada akhir tahun 1996. Kebetulan pada bulan April tahun tersebut, siaran BBC World dalam bahasa Arab mengalami masalah dengan pemerintah Arab Saudi dan akhirnya harus menutup operasinya. Banyak mantan staf BBC yang kemudian bergabung dengan Al Jazeera. Pada 15 November 2006 saluran Al Jazeera berbahasa Inggris mulai mengudara.

Tudingan Ajazeera dan Al-Qaeda

Pada 3 Maret 2003 menjelang invasi AS ke Irak, New York Stock Exchange melarang Al Jazeera dari pemberitaan dengan menggunakan alasan resmi “masalah keamanan”. Langkah ini kemudian juga diikuti oleh pasar bursa Nasdaq.

Pada 8 April 2003, kantor Al Jazeera di Baghdad diserang oleh tentara AS, yang menewaskan reporter Tareq Ayyoub dan melukai seorang lainnya, meskipun sebelumnya AS telah menerima informasi tentang lokasi kantor tersebut. Hal ini juga pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada 13 November 2001, ketika AS meluncurkan serangan roket ke kantor Al Jazeera di Kabul pada saat invasi AS ke Afganistan, yang juga setelah AS menerima informasi tentang lokasi kantor tersebut.

Awak kamera Al Jazeera, Sami Al-Haj, yang berwarganegara Sudan, juga ditahan oleh tentara AS pada awal tahun 2002 di Teluk Guantanamo, Kuba. Pada 23 November 2005, pengacara Sami Al-Haj, Clive Stafford-Smith melaporkan bahwa dalam lebih dari seratus interogasi yang dialami Sami, petugas AS selalu menanyakan apakah Al Jazeera merupakan corong al-Qaeda. Alasan penahanan Sami hingga kini tidak diketahui, meski pernyataan dari petugas AS selalu menyebutkannya sebagai ancaman keamanan.

Dalam krisis Qatar, Al Jazeera yang merupakan media internasional milik pemerintah Qatar kembali menjadi kambing hitam, media tersebut dituding sebagai corong yang mendukung ideologi terorisme sehingga harus diberhentikan. Hal itu pulalah yang membuat Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan mengisolasinya secara ekonomi. Qatar sampai saat ini kukuh tidak mau menutup Al Jazeera yang merupakan aset andalannya di bidang media. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here