Menunggu Gebrakan Panglima TNI Baru

0
229
KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto calon tunggal Panglima TNI yang diusulkan Presiden Joko Widodo.

Nusantara.news, Jakarta – Diusulkannya  Marsekal TNI Hadi Tjahjanto oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Panglima TNI tidak terlalu mengejutkan. Sebab,  sejak beberapa bulan lalu, nama Kepala Staf TNI Angkatan Udara ini  sudah disebut-sebut sebagai calon terkuat pengganti Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI. Surat usulan Presiden sudah disampaikan Mensesneg Pratikno ke DPR melalui Wakil Ketua DPR Fadli Zon di gedung DPR Jakarta, Senin (4/12/2017).

Setelah beberapa prosedur administratif terlewati, Hadi akan menjalani uji kelayakan dan kepantasan di DPR. Fadli Zon mengatakan, surat presiden mengenai pemberhentian Gatot Nurmantyo dan pengangkatan KSAU Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI dari Presiden akan dibacakan pada rapat paripurna besok, 5 Desember 2017.

Berdasarkan catatan pengajuan calon-calon panglima TNI sebelumnya, Presiden selalu mengusulkan satu nama alias calon tunggal. Dan calon tunggal itu biasanya langsung disetujui oleh DPR. Jadi, pelantikan Hadi Tjahjanto tinggal menunggu waktu saja untuk dilantik menggantikan Gatot Nurmantyo yang masa dinas aktifnya akan berakhir Maret mendatang.

Presiden mempunyai alasan kuat untuk menunjuk Hadi sebagai orang nomor satu di jajaran TNI. “Saya meyakini beliau memiliki kepemimpinan dan kemampuan yang kuat dan bisa membawa TNI ke arah yang lebih profesional sesuai jati dirinya sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional,” kata Presiden usai meresmikan Jalan Tol Soroja di Gerbang Tol Soreang, Bandung, Senin siang (4/12/2017).

Jokowi memang sudah tahu betul kemampuan Hadi. Sebab, keduanya sudah mengenal sejak lama. Pada tahun 2010, ketika Joko Widodo menjabat Wali Kota Solo untuk periode kedua, Hadi yang waktu itu masih berpangkat kolonel ditugaskan sebagai Komandan Landasan Udara Adi Soemarmo, Solo.

Interaksinya dengan Presiden semakin kental, ketika pada Juli 2015, berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/593/VII/2015 tanggal 25 Juli 2015, Hadi Tjahjanto yang menjabat Komandan Landasan Udara Abdurahman Saleh, Malang, dipromosikan menjadi Sekretaris Militer Presiden di bawah koordinasi Mensesneg. Pangkatnya dinaikkan satu tingkat, dari Marsekal Pertama menjadi Marsekal Muda.

Penunjukan ini tentu melulu tidak berdasarkan kriteria yang ditetapkan Mabes TNI saja, tetapi terutama sesuai penilaian subjektif presiden. Sebab, Sekmil Presiden adalah orang yang berada di lingkaran dalam kepala negara. Karena itu Sekmil Presiden mesti mampu beradaptasi dengan kebiasaan, gaya dan cara kerja presiden.

Sebagai Sekmil Presiden, Hadi bertugas memberikan dukungan teknis dan administrasi dalam pelaksanaan tugas presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI, mengurus administrasi tanda jasa, kenaikan pangkat anggota TNI dan Polri hingga pengamanan Presiden dan keluarga.

Setahun lebih Hadi bertugas di Sekretariat Negara. Setelah itu, dia dipromosikan menjadi Irjen Kemenhan pada 10 Oktober 2016. Bintang di pundaknya bertambah satu sebagai Marsekal Madya TNI.

Kiprahnya di Inspektorat Jenderal Kemenhan makin membuat Joko Widodo terpincut. Sebab, baru duduk di Kemenhan, terbongkarlah kasus korupsi dana pembelian pesawat tempur F-16 dan helikopter Apache yang melibatkan pejabat Kemenhan bernama Brigjen Teddy Hernayadi. Kerugian negara ditaksir mencapai USD12 juta.

Ketika Brigjen Teddy dihukum seumur hidup, Hadi Tjahjanto mengungkapkan kegembiraannya. “Kita memang sangat senang dengan putusan hakim. Ya, putusan seumur hidup bagi kita ini adalah putusan yang sangat setimpal bagi terdakwa,” ujar Hadi usai persidangan di Pengadilan Militer Tinggi II, Jakarta Timur, akhir November 2016. Hadi ketika itu mengatakan, putusan terhadap Brigjen Teddy itu akan  menjadi pintu masuk untuk membersihkan oknum TNI yang korup di lembaganya.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Ketua KPK Agus Rahardjo melakukan salam komando usai konferensi pers kasus dugaan korupsi pembelian Helikopter Agusta Westland (AW) 101 di Gedung KPK yang merugikan negara Rp220 miliar.

Sejak itulah, banyak yang memperkirakan Hadi akan meraih tongkat komando tertinggi di TNI selepas Gatot Nurmantyo. Apalagi  hanya tiga bulan menjabat sebagai Irjen Kemenhan, Hadi kembali mendapat promosi pada pada 16 Januari 2017. Kali ini ke strata tertinggi di korpsnya: Kepala Staf TNI-AU.

Kini perkiraan banyak orang bahwa Hadi akan bermuara di jabatan panglima TNI menjadi kenyataan. Akselerasi pangkatnya memang gemilang. Sebab dalam kurun waktu satu setengah tahun (Juli 2015-Januari 2017), abituren Akademi Angkatan Udara tahun 1986 ini tiga kali mendapat promosi pangkat dan jabatan.

Selain itu, jika dilantik menjadi panglima, tradisi bergiliran yang menjadi ciri pergantian panglima TNI sejak reformasi akan kembali terulang. Dia akan menjadi KSAU kedua yang menduduki jabatan tertinggi di TNI, setelah Marsekal Djoko Suyanto yang menjadi Panglima TNI (2006-2007). Tradisi ini sempat terputus ketika Jenderal TNI Moeldoko digantikan Gatot Nurmantyo, yang sama-sama berasal dari TNI-AD.

Tradisi ini sebetulnya bukan keharusan. Sebab dalam Pasal 13 ayat 4 UU  34/2004 tentang TNI,  disebutkan, jabatan panglima dapat dijabat secara bergantian oleh Perwira Tinggi aktif dari tiap-tiap Angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan.

Namun, walaupun Presiden dapat mengusulkan calon panglima yang memenuhi kriteria pati aktif dan pernah atau sedang menjabat kepala staf, penunjukan Hadi Tjahjanto ini sejalan dengan keinginan DPR. Beberapa anggota DPR meminta agar jabatan panglima TNI kembali dipergilirkan. Syarif Hasan, misalnya, meminta agar Presiden Jokowi menunjuk calon pengganti Gatot Nurmantyo tidak lagi dari TNI-AD. “Kami hanya menyarankan, sebab TNI-AD kan sudah dua kali. Tetapi, itu tetap prerogatif Presiden,” kata anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat ini.

Sejauh ini tidak ada suara penolakan dari DPR. Artinya, tak akan ada aral melintang bagi Hadi Tjahjanto.

Tinggal sekarang publik menunggu kiprah sang panglima baru. Jika sebagai Irjen Kemenhan, Hadi membongkar korupsi di kementeriannya sehingga Joko Widodo makin jatuh hati, mungkinkah dia akan kembali membuat presiden tergila-gila dengan gebrakan sebagai orang nomor satu di TNI?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here