Menunggu Kejutan PKS di Pilpres 2019

0
207

Nusantara.news, Jakarta – Tidak pernah ada yang menduga Korea Selatan bisa mengalahkan Jerman di lapangan hijau. Kesebelasan berjuluk Taeguk Warriors ini mampu memaksa juara Piala Dunia empat kali angkat koper dengan skor 2-0. Korea Selatan memang tidak lolos ke putaran berikutnya, tetapi banyak orang memuji penampilan perwakilan Asia tersebut. Semua seperti sepakat, Korea Selatan mungkin kalah dalam pertandingan, tetapi mereka mememenangkan hati banyak orang.

Kisah serupa berlaku di gelaran Pilgub 2018. Pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) adalah pasangan gurem yang peluangnya dianggap suram. Nyaris semua survei meramalkan pasangan ini akan terpuruk di pesta demokrasi tersebut (hanya meraih 4-11%). Ternyata, di hari-H pemilihan, pasangan ini mematahkan hasil survei dan menunjukkan perlawanan keras, sehingga duduk di posisi kedua versi hitung cepat di bawah Ridwan-UU.

Hanya saja, karena selisihnya terpaut 2-3% dengan Ridwan-Uu sehingga pihak Asyik masih meyakini kemenangan sambil menunggu di real count KPU. Lepas dari itu, di quick count Asyik boleh jadi kalah di bilik suara, tetapi mereka berhasil memenangkan decak kagum sejumlah pihak.

Perlawaan mengejutkan juga terjadi di Jawa Tengah. Pasangan yang diusung koalisi PKS, Sudirman-Ida, dalam posisi yang terkalahkan secara telak versi survei sebelum pilkada. Kedua pasangan terpaut 50 persen dengan pasangan Ganjar-Yasin, tapi saat pencoblosan, pasangan ini mampu memperkecil kekalahan hingga terpaut hanya 16, 5 persen.

Banyak orang memberikan kredit kepada PKS di balik kejutan Asyik di Pilgub Jabar 2018. Bagi mereka, partai dakwah ini memiliki kader militan yang bergerilya mencari dukungan untuk pasangan tersebut. Beberapa orang bahkan menganggap Asyik akan menang jika Pilgub diperpanjang waktunya untuk memberi ruang kader PKS terus bergerilya. Sementara di Jateng, banyak pihak menilai selisih suara Sudirman-Ida yang tak begitu jauh dari Ganjar-Yasin di basis suara PDIP dengan dukungan beberapa partai besar seperti Golkar dan Demokrat, bisa mengancam “kandang dominasi” banteng di pilpres mendatang.

PKS Selalu Mengejutkan

Perjuangan Asyik dan Sudirman-Ida boleh jadi hanya sedikit contoh dari kejutan partai yang pernah digelari “The Phenomenal Party” (partai fenomenal) di awal kemunculannya pada Pemilu 1999. Jauh sebelum itu, pasangan yang mereka usung sukses menghasilkan perolehan suara yang mengagumkan banyak orang. (Baca: https://nusantara.news/menguji-reputasi-pks-di-pilpres-2019/).

Beberapa calon kepala daerah yang diusung koalisi PKS di Pilkada 2018

Saat memenangkan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) di Pilgub Jabar 2008, misalnya, tidak pernah ada yang menyangka pasangan yang tertinggal jauh di survei ini bisa memenangkan pertarungan dan menumbangkan kandidat-kandidat yang lebih populer. Padahal pasangan Hade menurut hasil survei popularitas sekitar 7 persen. Pasangan ini terpaut jauh dari pasangan-pasangan kelas berat seperti Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim dan juga Danny Setiawan-Iwan Sulandjana. Meski kalah pamor, Hade ternyata berhasil memenangi Pilgub dengan perolehan suara 40,5 persen.

Kejutan lainnya barangkali hadir dari kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Pilgub DKI Jakarta 2017. Serupa dengan Hade, Anies-Sandi juga memulai Pilgub Jakarta dengan perolehan suara jeblok di berbagai survei. Meski demikian, popularitas pasangan ternyata terus-menerus menanjak menjelang hari pemungutan suara. Anies-Sandi mampu merebut posisi kedua di putaran pertama meski kerap menduduki posisi buncit di berbagai survei. Pada akhirnya, pasangan tersebut berhasil menang di putaran kedua dan menyingkirkan pasangan calon yang dianggap pasti menang, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat.

Begitu pula ketika DKI Jakarta untuk pertama kalinya menggelar Pilkada langsung pada tahun 2007. Ada dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang bertanding kala itu. Adang Daradjatun berpasangan dengan Dani Anwar dan Fauzi Bowo berpasangan dengan Prijanto. Adang Daradjatun-Dani Anwar dicalonkan oleh PKS yang di Pemilu 2004 memperoleh 23,3% suara dan 24,0%kursi DPRD DKI.

Adapun Fauzi Bowo (Foke)-Prijanto dicalonkan oleh gabungan 19 partai politik. Ke-19 parpol yang ‘mengeroyok’ PKS itu adalah:Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Golkar, PAN, PPP, PDS, PBR, PKPB, PBB, Partai Patriot Pancasila, PPNUI, Partai PDK, PKPI, PPDI, Partai Pelopor, PNI Marhaenisme, PBSD, Partai PIB, dan PPD. Gabungan ke-19 parpol pendukung Fauzi Bowo-Prijanto itu menghasilkan ‘kekuatan’ 72,4% suara dan 70,7% kursi DPRD DKI.

Namun faktanya, meski dikeroyok 19 partai, PKS yang mengusung Adang-Dani tidak mengalami kekalahan telak. Fauzi Bowo-Prijanto memenangkan Pilkada 2007 dengan 57,9% suara dan duet Adang-Dani mendapatkan 42,1% suara. Kandidat yang diusung PKS memang kalah, tapi banyak orang dan pengamat menilai sesungguhnya PKS sebagai partai politik memenangkan raihan suara pemilih: dari 23,3% menjadi 42,1%. Lebih dari itu, partai kader ini diprediksi akan menjadi digdaya dalam kontestasi politik nasional.

Prediksi soal kedigdayaa partai ini memang beralasan. Betapa tidak, pada pemilu pertamanya, PKS (dulu PK “Partai Keadilan”) hanya mampu meraih 1,436,565 suara atau 1,36% dengan tujuh kursi di DPR. Namun lima tahun kemudian, sebagaimana pengakuan Greag Fealy dan Anthony Bubalo, dua peneiliti Islamis dari Australia, mengatakan bahwa PKS mencatat rekor sebagai satu-satunya partai dengan keberhasilan luar biasa pada pemilu 2004. Perolehan suara PKS menjadi  8,325,020 atau sekitar 7, 34%, meningkat signifikan hingga lima kali lipat.

Dengan perolehan itu, PKS pun berhak mendudukkan 45 wakilnya di DPR dan menempati peringkat keenam partai dengan suara terbanyak. Bahkan, Presiden PKS saat itu, Hidayat Nur Wahid, terpilih sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dengan 326 suara, mengalahkan Sutjipto dari PDI-P dengan 324 suara. Setelah terpilih sebagai Ketua MPR, Hidayat menyerahkan jabatan presiden kepada Tifatul Sembiring.

Namun, potensi besar PKS itu tersapu (atau sengaja disapu oleh kekuatan politik tersembunyi?) jelang Pemilu 2014. Pada 2013, secara mengejutkan Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan suap impor daging sapi. Luthfi Hasan kemudian mundur dan posisinya diambil alih oleh Anis Matta. Inilah masa tersulit dan ujian mahaberat bagi reputasi partai dakwah, baik dari sisi elektoral maupun citra sebagai partai yang dikenal paling bersih. Sejak saat itu, publik mulai mengalihkan pandangan dari PKS. Imbas dari kasus ini, suara PKS anjlok di Pemilu 2014: hanya mendapatkan 8.480.204 suara atau 6,79%.

Potensi PKS di Pilpres 2019

Tentu saja, peluang PKS merebut kembali hati rakyat masih ada. Kemenangan Pilkada DKI 2017 dan keunggulan di beberapa daerah Pilkada 2018, serta gelombang kebangkitan umat Islam yang ditandai gerakan 212 dan sentimen isu-isu miring terhadap pemerintah seperti tak pro-Islam, PKI, pro-asing (Cina), dan kriminalisasi ulama, menjadi momentum awal partai berbasis massa Islam ini kembali unjuk gigi.

Terlebih, elektabilitas presiden Jokowi yang terus menurun dan performa pemerintah yang dianggap “gagal” memperbaiki taraf hidup rakyat. Di luar itu, kader PKS yang dikenal solid, ideolgis, terdidik, dan pekerja keras dalam menggerakkan mesin politik dan penggalangan isu (contohnya gerakan#2019GantiPresiden), membuka celah terdongkraknya suara PKS di Pemilu 2019 mendatang.

Jejak politik PKS, utamanya jika melihat perjuangan di Pilgub Jabar, Jateng, dan Sumut pada Pilkada 2018 kemarin, serta penguasaan di sosial media, membuat lawan politiknya ketar-ketir. Tak heran, saat ini muncul kelompok politik yang melemparkan isu ‘gurekam PKS di Pilpres 2019’, bahkan pembubaran. Pun begitu, partai ini tetap eksis meski sejak kemunculan hingga sekarang kerap diterpa isu tak sedap seperti politisasi agama, radikal, pro-negara khilafah, dan sejenisnya. Bukan tidak mungkin PKS akan memainkan peranan penting di tataran yang lebih luas, katakanlah menjelang Pilpres 2019.

Hanya saja, partai berlambang padi dan bulan sabit kembar ini dalam beberapa tahun terakhir belum memiliki banyak tokoh yang tampil di muka publik sebagai solidarity maker dan pembawa magnet suara yang tinggi dengan narasi-narasi politik yang fresh dan memikat. Sejauh ini, kader tulen PKS yang dianggap sebagai figur yang “menjual” di Pilpres 2019 dan berprestasi di kancah publik adalah mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dan Gubernur Sumater Barat Irwan Prayitno.

Namun menghadapi Pilpres 2019, PKS sudah secara resmi mengumumkan sembilan kader yang akan diusung sebagai capres atau cawapres. Mereka adalah Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf, Presiden PKS Sohibul Iman, mantan presiden PKS Anis Matta, mantan Presiden PKS Tifatul Sembiring, Ketua DPP PKS Al Muzamil Yusuf, serta Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

Pengumuman sembilan nama capres dan cawapres PKS itu menurut beberapa pengamat dinilai bagian dari strategi meningkatkan daya tawar partai sekaligus mengukur respons publik terhadap para kader yang dimunculkan. Apalagi, hingga sekarang hanya PKS partai di parlemen yang belum pernah menempatkan kadernya sebagai capres maupun cawapres di ajang kontestasi pemilu presiden. Partai ini baru sebatas “digdaya” menjadi mesin pemenangan di balik panggung bagi “para capres-cawapres” dari partai koalisi, barangkali kali ini saatnya PKS bertumpu pada kekuatan dan kader sendiri dalam mengusung kandidat  di Pilpres 2019.

PKS memang “berhak” mengusung cawapres sendiri, tapi partai ini tak bisa maju sendiri dalam Pilpres 2019. PKS harus berkoalisi untuk memenuhi ambang batas pencalonan presiden sebesar 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional. Gerindra sendiri tampak masih mengharapkan ‘sekutu politiknya’ ini tetap mau mendukung Prabowo. PKS sempat memastikan berkoalisi dengan Gerindra untuk mengusung Prabowo dengan syarat, Prabowo harus menggandeng salah satu dari sembilan kader PKS yang sudah ditetapkan sebagai bakal cawapres.

Di saat yang sama, rekan sekoalisi lain, yakni PAN, juga mengajukan ketua umumnya (Zulkifli Hasan) sebagai cawapres. Sementara di luar poros Jokowi dan Prabowo, ada Demokrat yang kabarnya akan menyorongkan putra Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yaitu Agus Harimurti Yudhoyono atau nama lain seperti mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai capres-cawapres. Di poros SBY, kemungkinan PKS merapat pun cukup terbuka. Apalagi antara Demokrat dan PKS punya sejarah koalisi dalam periode pemerintahan SBY. Ditambah, jagoan yang diusung Gerindra di Pilkada 2018 banyak menelan kekalahan, juga elektabilitas Prabowo masih stagnan.

Lepas dari situasi dilematis, PKS tetaplah partai kader yang punya potensi besar. Di banding partai lain, partai pimpinan Sohibul Iman ini, dipandang sebagai partai modern yang mesin politiknya masih berjalan efektif, sistem kaderisasinya berfungsi, dan memiliki basis pemilih loyal. Namun, ke manakah sesungguhnya arah politik PKS di Pilpres 2019 akan berlabuh? Tetap bersama poros Prabowo, melirik ke poros baru bersama SBY, atau bahkan menyeberang ke poros Jokowi? Apa pun, menarik untuk menunggu kejutan berikutnya dari PKS.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here