Menunggu Sinergi Perhutani-Petani Maksimalkan Produksi Kopi

0
100
Petani memanen biji kopi.

Nusantara.news, Kediri – Komoditi kopi Indonesia di dunia internasional banyak yang memberi acungan jempol. Beberapa jenis emas hitam asal Nusantara bahkan disebut-sebut yang terbaik di kelasnya. Hanya saja, potensi untuk meningkatkan produksi ekspor kerap terkendala dengan status perkebunan kopi yang sebagian besar ada di atas lahan Perhutani.

Kebijakan Perhutani KPH Kediri patut diapresiasi. Lahan subur hasil kucuran debu letusan gunung berapi tidak bisa dikelola optimal jika tidak melibatkan masyarakat lokal. Apalagi sebagian besar berada di lahan yang geografisnya rawan longsor. “Kami mengambil kebijakan pengembangan perkebunan kopi disesuaikan dengan tingkat lereng hutan,” kata Kepala KPH Kediri Maman Rosmatika di Kediri, Kamis (13/4).

Ia mengakui lereng gunung rawan longsor. Untuk itu, ia meminta pada petani yang tergabung dalam lembaga masyarakat desa hutan (LMDH), untuk memerhatikan tingkat kemiringan lereng. Ia juga mendukung penuh program dari Bank Indonesia Kediri yang membantu warga untuk bertanam kopi. BI memberikan bantuan 9.500 bibit kopi jenis arabika pada petani di Kediri dan Tulungagung.

Di Tulungagung, kata dia, tanaman kopi jenis arabika memang cocok ditanam di Desa Geger, Kecamatan Sendang. Jenis kopi itu harus ditanam di tanah dengan ketinggian minimal 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Maman menyebut, di lahan Perhutani Kediri, ada sekitar 3.000 hektar yang ditanami kopi dengan jenis robusta. Untuk jenis arabika juga ada, namun jumlahnya sangat sedikit.

Ia pun mengatakan, peremajaan batang kopi juga laik dilakukan. Beberapa tanaman usianya sudah belasan tahun, sehingga produksinya juga mulai berkurang. “Mungkin nanti yang robusta bertahap diremajakan, diganti arabika,” katanya.

Di selingkar Wilis (areal Gunung Wilis, 2.169 mdpl), akan ditanami minimal 500 hektar. Lahan itu akan dijadikan kluster kopi khusus jenis arabika. “Nanti kami rencanakan membuat kluster dengan minimal 500 hektar maksimal 1.000-2.000 hektar, dan ini cocok di Tulungagung,” katanya.

Untuk tahun pertama, Maman menyebut akan diupayakan minimal 100 hektar ditanami kopi jenis arabika. Ia berharap, dengan lahan itu, petani pun bisa semakin sejahtera, mengingat informasi harga jual kopi jenis arabika ini juga lebih baik.

Perhutani, kata dia, juga akan memberikan pendampingan pada petani. Selain mendukung untuk lahan bisa dimanfaatkan petani, Perhutani juga memberikan penguatan kelembagaan serta fasilitasi finansial.

Sebelumnya, anggota Komisi XI DPR Eva Kusuma Sundari mengingatkan, peluang pasar komoditas kopi masih sangat besar, salah satunya karena permintaan konsumen juga tinggi. “Dari hitungan internasional, 2025 akan ada kelangkaan komoditas kopi, jadi ini harus ditangkap karena peluangnya besar,” katanya ketika hadiri penanaman kopi arabika di Desa Geger.

Ia mengatakan, tingginya dukungan pasar juga memengaruhi peluang pasar komoditas ini. Dalam hitungan ekonomi, tanaman ini jika bisa dikelola dengan baik tentunya juga akan menguntungkan petani.

Ia pun menyebut, kualitas kopi lokal Indonesia tidak kalah dengan kopi dari luar negeri, termasuk jenis arabika. Petani lokal diharap bisa menangkap tingginya peluang ini. Masyarakat harus sadar bahwa mereka mempunyai potensi komoditas tanaman yang luar biasa. Tak hanya untuk ekspor, permintaan lokal kerap tidak terpenuhi.

Namun harus diperhatikan, hal yang paling pokok adalah produksi, penyiapan bibit tanaman kopi. Untuk pemasaran masih belum sepenuhnya menjadi prioritas, sebab pasar saat ini sudah menunggu. “Sekarang bukan level pemasaran tapi produksi dulu karena pasar menunggu. Jadi produksi pembibitan yang mendesak ada pusat pembibitan. Lahan tersedia dari 30 hektar, itu bisa dimanfaatkan jika bibit ada,” katanya.

Perempuan yang berangkat dari PDIP ini juga mengatakan, akan terus mendorong agar pemerintah daerah pun bisa membuat kebijakan untuk mengembangkan potensi ekonomi kopi lokal, dengan membuat surat edaran. Diharapkan, dengan itu, kopi lokal Indonesia bisa lebih berkembang dan produksinya berlebih.

Hal ini dibenarkan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Tulungagung Sutjipto. Dia mengatakan komoditas kopi di Tulungagung selama ini masih belum menjadi unggulan. Dari lahan yang digunakan sekitar 20 ribu hektar, masih didominasi tanaman kelapa serta tebu. Sementara, untuk kopi di urutan bawah.

Ia menyebut, luas lahan tanaman kopi di Tulungagung hanya sekitar 300 hektar dengan mayoritas ada di Kecamatan Sendang maupun Pagerwojo, yang merupakan daerah pegunungan. “Itu kebanyakan jenis robusta. Produksi kopi juga masih rendah, sekitar 1,5 ton per hektar,” katanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here