Menurunnya NTP dan Luas Lahan Gerus Kesejahteraan Petani Malang

1
371

Nusantara.news, Kota Malang – Sekarang, siapa sih yang mau jadi petani? Terus merosotnya nilai tukar petani (NTP) dan semakin sempitnya lahan yang dikelola tentu saja membuat masyarakat berpikir dua kali untuk bertani.

Padahal bertani adalah profesi yang sangat mulia. Bayangkan saja bila beras, sayur-mayur dan komodditas pertanian menghilang dari pasar. Maka, tepat bila dikataan Petani adalah Pahlawan Pangan di Republik ini.

Namun kenyataannya, di Kabupaten dan Kota Malang yang cocok untuk bertani, pemerintah daerah setempat justru abai dalam merawat keberadaan para petani. Yang terjadi justru maraknya penggusuran dan alih fungsi lahan petani menjadi bangunan industri dan lainnya, sebagaimana mudah ditemukan di Kabupaten dan Kota Malang.
Pembangunan yang mengarah pada industri dan jasa, tidak lebih besar kemudian menggeser lahan – lahan pertanian. Paradigma pekerjaan petani dianggap pekerjaan tradisional dan kuno, padahal identitas petani itu adalah jati diri dan kekuatan bangsa ini.

Sumber: Data terakhir BPS, Survei Angkatan Kerja Nasional 2014

Begitupun juga di Kota Malang yang hari ini gencar pembangunan perumahan, dan sektor industri. Terlihat bahwa tingkat presentase penduduk yang bekerja di Kota Malang sebesar 0,45 persen, padahal Kota Malang adalah kota yang letak geografisnya cocok untuk pertanian, perkebunan, dan holtikultura.

Menurunya Lahan Pertanian, dan Nilai Tukar Petani

Peneliti Research Group Geoinformatics, yang juga Dosen Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Fatwa Ramdani dalam riset dan penelitiannya yang bertajuk “Aplikasi Ilmu Geoinformatika: Memonitor Transformasi Wajah Kota Malang dalam Periode 20 Tahun dari Satelit Observasi Bumi”, menjelaskan bahwa luas lahan pertanian, tubuh air, dan vegetasi di Kota Malang Turun Jadi 30 persen pada 2017

Dalam penelitiannya, pihaknya juga mengungkapkan bahwa penggunaan lahan dan pembangunan Kota Malang tidak memiliki arah. “Pola perubahan penggunaan lahan di Kota Malang bergerak ke segala arah, yakni tidak ada keteraturan dalam orientasi pembangunannya,” ungkapnya

Ramdani menjelaskan, dari hasil penelitiannya didapatkan informasi bahwa pada tahun 1997 di wilayah Kota Malang yang terbangun oleh struktur buatan manusia memiliki luas 2.799,2 Ha.

Luasan struktur tersebut merupakan 37 persen dari luas Kota Malang. Sementara itu pada tahun yang sama didapatkan informasi bahwa terjadi pembukaan lahan skala besar di Kota Malang seluas 1.285,65 Ha.

“Pada tahun 1997 terjadi pembukaan lahan dalam skala besar guna pembangunan wilayah pemukiman baru, dan lahan yang diakuisisi yakni banyak dari lahan pertanian.” Kata Ramdani.

Sebelumnya luasan lahan pertanian, tubuh air, dan vegetasi di Kota Malang pada tahun 1997 adalah 44% dari luas kota. Namun, pada tahun 2017, luas lahan pertanian, tubuh air, dan vegetasi menurun menjadi 30%.

Sedangkan luasan struktur buatan manusia meningkat hampir 2 kali lipat. Luasan struktur buatan manusia kini menjadi 4.751,5 Ha atau sekitar 64% dari luas total keseluruhan Kota Malang. Dari data satelit terakhir, bertanggal 5 Februari 2017 (Sentinel-2), aktivitas perubahan alih fungsi lahan masih dapat terlihat dari lahan pertanian yang terbuka dan akan dijadikan cluster pemukiman. Ada 2% lahan terbuka atau seluas 210 Ha.

Penelitian Ramdani menerapkan ilmu geoinformatika. Data yang diperoleh dalam penelitian tersebut menggunakan instrument satelit observasi bumi Landsat 5 TM (milik Amerika Serikat), Sentinel-2 (milik Uni Eropa), algoritme SAM (Spectral Angle Mapper), Data DEM (Digital Elevation Model), satelit observasi ALOS (Advance Land Observation Satellite) milik Jepang.

Sementara itu, dilansir pada Badan Pusat Statistik Jatim (BPS) Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur bulan Januari 2017 turun 0,80 persen dari 103,95 menjadi 103,12. Penurunan NTP ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan.

Kesejahteraan Petani Terancam

Melihat fenomena negara yang terus berkembang dan kurang menghargai jasa petani, atas konflik-konflik yang bermunculan di sektoral, dan juga orientasi pembangunan mengarah pada industri, jasa yang justru investasinya ramah terhadap asing dan para pemilik modal.

Petani merupakan sektor pekerjaan yang harusnya menjadi identitas dan jati diri bangsa, kini mulai jarang dan langka ditemukan, keberadaannya pun semakin lama semakin terancam punah. Realita yang terjadi, diatas menjadi sebuah ancaman juga bagi kesejahteraan para petani.

Sumber: Berita Resmi Statistik, BPS Jawa Timur

Asril Priandi, Pengamat Pertanian Malang mengatakan bahwa memang sungguh miris keberadaan pertanian, melihat tren pembangunan hari ini.

“Banyak fenomena alih fungsi lahan yang semakin marak, dan juga pembangunan yang berorientasi pada industri dan juga property, tak sedikit dari hal tersebut yang menggusur lahan pertanian,” ujarnya kepada Nusantara.news, Selasa (7/2/2017)

Ia menambahkan bahwa realita hari ini, pekerjaan pertanian dianggap sebagai suatu hal yang kuno dan tradisional, sehingga membuat jarang orang yang ingin menjadi petani. Pembangunan yang liar dan juga NTP Jatim yang kini anjlok mengancam kesejahteraan para petani.

“Apabila kondisi seperti ini diteruskan maka, kesejahteraan petani akan terancam, petani pun tidak akan cukup dalam menghidupi kebutuhan keberlangsunan hidupnya apabila NTP ini terus menurun” imbuh Asril

Pihaknya berharap ada proteksi dan jaminan kepada para petani, dan apabila perlu diperbanyak dan diperluas lahan pertanian.

“Adanya proteksi, dan juga penghargaan yang tinggi terhadap seorang petani. Agar setiap mereka (red) memiliki kebanggan manjadi petani, dan orang bangga menjadi petani, pekerjaan yang paling mulia, serta proteksi lahan pertanian dan apabila perlu ditambah” harapnya. []

1 KOMENTAR

  1. Gimana mas caranya supaya bangga jadi petani?
    Apa cukup dengan kemuliaan saja?
    Penghargaan seperti apa?
    Sederhana, kami butuh uang untuk biaya produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhan keseharian keluarga kami..

    Saat harga komoditas pangan atau komoditas pertanian yang lain tinggi, banyak yang mengeluh mahal dan beralih pada produk import yg lebih murah..

    Harusa bagaimana sih sebenarnya?

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here