Menyikapi Kebangkitan Gerakan Populisme dan Gelombang Perubahan Dunia (2)

0
343

Satu dekade sebelum kebangkitan Nazi di Jerman,  di Italia, Benito Mussolini, yang awalnya adalah seorang jurnalis kiri dan pengagum berat Karl Marx mencium peluang berkuasa melalui partai politik yang bercita-cita mengembalikan kejayaan Kekaisaran Roma. Usai kekalahan Italia pada Perang Dunia I, Mussolini keluar dari keanggotaannya di Partai Sosialis Italia dan memimpin Partai Fasis Nasional (PFN) yang berhaluan kanan. Namun partai itu kalah telak pada Pemilu 1919. Ia telah membuang Marxisme jauh-jauh dan mengambil sikap bermusuhan dengan Partai Komunis Itali.

Sejak itu Mussolini yang tidak percaya dengan parlemen membangun Gerakan Fasio yang  melibatkan para preman dan pengangguran. Setiap harinya mereka turun ke jalan, membegal cukong-cukong berduit yang dianggap sebagai biang keladi kesengsaraan. Pada 1922 gerakan fasio berhasil mengepung Roma. Raja Vittorio Emanuele III pun angkat tangan dan mengundang Mussolini ke Istana dan mengangkatnya sebagai Sang Pemimpin pada Oktober 1922. Sejak itu Mussolini memberangus semua partai yang ada dan memaklumatkan PFN sebagai partai tunggal.

Naiknya Mussolini di Italia dan Hitler di Jerman adalah pelajaran berharga, bukan saja bagi kita orang Indonesia yang demokrasinya tidak didukung oleh infrastruktur politik yang mapan, melainkan juga bagi demokrasi itu sendiri. Italia dan Jerman saja yang tradisi demokrasinya lebih mapan, warga negaranya bisa terpukau oleh gagasan-gagasan nasionalis sempit dan anti-asing yang sesungguhnya sangat anti demokrasi.

Penyebabnya tentu saja krisis ekonomi berkepanjangan yang membius masyarakat terpukau gagasan-gagasan kemurnian suatu ras atau ingin mengulang kejayaan masa lalu. Mussolini yang berhasil menguasai Italia melalui gerakan massa dan Hitler yang menjadi Kanselir setelah menang Pemilu 1932, adalah dua tokoh dalam sejarah yang sama-sama kita kenal menghancurkan demokrasi.

Gejala itu pula yang sesungguhnya kini terjadi di sejumlah negara, termasuk negara-negara dengan tradisi demokrasi yang sudah mapan seperti Amerika, Inggris, Perancis dan Italia. Setelah Inggris keluar dari Uni Eropa lewat referendum Brexit, Donald Trump yang anti imigran, anti Islam dan anti China berhasil memenangkan Pemilu Presiden Amerika. Kedua peristiwa itu ttentu saja mengagetkan para penyokong globalisasi yang sudah menjadwalkan perdagangan bebas di sejumlah kawasan.

Bukan tidak mungkin, Perancis akan mengikuti Inggris keluar dari Uni Eropa seandainya Marine Le Pen yang termasuk kandidat kuat memenangkan Pemilu Presiden Perancis pada Pemilu Mei 2017. Gejala itu tentu saja akan berpengaruh terhadap perubahan geo-politics, geo-economies dan geo-strategies global yang arahnya besar kemungkinan menuju de-globalisasi.

Bahkan baru-baru ini, di Austria, kendati masih kalah dalam pemilihan Presiden, namun kekalahan tipis yang hanya berselisih 0,6 persen, yang dicapai Norbert Hofer, calon Presiden dari Sayap Kanan Austria atas rivalnya Alexander van der Bellen, cukup mengejutkan Benua Eropa. Sebab baru pertama kali dalam sejarah sejak Perang Dunia II calon Presiden dari partai sayap kanan sangat dekat dengan kekuasaan.

Kisah yang telah saya uraikan sebelumnya merupakan gambaran untuk menjelaskan, bagaimana sesungguhnya populisme yang selama ini hanya menjadi kelompok sempalan di Eropa dan Amerika kini sudah berada di jantung kekuasaan. Untuk itu, saya mohon para cerdik pandai yang hadir di forum ini menggagas jalan keluar yang cerdas untuk menyikapi dua kecenderungan yang saya beberkan di atas, yaitu bangkitnya populis di sejumlah negara dan kemungkinan terjadinya gelombang pembalikan globalisasi yang mesti kita sikapi secara bersama-sama.

Sejarah dunia telah mencatat, paska runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 dan bubarnya Uni Sovyet pada 1991 menjadi Rusia, kapitalisme telah dinobatkan menjadi pemenang Perang Dingin antara Blok Liberal Kapitalis yang dipimpin Amerika Serikat melawan Blok Sosialis Komunis yang dipimpin Uni Sovyet. Akhir dari perang dingin yang berlangsung selama tiga dekade disebut Francois Fukuyama sebagai akhir sejarah. Sejak itu, tulis Fukuyama, universalisasi demokrasi liberal sebagai bentuk pemerintahan manusia yang paling akhir.

Runtuhnya Uni Sovyet juga menginspirasi grup musik rock “Scorpion” menggubah lagu “Wind of Change” yang mendunia. Lagu itu berkisah tentang eforia perubahan di Moscow. Hembusan angin demokratisasi menyebar ke seluruh dunia. Rezim-rezim diktator dan menindas yang semula dipertahankan oleh Amerika untuk kepentingan perang dingin satu per satu bertumbangan, termasuk pemerintahan Soeharto di Indonesia pada 21 Mei 1998.

Tapi apakah perubahan rezim yang diktator dan menindas itu serta merta menghadirkan kesejahteraan bagi banyak orang? Tidak. Di Rusia pada awal perubahan banyak warga miskin yang mati kedinginan di peron-peron stasiun kereta api bawah tanah. Gelandangan bertebar di mana-mana. Partai penguasa masih diisi oleh orang-orang lama. Sedangkan orang-orang baru yang membuat partai politik gagal memenangkan Pemilu. Bahkan sebagaimana saya gambarkan di atas, matinya komunisme disambut oleh hadinya kapitalisme yang terbukti hanya menciptakan kesenjangan

Kondisi di Rusia yang ditandai dengan munculnya partai-partai baru yang diistilahkan sebagai taxi, down-grade dan up-grade itu, sebagaimana pernah saya cetuskan di Indemo pada 2001 lalu, mirip dengan kondisi Indonesia. Pejabat-pejabat lama Partai Komunis yang melibatkan diri di partai politik (down-grade taxi) berhasil memenangkan Pemilu. Sedangkan orang-orang baru yang membuat partai politik (up-grade taxi) gagal menempatkan orang-orangnya di Parlemen. Perubahan yang terjadi tidak menghadirkan semangat baru, melainkan memperpanjang kemapanan yang dipimpin oleh sempalan Orde Baru yang menguasai jalannya pemerintahan paska reformasi.

Dengan kata lain, hembusan angin demokratisasi yang disusupi oleh kepentingan kaum establishment (mapan) itu tidak membawa manfaat bagi orang banyak. Bahkan kesenjangan sosial di sejumlah negara, termasuk Indonesia, justru semakin melebar. Gejala itu tidak terlepas dari krisis finansial 2008 yang pengaruhnya hingga kini terasa, antara lain ditandai dengan menurunnya volume perdagangan dunia, anjloknya harga komoditas dan macetnya pertumbuhan. [] dr. Hariman Siregar, pendiri Nusantara.news

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here