Menyikapi Rohingya dengan Akal Sehat

0
190

ETNIS Rohingya disebut PBB sebagai kelompok manusia yang paling teraniaya di dunia. Sebab semua kekejian dari derajat yang paling durjana sekalipun sudah menimpa mereka. Jika ada kata yang lebih dari “paling teraniaya” mungkin masih kurang untuk menggambarkan dahsyatnya penderitaan suku bangsa minoritas di Myanmar itu. Maka sangat masuk akal jika manusia beradab di muka bumi ini murka melihat kedurjanaan tersebut.

Reaksi masyarakat di Indonesia pun sama. Berbagai aksi protes terhadap pemerintahan Myanmar, simpati terhadap warga Rohingya, sampai pengumpulan aneka macam bantuan, terjadi serempak di seluruh negeri.

Seperti kita ulas di ruangan ini kemarin, genosida Rohingya ini adalah isu besar yang sangat massif. Sebagai isu besar yang massif, kesimpangsiuran opini amat mudah terjadi. Sebab, kejahatan terhadap kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine itu tidak berdimensi tunggal. Ada dimensi politik, yang dalam terminologi Indonesia, terkategori SARA. Ada sisi sosial ekonomi, baik karena ketimpangan, kemiskinan, atau embargo akses pelayanan publik.

Ada pula sudut etnis, mengingat suku Rohingya ini adalah bagian kecil saja dari masyarakat di negara itu –walaupun tetap tidak ada pembenaran bahwa besar kecilnya populasi etnis dijadikan ukuran perlakuan negara. Juga ada dimensi agama. Sebab etnis ini beragama Islam.

Berbagai dimensi ini melahirkan aneka ragam sudut pandang. Sudut pandang itu kemudian diartikulasikan melalui sarana teknologi informasi yang aksesnya sangat mudah. Dari situlah berkembang wacana yang simpang siur.

Wacana atau diskursus adalah persepsi dan interpretasi terhadap realitas yang berkembang yang dipresentasikan dengan berbagai cara komunikasi, baik lisan maupun tulisan.

Wacana mana yang paling membakar amarah bergantung pada sentimen nilai-nilai utama dari masyarakat di mana wacana itu dikembangkan. Bagi masyarakat Indonesia, yang mayoritas Muslim dan sentimen keagamaannya sangat tinggi, wacana yang paling sensitif adalah dari  sudut pandang agama. Orang Indonesia mudah mendidih darahnya ketika mendengar bangsa yang seagama dengannya dinistai. Tak ada yang keliru dengan itu. Semua manusia pasti begitu. Oleh karena itu, mengartikulasikan keprihatinan atau kemurkaan terhadap penderitaan muslim Rohingya adalah sesuatu yang seharusnya.

Tetapi, dalam guliran isu yang sangat dinamis ini, selain kesimpangsiuran yang niscaya terjadi, juga rentan ditumpangi kepentingan lain yang bukan kepentingan kemanusiaan yang tak ada relevansinya dengan upaya menghentikan derita Rohingya. Kepentingan seperti ini mudah memancing konflik.

Oleh karena itu, sekeras apa pun kita menyuarakan kutukan kepada penindas Rohingya atau kecaman terhadap orang yang melakukan pembiaran atas penindasan itu, semuanya harus tetap dipagari dengan akal sehat. Jangan sampai, dalam membela Rohingya, sesama kita justru saling tuduh dan terlibat baku hantam.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here