Menyikapi Tren Perubahan Dunia (2 habis)

0
759

Dalam konteks geo-ekonomi, kebijakan Amerika Serikat yang akan lebih mengutamakan kepentingan dalam negerinya (American First) tentu akan menimbulkan persaingan sengit antara China dengan negara-negara yang selama ini pro AS seperti Jepang dan Korea Selatan.

Ketika China menerapkan zona identifikasi pertahanan udara (Air Defense Identification Zone/ADIZ) dan One Belt One Road (OBOR) sebagai kebijakan geo-politiknya, sangat jelas China bersifat ekspansif dan mengancam kedaulatan beberapa negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan Indonesia.

China seolah-olah bernostalgia dengan jalur sutra di mana posisi Indonesia dinilai sangat strategis sebagai mitra dalam memperkuat eksistensi China sebagai State Capitalism, namun semangat perlawanan anti China lahir di beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, termasuk Indonesia–meskipun secara negara mereka berpihak pada China–dari mulai Corporate Capitalism yang dianggap menjarah aset-aset strategis dan menerima kehadiran China sebagai State Capitalism.

China setelah delapan tahun di Afrika menunjukkan belum berhasil membangun secara kualitatif, namun eksesnya sudah terlihat dengan ketidakmampuan Zimbabwe dan Angola dalam membayar utang sehingga dipaksa menggunakan mata uang Yuan/RMB sebagai mata uang transaksi di dunia global.

Donal Trump presiden baru AS, juga akan kurang peduli dengan Arab semenjak menemukan shale gas yang diasumsikan sebagai pengganti minyak fosil. Jika hal ini diterapkan tentu akan terjadi perubahan konstelasi bisnis migas di dunia yang disebut dengan strategi energy security.

Jika ditelisik, semenjak hadirnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Irak dan Suriah, AS tidak begitu tertarik lagi untuk menjadi ujung tombak dalam membantu kedua pemerintahan memerangi ISIS. Ruang kosong ini justru memancing Rusia menjadi dominan dalam perang di Timur Tengah saat ini.

Paham Wahabi yang dimotori Arab Saudi, di era Trump tidak akan dimanjakan seperti pada era kepemimpinan presiden AS sebelumnya. Dengan memilih Rex Tillerson, CEO Exxon Mobil, sebagai menteri luar negeri yang juga sahabat Presiden Vladimir Putin, jelas AS lebih bersahabat dalam politik luar negerinya dengan Rusia.

Trump juga menunjuk Andrew Puzder sebagai Menteri Tenaga Kerja, Puzder adalah miliarder CEO perusahaan yang memiliki jaringan restoran cepat saji Hardee’s dan Carl’s Jr, juga miliarder Carl Ichan sebagai penasihat khusus regulasi yang menghambat kebijakan ekonomi dan bisnis selama ini. Tercatat ada tiga miliarder lainnya ditunjuk oleh pemerintahan Donald Trump sebagai anggota kabinet yang diajukan ke Senat AS.

Dalam menyikapi perkembangan dunia, kami Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) bersama Indonesian Democracy Monitor (INDEMO), lembaga yang fokus memonitoring proses konsolidasi demokrasi di Indonesia melakukan kajian tentang masalah populisme yang bisa menjadi ancaman bagi sistem demokrasi di Indonesia karena kecenderungannya yang anti demokrasi.

Hasil kajian tersebut telah kami bukukan dengan judul “Menyikapi Perubahan: Kebangkitan Populisme” yang diterbitkan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Indemo ke-17 dan Peringatan Peristiwa Malari ke-43 di Jakarta 15 Januari 2017 lalu. Semoga buku tersebut dapat menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di negeri ini dalam menyikapi perubahan arah dunia ke depan.

Sesungguhnya perubahan adalah wujud dari perjuangan insan demokrasi yang ingin selalu menempatkan kedaulatan rakyat sebagai “ruh” kehidupan berbangsa dan bernegara. [] Sigid Haryo Wibisono, Pendiri dan Pemimpin Umum Nusantara.News.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here