Menyoal Kegemaran Jokowi Baca Komik Doraemon dan Shinchan

0
228

Nusantara.news, Jakarta – Sebagai oposisi, boleh dibilang Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon adalah salah satu politisi yang paling aktif dan menukik dalam menyindir pemerintah, utamanya Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mulai dari kritik janji politik Jokowi yang tidak terlaksana, hukum yang dianggapnya tajam ke oposisi tapi tumpul ke petahana, kebijakan plin-plan yang batal secepat kilat, hingga soal pencitraan Jokowi.

Yang paling anyar, Fadli Zon menyindir kebiasaan Jokowi yang suka membaca komik. Padahal, menurut Fadli, seorang pemimpin negara harus memiliki hobi membaca dan menulis. Fadli bahkan membandingkan masalah kegemaran Jokowi ini dengan buku bacaan para pendiri bangsa, seperti Sutan Syahrir, Bung Hatta, hingga HOS Tjokroaminoto yang berbobot dan bernas.

“Sejarah kita diisi oleh para pemikir, para pejuang, semua tokoh dari beragam organisasi, baik dari nasionalis, sosialis, dan islam, semua pemikir mereka adalah pembaca dan penulis sekaligus. Kita tidak temukan tokoh pendiri bangsa yang tidak membaca dan menulis, baru sekarang kita punya presiden bacanya (komik) Doraemon dan Shincan. Nah makanya ini sebuah tragedi perjalanan bangsa karena kalau dulu mereka tuh membaca luar biasa seperti Indonesia Merdeka, Indonesia Free tahun 1927,” ujar Fadli.

Sebelumnya, memang sempat beredar potongan video wawancara Presiden Jokowi dengan salah satu stasiun TV swasta. Dalam wawancara itu, Jokowi mengaku lebih senang membaca komik ketimbang buku-buku politik. Komik yang dibaca Jokowi seperti cerita Shinchan dan Doraemon.

“Saya sering diberikan, sering diberikan ini, komik, sama istri, sama anak-anak. Komik-komik yang itu, komik-komik anak itu, komik Doraemon, komik Shinchan. Habis membaca itu, saya lupa,” ujar Jokowi sambil terkekeh.

Merespons sindiran Fadli Zon soal referensi bacaan Jokowi, Wakil Ketua TKN Jokowi-Maruf, Johnny G Platte tidak menyangkal Jokowi doyan membaca komik Doraemon. Menurutnya, membaca komik memberikan inspirasi bagaimana untuk mengatur Indonesia, mengatur politisi-politisi di perpolitikan nasional.

Dalam konteks kegemaran Jokowi membaca Doraemon, tentu bukan suatu kesalahan. Hasil riset Profesor Dale Jacobs dari Windsor University, misalnya, menyebut baca komik itu bermanfaat untuk melatih orang berpikir secara berbeda. Mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan juga kabarnya doyan membaca komik.

Namun jika dibandingkan dengan tradisi para pendiri bangsa yang hidup bergumul dengan buku bacaan ‘kelas berat’ (dan karena itu mereka lahir dengan keluasan berpikir, ketajaman nalar, dan kecerdasan berimajinasi dalam ‘mengelola’ Republik), bisa jadi tradisi literasi kekinian serupa langit dan bumi.

Hampir semua tokoh pergerakan, selain jago berbicara, juga punya gagasan tertulis yang adiluhung. Sebut saja, HOS Tjokroaminoto menulis Islam dan Sosialisme pada 1924, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Umumnya, karya-karya itu dibuat ketika mereka berusia muda.

Jika dibandingkan dengan para pendahulu kita, tingkat literasi dan jenis bacaan para elite sekarang tampaknya tak ‘se-berkualitas’ dulu. Wacana publik pun saat ini disesaki hal-hal remeh, mulai riuhnya obrolan soal sepatu dan jaket yang dipakai presiden, isu hoax yang tak habisnya disinggung penguasa, hingga drama saling lapor para politisi ‘baper’ (bawa perasaan) ke ranah hukum sehingga ruang gerak berdemokrasi semakin kikuk dan tak terasa nikmat.

Di level elite, para pejabat negara dalam bertutur seringkali tanpa sadar posisi dan tak mengerti betul substansi persoalan. Kondisi ini, amat terang menunjukkan bahwa kualitas wacana dan sikap bernegara mereka masih kelas rendah. Dampaknya: penegak hukum berlagak layaknya politisi, pemangku kuasa berkomentar asal bunyi, presiden bahkan terkadang berucap tak menunjukkan kelas seorang kepala negara.

Gejala-gejala ‘receh’ di atas bisa jadi salah satu penyebabnya karena rendahnya minat baca bangsa kita, termasuk para pucuk penyelenggara negara. Padahal, sejumlah persoalan bangsa dapat diatasi dengan mengambil inspirasi dari bacaan yang berbobot. Membaca komik Doraemon dan Shinchan bagi seorang Presiden tentu tidak ada larangan, namun kualifikasi seorang pemimpin tak jarang dipengaruhi oleh buku apa yang dibaca dan seberapa banyak ia membaca.

Bacaan Para Presiden Indonesia

Jejak para presiden Indonesia terdahulu tentu tak luput dari buku-buku. Presiden RI pertama Soekarno, misalnya, dikenal sebagai seorang yang kutu buku dan kolektor berbagai judul buku. Bung Karno melahap banyak judul buku dari berbagai jenis bahasa, Inggris, Belanda, dan Indonesia. Buku pemikiran tokoh-tokoh dunia pergerakan, semisal Karl Marx dan Engels, tokoh filsafat dan politik semisal JJ Rousseau, Voltaire hingga negarawan besar dunia, tuntas dibacanya.

Saat ditahan kolonial Belanda di penjara Banceuy, Bung Besar ini juga tak ketiggalan mempelajari buku-buku yang sengaja dibawa-sertanya berpeti-peti. Bahkan di dalam toilet sekalipun, Bung Karno masih sempat membaca buku. Tabiat ‘kutu buku’ ini tak ada bedanya dengan gurunya, HOS Tjokroaminoto. Dan memang, saat Bung Karno menjadi murid Tokoh Sarikat Islam Tjokroaminoto itu, ia diberikan berbagai macam buku bacaan, terutama sejarah dan pemikiran.

Para Presiden Indonesia, dari Soekarno hingga Jokowi

Tak ayal, wawasan dan gagasannya turut dipengaruhi berbagai jenis bacaannya tersebut. Dari Bung Karno, kita mengenal karya-karya adiluhung seperti Trisakti, Tatanan Dunia Baru, serta buku-buku hasil pemikirannya. Secara mental, dia juga tak pernah minder berdiskusi tentang berbagai hal dengan para pemimpin dunia.

Tingkat melek literasi pun dimiliki Presiden ke-2, Soeharto. Meski tak sebanyak dan seberat bacaan Bung Karno, putra asal Desa Kemusuk ini rutin membaca berita aktual dari koran atau majalah dalam maupun luar negeri. “Bacaannya sebatas koran-koran dan majalah serta laporan-laporan ringkas yang disiapkan oleh stafnya,” seperti diungkap R.E. Elson dalam bukunya, Suharto: Sebuah Biografi Politik (2005).

Presiden ke-3 BJ Habibie tak ada bedanya. Ia memilki minat baca tinggi bahkan sejak ia kanak-kanak. Habibie mengaku, buku pertama yang senang dibacanya berjudul “Mengelilingi Dunia Dalam 80 Hari” karya penulis Prancis Jules Verne. Buku tersebut merupakan hadiah dari sang ayah kepadanya. Mantan presiden yang jenius ini telah melahap berbagai buku bacaan, khususnya terkait bidang ilmu teknik maupun ilmu alam.

Kegilaan membaca berbagai buku lebh-lebih pada Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bacaannya luas, tak sekedar kajian keagamaan. Dia membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, dan Pushkin. Mantan ketua umum PBNU ini memang sejak kecil dikenal gemar membaca buku dari berbagai aliran. Dari kegilaannya membaca, melahirkan berbagai pemikiran dan tulisan berbobot khas Gus Dur.

Sementara Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri lebih kental mewarisi darah seniman ayahnya Soekarno ketimbang minat dalam melahap buku bacaan. Belum diketahui pasti apakah Ketum PDI Perjuangan ini senang membaca buku atau tidak. Kabarnya, Pemilik nama Dyah Permata Megawati Sukarnoputri ini lebih senang menyanyi dan menonton. Meski begitu, disela-sela kesibukannya, ia kerap menghabiskan waktu dengan membaca majalah dan koran.

Presiden RI ke- 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga salah seorang yang gemar membaca buku. Sejak kecil, SBY disebut meminati beragam buku bacaan hingga dia menjadi seorang Presiden. SBY disebut-sebut memiliki koleksi buku lebih dari 16 ribu judul buku. Semasa menjadi kepala negara, SBY bahkan mengaku pernah melahap 2 buku dalam seminggu. Bacaan SBY selain buku-buku politik dan kepemimpinan, juga menyukai buku yang membahas hal-hal positif, salah satunya berjudul “Melihat Kebaikan Dalam Segala Hal”.

Kemudian Presiden ke-7 (saat ini) Jokowi, kabarnya sejak kecil sudah senang membaca, mulai dari komik hingga novel. Komik favorit Pak Jokowi kecil adalah Gundala Putra Petir, Kho Ping Joo, dan cerita wayang Semar-Petruk. Bacaan buku-buku fiksi nampaknya memang lebih disukai Jokowi. Terakhir, bacaan fiksi mantan Walikota Solo yang sedang diributkan akhir-akhir ini yaitu komik Doraemon dan Shin Chan.

Tak hanya itu, di sela-sela kunjungannya ke Ambon menghadiri Hari Pers Nasional 2017 lalu, Jokowi juga menyempatkan ke toko buku untuk membeli bacaab fiksi berupa novel, karangan Dewi Lestari Simagunsong berjudul ‘Intelegensi Embun Pagi’.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here