Menyoal Kelompok Anarko Sindikalis di Aksi May Day

0
286
Massa Berpakaian Hitam-hitam yang dituding sebgai pemicu kerusahan pada hari buruh 1 Mei lalu di beberapa tempat. Mereka disebut polisi sebagai kelompok Anarko Sindikalis

Nusantara.news, Jakarta – Apa yang terjadi saat May Day (Hari Buruh Internasional) di Bandung, Rabu (1/5/2019) lalu, membuka mata banyak orang kalau ada kelompok bernama anarko-sindikalis (Anarcho-Syndicalist). Mereka, dengan ciri khas memakai pakaian serba hitam-merah dan penutup wajah. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut, kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah (termasuk di Bandung) saat aksi Hari Buruh memang dipicu oleh kelompok tersebut.

"Aksi May Day seluruh Indonesia relatif aman, tapi ada satu kelompok yang namanya (berideologi) Anarcho-Syndicalism. Ada semacam doktrin di luar negeri, sudah lama, mengenai masalah pekerja. Di antaranya pekerja itu jangan diatur, lepas dari aturan-aturan, mereka menentukan sendiri. Maka disebut Anarcho-Syndicalism," ujar Tito di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Paham anarko sindikalisme, ujar dia, merupakan fenomena internasional. Berkembang di Rusia, lalu menyebar ke negara-negara lain di Eropa. Paham yang identik bersimbol huruf A ini mulai masuk ke Indonesia beberapa tahun terakhir. Menurut Tito kelompok Anarko terpantau ada di sejumlah daerah di Indonesia seperti DI Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan DKI Jakarta.

Lantas apakah anarkho sindikalisme itu?

Anarkisme, di Indonesia, kerap diasosiasikan sebagai pelaku-pelaku kekerasan serta perusakan yang brutal. Namun, sejatinya, Anarkisme adalah sistem filsafat yang intinya menilai negara adalah institusi sosial yang justru membuat manusia tak bisa memenuhi semua potensi dirinya, baik dalam aspek kesejahteraan maupun spiritual.

Anarko sindikalisme adalah cabang dari anarkisme yang berkonsentrasi kepada pergerakan buruh. Sindikalis merupakan kata Perancis yang bermakna “serikat buruh”. Tokoh yang terkenal dalam kelompok anarko-sindikalisme antara lain Rudolf Rocker, ia juga pernah menjelaskan ide dasar dari pergerakan ini, apa tujuannya, dan mengapa pergerakan ini sangat penting bagi masa depan buruh dalam pamfletnya yang berjudul Anarcho syndicalism pada tahun 1938. 

Tokoh beken lainnya adalah Mikhail Bakunin, seorang bangsawan Rusia yang kemudian sebagian besar hidupnya tinggal di Eropa Barat. Ia memimpin kelompok anarkis dalam konferensi besar kaum sosialis sedunia (Internasional Pertama) dan terlibat pertengkaran dan perdebatan besar dengan Marx. Bakunin akhirnya dikeluarkan dari kelompok arus utama Marxis dan perjuangan kaum anarkis dianggap bukan sebagai perjuangan kaum sosialis.

Menurut filsafat anarkisme Mikhail Bakunin, negara harus dihancurkan seketika sehingga publik bisa membentuk komunitas-komunitas swadaya tanpa ada perbedaan kelas. Prinsip-prinsip dasar yang membedakan anarko-sindikalisme dengan kelompok lainnya dalam anarkisme adalah: (1) Solidaritas pekerja (Workers Solidarity); (2) Aksi langsung (direct action); dan (3) Manajemen-mandiri buruh (Workers self-management).

Secara historis, kaum anarkis berperan dalam kisah epik Komune Paris 1871. Kaum anarkis dengan beragam variannya juga berperan dalam perang saudara di Spanyol 1936-1939, ketika mereka berperang melawan rezim fasis Franco. Kala itu, basis terkuat kaum anarkis berada di Catalonia alias Barcelona.

Pada era kontemporer, kaum anarkis beserta segala variannya berperan dalam menginisiasi gerakan anti-Kapitalisme selama pertemuan rutin World Trade Organization (WTO) tahun 1999. Mereka juga ikut menginisiasi gerakan Occupy Wall Street tahun 2011.

Mikhaïl Bakunin, Tokoh Anarcho Syndicalist dari Rusia

Kekinian, dalam aksi-aksinya, kaum anarkis kerap mempraktikkan aksi vandalisme alias perusakan terhadap bangunan-bangunan milik kaum kapitalis global. Chris Bowen, tokoh anarkis di Kanada dalam artikel wawancara berjudul Vandalism a central part of anarchists' tactics, di laman daring The Globe and Mail, 27 Juni 2010, menjelaskan mengapa vandalisme menjadi taktik.

”Ketika bangunan dihancurkan dan tidak ada yang terluka, siapa yang peduli? Itu jendela yang pecah, bukan kehidupan. Kekerasan justru dari perusahaan-perusahaan kapitalistik. Mereka merusak lingkungan, mereka menghancurkan kehidupan kita semua. Jadi, siapakah yang melakukan aksi vandal sebenarnya?”, kata Bowen.

Tak heran, peringatan Hari Buruh 2019 di Jakarta lalu, misalnya, menyisakan berbagai coretan vandalisme di berbagai titik. Salah satu titik yang paling mencolok berada di Tosari dekat Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Coretan makian terhadap peraturan pemerintah hingga selebaran tentang pejuang buruh Marsinah tertempel di separator bus TransJakarta dan seng penutup proyek pedestrian di depan Gedung Menara BCA.

Aksi vandalisme dan perusakan fasilitas umum juga terjadi di Karawang dan Bandung, Jawa Barat.

Jejak Anarkisme di Indonesia

Apakah ideologi ataupun gerakan anarko sindikalis bisa tumbuh di bumi Indonesia sebagaimana paham komunis dan jaringan terorisme? Tak seperti komunisme yang membesar di Indonesia karena kompatibel dengan tujuan perjuangan kelas di tengah kemiskinan akut pasca-kemerdekaan serta masyarakat Indonesia yang mayoritas buruh-tani yang jadi garapan Parai Komunis Indonesia (PKI), tampaknya kemunculan anarko sindikalis merupakan kelompok kecil yang bersifat sporadis.

Pun begitu, jejak kelompok anakis di Indonesia sebenarnya sudah menggeliat sejak era kolonialisem Belanda. Adalah Edward Douwes Dekker alias Multatuli yang disebut oleh kaum anarkis sebagai inspirator pertama gerakan mereka di Indonesia. Sebab, teks-teks Multatuli memberikan pengaruh signifikan terhadap pekerja anarkis dan sindikalis di Belanda pada awal abad ke-20.

Hal itu terekam dalam buku karya M Welcker tahun 1992 berjudul ”Eduard Douwes Dekker, Biografisch Woordenboek van het Sosialisme en de Arbeiderbeweging di Nederland.” (hal 45-58). Penulis Belanda, K van Dijk, dalam buku terbit tahun 2007 berjudul The Nederlands Indies and the Great War 1914–1918, mengutip pernyataan anggota Indian Social Democratic Union yang menyebut Douwes Dekker sebagai ’Nasionalis  Anarkis’ (hal 47-50).

Edward Douwes Dekker alias Multatuli yang disebut oleh kaum anarkis sebagai inspirator pertama gerakan mereka di Indonesia

Sementara anarkisme sebagai praktik perjuangan, juga terekam ada  di Indonesia pada masa pergerakan pra-kemerdekaan. Misalnya, dalam surat kabar lokal Surabaya, Jawa Timur, yakni Soerabaijasch Nieuwsblad,menuliskan artikel tentang pemberotakan anggota Serikat Tentara dan Pelaut (Union of Soldiers and Sailors), November 1918.

Mereka melawan institusi angkatan laut kerajaan Belanda dan mendirikan dewan tentara dan pelaut. Terdapat pengaruh anarkis dalam gerakan tersebut terekam dalam barisan kalimat artikel Soerabaijasch Nieuwsblad yang menyebutkan: ”Ada pelaut yang sangat muda dengan ide anarkis yang jelas”.

Beberapa pemuda Indonesia ketika itu juga menunjukkan ketertarikan pada anarkisme. Diantaranya, perdana menteri pertama Republik Indonesia (1945-1948) Sutan Sjahrir. Namun, sejak 1929, Sjahrir lebih tertarik pada sosialisme dengan bentuk yang “lebih praktis” hingga ia pun menjadi pemimpin Partai Sosialis Indonesia. (Dikutp dalam K. Stutje. Indonesian Identities Abroad. International Engagement of Colonial Students in the Netherlands, 1908 – 1931 // BMGN – Low Countries Historical Review. 2013. Vol.128-1. Hlm 151–172).

Sedangkan kelompok anarkis pertama di Indonesia, berdasarkan buku sejarah, muncul antara tahun 1914-1916. Hal terebut terungkap dalam buku  Review of the Anarchist Movement in the South Seas. Pada buku itu, terdapat bukti publikasi anarkis China tahun 1927, bahwa ada kelompok mereka yang menyebar propaganda anarkisme di Hindia Belanda dengan mendirikan surat kabar Minsheng (Suara Rakyat) tahun 1927 di pelabuhan pulau-pulau Asia Tenggara.

Pada tahun 1919, di kepulauan-kepulauan Indonesia, kelompok kecil yang bernama Society for the Truth of the Southern Seas yang berbasis di Singapura dibentuk, mereka menyebarkan materi tentang anarkisme. Di tahun yang sama, pekerja Tionghoa menciptakan “Partai Buruh” berpaham anarkisme di Semarang.

Pada 1920-1921 terjadi bebbagai gerakan kelompok anarkisme. Di Sumatera, gelombang pemogokan meletus di jalur kereta api milik Perusahaan Kereta Api Deli. Pemogokan terbesar selanjutnya yang meletus pada awal bulan September 1920, lima ribu pekerja kuli kontrak dan 10.000 pekerja kereta api sipil menuntut kenaikan gaji. Pemogokan juga dilakukan oleh para pegawai pos dan telegraf. Selain itu, petani setempat bersimpati dengan para pemogok, memasok beras dan makanan lainnya. Pemerintah setempat kemduian menahan sepuluh aktivis pemogokan, menuduh mereka melanggar kontrak, dan ratusan pekerja dipenjara bersama dengan yang ditangkap (baca: http://anarkis.org/anarkisme-di-indonesia/).

Namun, pada era awal setelah Indonesia merdeka, kaum anarkis di Indonesia tak memunyai peran signifikan. Bahkan, Presiden Soekarno sempat mengkhawatirkan kecenderungan alias tendensi anarko-sindikalisme di Partai Buruh Indonesia, seperti terdapat dalam buku GA van Klinken tahun 2003, berjudul Minorities, Modernity and the Emerging Nation. Christians in Indonesia, a Biographical Approach(hal 193).

Gerakan anarkisme di Indonesia kembali mencuat sejak era 1990-an, melalui menjamurnya komunitas-komunitas musik punk dan hardcore. Sejak saat itu, wacana anarkis mulai berkembang di antara individu dan kolektif di komunitas punk/hardcore, kelompok aktivis, pelajar, serta para pekerja. Mereka melakukan diskusi tentang berbagai masalah gerakan sosial seperti soal feminisme, nilai anarkis, anti kapitalisme, perlawanan sosial, antiglobalisasi, ekologi, dan lain-lain.

Kekinian, banyak dari kelompok anarkis di Indonesia melakukan kerja-kerja pengorganisasian di tingkat akar rumput, terutama pada kaum petani dan buruh.

Pada tahun 2016, dengan dukungan Anarcho-Syndicalist Federation Australia (ASF Australia), bahak dibentuk Persaudaraan Pekerja Anarko-Sindikalis (PPAS). PPAS menggambarkan dirinya sebagai “gerakan buruh libertarian” yang didasarkan pada prinsip-prinsip anarko-sindikalisme, mengumumkan tujuannya “sebuah masyarakat yang didasarkan pada kebebasan, bantuan timbal balik (mutual aid), federalisme dan administrasi sendiri”, sekaligus bermaksud untuk memperjuangkan perbaikan hidup masyarakat pekerja (baca: http://ppas.online/en/home/). Anggota kelompok ini  mengambil bagian dalam demonstrasi May Day tahun 2016 dan 2017. 

Di tahun 2017, serikat driver uber (KUMAN) memasuki konflik tenaga kerja serius pertama dengan perusahaan Uber, berusaha meningkatkan gaji dan memperbaiki kondisi kerja; pemogokan dan demonstrasi pun diorganisir. Aksi tersebut didukung oleh anarko-sindikalis Internasional, International Workers Association (IWA). Anggota Sekretariat IWA yang mengunjungi Indonesia pada bulan September 2017 mengadakan serangkaian diskusi mengenai anarkisme dan anarko-sindikalisme yang berlangsung di kantor pusat PPAS Jakarta dan Yogyakarta (baca: http://www.iwa-ait.org/content/solidarity-uber-drivers).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here