Merasa Dipermainkan PAN, La Nyalla Kembalikan Mandat

0
225
La Nyalla Mattalitti berdoa bersama Pendiri PAN Amien Rais dalam sebuah kesempatan. Dalam pencalonannya di Pilgub Jatim 2018, La Nyalla gagal mendapatkan rekom dari PAN.

Nusantara.news, Surabaya – La Nyalla M Mattalitti gagal memenuhi tugas yang diberikan DPP Partai Gerindra untuk mencari dukungan partai lain, agar pencalonannya sebagai calon Gubernur Jawa Timur di Pilgub Jatim memenuhi syarat. Di hari terakhir deadline 20 Desember 2017, La Nyalla merasa dipingpong oleh PAN. Dia menemui jalan buntu.

Meski mengaku sudah bertemu dengan Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan, namun Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur ini merasa seperti dipermainkan. Adanya penolakan secara halus ini, membuat La Nyalla terpaksa mengembalikan mandat yang diberikan padanya kepada DPP Partai Gerindra.

“Saya kembalikan mandat penugasan tersebut kepada Bapak (Prabowo) selaku pemberi tugas,” terang La Nyalla dalam siaran persnya, Kamis (21/12/2017) dini hari.

Menurutnya, hingga batas waktu penugasan dari Partai Gerindra (20 Desember 2017), belum ada keputusan dan sikap politik dari Zulkifli Hasan terkait dirinya.

Surat yang ditujukan kepada Prabowo Subianto itu berbunyi seperti ini: Seiring dengan berakhirnya batas waktu surat penugasan kepada saya untuk melakukan upaya politik dengan mencari dukungan koalisi partai pengusung di Pilgub Jatim, maka perlu saya sampaikan beberapa hal di bawah ini: Saya telah berupaya menjalin komunikasi politik dengan Partai Amanat Nasional (PAN) guna memenuhi syarat pencalonan. Saya juga telah bertemu dan berkomunikasi langsung dengan Ketua Umum PAN, Saudara Zulkifli Hasan. Hingga batas waktu penugasan dari Partai Gerindra, belum ada keputusan dan sikap politik dari Ketua Umum PAN, Saudara Zulkifli Hasan terkait diri saya. Atas hal tersebut, saya kembalikan mandat penugasan tersebut kepada Bapak selaku pemberi tugas. Selanjutnya, sebagai kader, saya serahkan semua keputusan politik kepada Partai Gerindra. 

Partai Gerindra sebelumnya menugaskan La Nyalla Mattalitti untuk menggalang koalisi dalam Pilgub Jatim. Surat tugas dengan nomor 0036/B/DPP-Gerindra/2017 itu diteken Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pada 10 Desember 2017. Dalam surat itu tercantum persyaratan, apabila sampai tanggal 20 Desember La Nyalla tidak mampu memenuhi persyaratan, surat tugas tidak akan berlaku.

La Nyalla menceritakan sebelumnya sudah menjalin pertemuan dengan Zulkifli Hasan. Dia diantar oleh pendiri PAN, Amien Rais untuk bertemu Zulkifli Hasan di ruang kerja Ketua MPR.

“Siang (Rabu, 20 Desember 2017) saya sudah bertemu dan berbicara dengan Pak Zul (Ketum DPP PAN). Pak Amien mengatakan kepada Pak Zul, supaya maju dengan poros sendiri di Pilgub Jatim,” cerita La Nyalla.

Saat itu posisi Amien Rais hanya ‘membuka’ pertemuan antara La Nyalla dengan Zulkifli. Setelah itu Amien meninggalkan ruang dan menyerahkan kepada kedua orang tersebut untuk membahas Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 mendatang. “Saya ditinggal sama Pak Amien, dan disuruh ngobrol berdua (dengan Zulkifli Hasan),” ujarnya.

Hasil obrolan berdua, La Nyalla benar-benar merasa kecewa. Kasihan dia. Merasa dipingpong dan dipermainkan Ketum PAN. Katanya, Zulkifli saat itu mengatakan menyerahkan rekomendasi Pilgub Jatim ke Ketua DPW PAN Jatim Masfuk serta mantan Ketua DPW PAN Jatim yang sekarang Bupati Bojonegoro Suyoto.

“Intinya (rekomendasi Pilgub Jatim) dikembalikan ke bawah. Padahal di satu sisi, dia telepon ke Pak Yoto untuk mencalonkan gubernur. Di satu sisi dikembalikan ke DPW,” ujarnya.

Padahal sebelum bertemu Ketum PAN, La Nyalla sudah menjalin komunikasi dengan Masfuk. Masfuk sendiri mengatakan ke Nyalla bahwa Pilgub Jatim adalah kewenangan dari DPP PAN.

“Ini kan lucu. Sekarang sudah jelas, saya dipingpong. Kalau memang nggak mau sama saya, terus terang saja. Jangan seperti itu,” terang mantan Ketua Umum PSSI ini.

Mantan Ketum PSSI tersebut juga mempertanyakan pernyataan Ketum PAN yang katanya tidak ada figur lain yang berani nyagub dan melawan dua poros yang sudah ada, yakni Gus Ipul dan Khofifah.

“Saya di sini berani menyatakan maju. Tapi kok jawabannya seperti itu. Saya menduga, ada kesengajaan yang menghambat saya untuk menjadi calon Gubernur Jawa Timur. Ini ada apa. Kita bekerja untuk rakyat Jawa Timur, dan saya sudah mewakafkan diri saya untuk rakyat Jawa Timur. Loh kok ada yang ingin menghambat, ada orang ketakutan,” tandasnya.

Dari hasil pertemuan tersebut, La Nyalla sempat melaporkan ke Amien Rais. Dan uniknya, yang dilapori justru kaget. Menurut La Nyalla, Amien Rais selaku pendiri PAN juga ditanggapi oleh Zulkifli. “Ini lucu, dan ada yang ketakutan,” cetusnya.

All Jokowi Final

Tidak ada kesediaan PAN mengusung calon sendiri atau membentuk poros tengah, disampaikan Bendahara DPW PAN Jawa Timur Agus Maimun. Menurutnya, PAN saat ini tidak tertarik membentuk poros tengah bersama Gerindra di Pilkada Jatim 2018.

“PAN sudah mengambil sikap, dan ini tidak akan berubah. Tinggal diumumkan saja dalam waktu dekat,” ungkap Maimun saat menghadiri acara Hari Kesetiakawanan Sosial (HKSN) 2017 di Makodam V Brawijaya, Surabaya, Rabu (20/12/2017).

Pihaknya menyebut akan mendukung salah satu pasangan calon (paslon) Gubernur Jawa Timur yang sudah tersedia, yakni Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas atau Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak.

Menurut Maimun, keputusan PAN untuk menunda pengumuman sikap politik di Pilgub Jatim bukan tanpa alasan. Selain, menunggu dinamika politik yang berkembang, momen tersebut juga merupakan bagian dari strategi PAN.

“Masih ada waktu setengah bulan sebelum pendaftaran. Jadi masih cukup. Anda ingat saat pilgub Jatim periode lalu? PAN memutuskan sikap sehari sebelum pendaftaran Pilgub Jatim ditutup. Dan itu tidak menjadi masalah,” dalih pria yang juga anggota DPRD Jatim ini.

Terkait ajakan Partai Gerindra untuk mendukung La Nyalla Mattaliti, Agus menilai peluang La Nyalla bersaing dengan dua pasangan calon yang ada sangat berat. “Kami tetap menghormati Pak La Nyalla, beliau salah seorang tokoh yang konsisten,” ucap dia yang juga Ketua Karang Taruna Jatim ini.

Dalam Pilgub Jatim 2018, Maimun menegaskan bahwa PAN tidak akan abstain. Sebab hal itu justru akan merugikan partai, terlebih dalam menghadapi tahun politik di 2018 dan 2019. Pihaknya bahkan optimistis akan mendukung salah seorang pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. “Kalau abstain kami pastikan tidak, karena PAN komitmen di Pilgub Jatim,” ujarnya.

Karena itu, pada Pilgub Jatim yang akan digelar 27 Juni 2018 tersebut PAN akan mengambil sikap tegas dengan menentukan pilihannya. “Kami masih menunggu arahan DPP PAN untuk bersikap di Pilgub Jatim. Apakah mendukung dan mengusung Gus Ipul ataukah Khofifah,” tutup dia.

Namun demikian, pertarungan Pilgub Jatim ini dinilai banyak kalangan merupakan skenario All Jokowi Final atau pertarungan kandidat Jokowi versus kandidat Jokowi.

Ya, sejak kemenangan Anies-Sandi di DKI Jakarta, seperti ini Jokowi tidak ingin Jawa Timur yang menjadi lumbung suara, kalah oleh Partai Gerindra. Kehebatan Jokowi adalah, dia berhasil menggandeng semua partai, termasuk yang terakhir PAN. Dengan begitu pencalonan La Nyalla di Pilkada 2018 dapat terganjal. Sehingga melahirkan hanya dua kandidat saja.

Seperti yang disebut La Nyalla tadi, bahwa ‘ada yang ketakutan’ tentu ada benarnya. Sindiran tersebut ditujukan langsung pada Ketum PAN. Di sini posisi Zulkifli Hasan seperti tersandera. Dan persis sindiran La Nyalla, PAN akhirnya memilih mendukung kandidat yang sudah ada.

Padahal jika PAN dan Gerindra berkoalisi, kedua sudah cukup untuk mengusung calon sendiri. Gerindra memiliki 13 kursi, dan PAN dengan 7 kursi.

Namun dengan ‘mbalelonya’ PAN dari Gerindra, maka dari dua kandidat yang ada (Khofifah dan Gus Ipul), siapapun yang menang sama saja. Dan pemenang Pilgub Jatim dipastikan otomatis akan mendukung Jokowi sebagai calon Presiden pada Pilpres 2019. Sebagaimana diketahui, dalam Pilpres 2014 yang lalu, wilayah Jawa Timur menjadi medan perebutan suara yang sangat panas antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Karena itu Jokowi perlu memastikan kemenangannya di wilayah tersebut dengan menempatkan dua kandidat yang merupakan orangnya untuk berlaga dan menjadi Gubernur di wilayah tersebut.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here