Merebak di Bulan Puasa, Gepeng di Kota Malang Mulai Resahkan Warga

0
202
Gelandangan dan pengemis (gepeng) merupakan PR bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah yang hingga hari ini tidak pernah selesai. Lebih-lebih setiap tahun menjelang Bulan Ramadhan, gepeng datang bergelombang ke kota-kota besar memanfaatkan warga kota yang dianggapnya siap berbagi kebaikan demi meraih pahala di bulan suci Ramadhan.

Nusantara.news, Kota Malang – Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat dan berkah bagi umat muslim. Di dalam bulan inilah banyak umat muslim berlomba-lomba menebar kebaikan kepada sesama demi untuk meraih pahala berlipat ganda seperti yang dijanjikan dalam firman Allah Subhahana Wata’alla yang tertulis di dalam kitab suci Al-Quran.

Tetapi, bagi gelandangan dan pengemis serta anak jalanan, bulan Ramadhan merupakan  momentum yang tepat untuk menyerbu kota-kota besar. Mereka cukup memahami rupanya bahwa di bulan puasa banyak orang yang ingin berbuat kebaikan. Oleh karena itu, para gepeng ini menyebarkan diri di berbagai wilayah perkotaan.

Para gepeng yang juga disebut sebagai orang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), yang menyerbu kota-kota besar menjelang puasa memang sudah sangat meresahkan masyarakat. Apalagi, sebagian masyarakat semakin menyakini bahwa kedatangan para gepeng yang bergelombang ini ada koordinatornya.

Hal ini pula yang dialami Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, yang beberapa waktu lalu pernah mengaku gerah dengan  gelandangan dan pengemis (gepeng) yang banyak berkeliaran memenuhi ibukota menjelang Ramadhan. Rishmarini juga mengaku penasaran, siapa sebenarnya yang menggerakkan gepeng beroperasi di wilayahnya. menurutnya, Kedatangan mereka ke Surabaya jelas ada yang pihak yang menggerakkannya.

Seperti halnya di kota-kota lain, Kota Malang pun mengalami nasib yang sama. setiap bulan Ramadhan, gerombolan gelandangan dan pengemis (gepeng) juga anak-anak jalanan kian menjamur di trotoar-trotoar jalan dan lampur merah di Kota Malang. Bagi warga Malang, pemandangan seperti itu membuatnya tidak nyaman.

Lantas, bagaimana upaya-upaya yang dilakukan dinas sosial pemda setempat untuk mengatasi keberadaan gepeng yang meresahkan warga Malang itu?

Aktivis Kelompok Orang Peduli Sosial Malang, Deni Riyanto mengungkapkan, sudah ada suatu bentuk penyadaran dan stimulus bagi mereka para penyanda PMKS, “Memang pihak pemkot sudah melakukan pemantauan, razia, pengedukasian dan lainnya, itu sudah bagus,” ungkapnya kepada Nusantara.news

Namun, Deni menjelaskan,  alangkah lebih baiknya PMKS tersebut diberdayakan, diberikan ruang berkarya mengembangkan ekonomi, dan diberikan modal, entah itu modal ekonomi, sosial, softskill, atau material lainnya. Jadi tidak setelah di razia diberikan edukasi motivasi selesai,” tandas Deni.

Sudah seringkali Dinas Sosial (dinsos) Kota Malang melakukan razia gepeng, tetapi begitu tertangkap, para aparat ini selalu menemukan orang yang sama. Ya gepengnya yang itu-itu juga. Begitu pula pada anak-anak jalanan yang ditemui, yang itu-itu juga. Mereka tak pernah kapok dan memilih untuk kembali ke jalanan. Sangat disayangkan, padahal pembinaan terus diupayakan.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Malang, Heri Wiyono mengungkapkan, masalah ini sepertinya terkait mental mereka yang tidak bisa diubah secara instan.  Pihaknya sendiri seringkali menemukan sosok yang sama ketika razia. “Sering banget nemu orang yang sama ketika razia, masalahnya sepertinya memang terletak pada mental mereka,” kata kepada wartawan.

Menurutnya, sebelum melakukan razia, tim yang dibentuk terlebih dulu melakukan survei lokasi. Namun sebelum itu, terdapat satgas PMKS untuk menghalau atau memotivasi mereka yang membutuhkan pembinaan agar tidak turun ke jalan. Operasi penghalauan dengan cara mengedukasi tersebut dilakukan satu sampai tiga kali.

“Kalau masih bandel, maka akan kami razia untuk selanjutnya mendapat binaan di Sidoarjo atau di UPT yang kami miliki,” tambahnya.

Pihaknya menyebutkan, beberapa titik yang sering dilakukan razia adalah Gadang, Janti, Sawojajar, Dieng, dan Kasin. Setelah terjaring, para gepeng dan anak jalanan tersebut diidentifikasi. Untuk anak yang masih berusia sekolah, maka akan dikembalikan kepada orangtua agar anak tersebut mendapat perhatian khusus.

Untuk anak jalanan yang tidak lagi sekolah, lanjutnya, maka dikirim ke Liponsos Sidoarjo untuk mendapat binaan. Sedangkan gelandangan dan pengemis akan dibina di shelter Pandanwangi ataupun Sukun. Beberapa di antara mereka juga dikirim ke keluarganya.“Tapi ya itu, kadang mereka masih aja kita temui lagi pas ada razia baru,” jelas Heri.

Heri menjelaskan, sebagian besar mereka yang bergantung di jalanan itu menurutnya tidak berasal dari Kota Malang saja. Melainkan banyak dari luar kota. Setiap beberapa periode, mereka ternyata datang secara bergelombang.“Mendekati lebaran, biasanya jumlah mereka akan semakin bertambah, baik dari Kota Malang sendiri ataupun dari luar kota, untuk itu penertiban akan terus dilakukan,” tutupnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here