Mereguk Manisnya Suara Massa SHT dan SHW untuk Pilgub Jatim

0
847

Nusantara.news, Madiun – Saat Suran Agung, biasanya Kota Madiun dipenuhi ribuan pendekar dari berbagai daerah. Mereka tumplek blek di satu tempat. Adalah persaudaraan Setia Hati Terate (SHT) dan Setia Hati Winongo (SHW), dua organisasi seni bela diri pencak silat yang biasa meramaikan tradisi tahunan tersebut.

SHT dan SHW sejatinya adalah saudara satu tubuh, satu kekuatan, satu jiwa. Karena berasal dari satu guru. Organisasi ini sempat mendapat perhatian dari masyarakat luas karena sering bermusuhan dan terlibat konflik.

Pada hari kebesaran memperingati lahirnya SH Winongo pada tahun 1903 tanggal 10 Sura, kedua organisasi mendatangi makam pendiri SH Winongo, Ki Ngabehi Suro Diwiryo, di Padepokan SHW di Jalan Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

Bagi masyarakat Madiun, pertemuan ini kerap dianggap meresahkan sekaligus mencekam. Pasalnya dalam pertemuan itu, selalu terjadi tawuran massal. Ujung-ujungnya jatuh korban di kedua belah pihak.

Maklum, keduanya saat ini memiliki jumlah anggota hingga ribuan. SHW memiliki anggota mencapai 64 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai belahan dunia.

Sementara SHT terdapat sekitar 8 juta anggota yang juga tersebar di beberapa negara seperti Malaysia, Timor Leste, Hongkong, Korea, Jepang, Rusia, Belanda, Belgia, Perancis, dan tentu saja Indonesia.  Di Indonesia sendiri, SHT tersebar di lebih dari 200 kota/kabupaten.

Sehingga bila mereka bertemu, sangat mungkin terjadi gesekan. Keduanya merasa sama-sama memiliki hak untuk menggelar ritual dan selamat Ki Ngabehi Suro Diwiryo.

Polisi kerap dibuat kalang kabut dengan keberadaan SHT dan SHW. Maka, dibatasilah undangan dan pesertanya. Yang diutamakan hanya para tokoh dan sesepuh di wilayah masing-masing. Para anggota boleh datang saat acara Suran Agung, tapi tidak semua masuk ke areal makam. Apalagi setiap anggota dari masing-masing perguruan yang datang mencapai ribuan dan berasal dari seluruh wilayah nusantara, sehingga tidak memungkinkan untuk berada di satu tempat.

Kuda-kuda dalam pencak silat ( Foto: ilustrasi)

Kegiatan Suran Agung dibuat hanya dua jam. Di sini biasanya aparat pengamanan harus bekerja ekstra. Untuk memecah konsentrasi massa, polisi menerapkan empat zona dengan selisih waktu kedatangan masing-masing 30 menit.

Zona I merupakan rombongan dari Kota Madiun. Zona II berasal dari wilayah utara seperti Kabupaten Madiun, Nganjuk, Jombang, Kediri, Lamongan, Gresik, dan Sidoarjo. Zona III berasal dari barat seperti Magetan, Blora, Ngawi, dan Bojonegoro, sedangkan zona IV dari selatan seperti Ponorogo, Trenggalek, Wonogiri, Pacitan, dan Tulungagung.

Zona I dijadwalkan pukul 08.00 sudah berkumpul di Wisma Haji Kota Madiun. Lalu, 30 menit kemudian atau 08.30 zona II dan terus berlanjut hingga kedatangan zona IV. Jadi, setelah datang, mereka harus segera bergeser ke lokasi acara. Lokasi harus steril untuk kedatangan rombongan zona berikutnya.

Logo SH Terate dan SH Winongo.

Setiap rombongan didampingi masing-masing koordinator lapangan (korlap) menuju padepokan SHW. Setiap Korlap diminta untuk disiplin mendampingi dan mengatur rekan-rekannya. Dengan begitu, kegiatan Suran Agung berlangsung aman dan lancar.

Saking mencekamnya pertemuan dua perguruan tersebut, petugas yang diterjunkan mencapai 1.418 personel gabungan polisi, TNI, Detasemen C Pelopor Satbrimob Polda Jatim, Batalyon Infanteri Para Raider 501/Bajra Yudha, Batalyon Komando 463 Paskhas Trisula Lanud Iswahjudi, dishub kominfo, satpol PP, dinas kesehatan, Damkar BPBD Kota Madiun, dan Orari.

Sesuai data tahun 2016, jumlah peserta Suran Agung sebanyak 5.528 pesilat, terdiri dari Ponorogo sebanyak 553 pesilat, Ngawi 335 pesilat, Magetan 1.700 pesilat, Kota Madiun 1.500 pesilat, dan Kabupaten Madiun 1.440 pesilat.

Politik De Vide et Impera Belanda

Biasanya penyebab terjadinya konflik SHT dan SHW adalah alasan ideologis. Keduanya saling menghancurkan satu sama lain atau menggunakan kekerasan fisik dengan harapan menemukan saluran alternatif untuk mempolitisir situasi. Sehingga konflik yang tercipta pun berasal dari hal sepele, seperti kesalahpahaman antara anggota perguruan sehingga mengakibatkan konflik berkepanjangan secara regenerasi.

Penyelesaian konflik sebenarnya sudah dilakukan oleh pihak perguruan (ketua) dan juga oleh pihak pemerintah beserta kepolisian. Tapi masih banyak kejadian-kejadian yang luput dari pengawasan pemerintah dan kepolisian. Kasus perkelahian antar perguruan silat yang dimotori oleh SHT dan SHW di Madiun ini berpangkal dari perbedaan penafsiran dan klaim kebenaran tentang ideoligi ke-SH-an merambat hampir seluruh karesidenan Madiun.

Namun di awal tahun 2017, konflik antar kedua perguruan mulai reda. Polisi bersama pemerintah kota/kabupaten Madiun mulai bisa meredam situasi. Caranya dengan mengundang sesepuh SHT dan SHW untuk duduk bersama mencari solusi mengatasi konflik.

Menurut Farid, anggota SHW, dalam pertemuan itu disepakati setiap anggota SHT maupun SHW yang memicu perkelahian dengan cara memukul terlebih dahulu atau mengeroyok, maka setiap orang akan dikenakan denda ganti rugi sebesar satu juta rupiah.

“Rupanya cara ini manjur. Semua anggota bela diri pada akhirnya memilih untuk berdamai. Sebenarnya sebelum kesepakatan ini dibuat, banyak dari anggota kedua belah pihak yang pernah diamankan petugas. Mereka ditahan. Tapi rupanya hal itu tidak membuat kapok. Tapi setelah kesepakatan ganti rugi dibuat, tampaknya mereka enggan untuk kehilangan uang. Maka jalan damai dipilih,” tutur Farid.

Nah, jika Anda berkunjung ke kota maupun kabupaten Madiun, banyak sekali ditemukan grafiti dengan logo SHT maupun SHW di pintu masuk gapura atau di tiap-tiap gang kota/desa. Keberadaan lambang ini menunjukkan di tempat tersebut terdapat anggota SHT dan SHW. “Lambang SHT dan SHW yang bersebelahan, bukti bahwa mereka kini bisa akur,” terang Farid.

Pada dasarnya perguruan SHT dan SHW adalah satu guru. Awalnya didirikan oleh Ki Ngabehi Suro Diwiryo pada tahun 1903. Semula bernama Setia Hati (SH) dengan sebutan Silat Djoyo Gendhilo. Konon, sewaktu masih sangat muda Eyang Suro adalah salah satu prajurit tangguh yang dimiliki Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro kalah dari Belanda, Eyang Suro melarikan diri ke Madiun, dan mendirikan sebuah perguruan silat sendiri. Baca juga: Pengikut Diponegoro Berserakan di Matraman, Pohon Sawo Penandanya

Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo.

Organisasi ini didirikan bertujuan untuk mendidik rakyat yang pada saat itu belum banyak sekolah. Intinya adalah menyatukan rakyat untuk menentang penjajahan Belanda.

Persaudaraan antar sesama anggota SH disebut STK atau Sedoeloer Tunggal Ketjer. Jika diterjemahkan secara bebas adalah, Saudara yang Memiliki Satu Sumpah.

Usaha Eyang Suro ini bertujuan untuk menghimpun kekuatan dalam rangka mengusir penjajahan Belanda. Karena memang pencak silat saat itu digunakan untuk membela diri.

Pada tahun 1922, Ki Hadjar Harjo Utomo yang disebut-sebut sebagai murid terbaik dari Eyang Suro mendirikan Persaudaraan Sport Club. Inti dari Sport Club ini juga untuk menghimpun kekuatan rakyat Indonesia.

Kegiatan mulia ini tercium oleh Pemerintah Kolonialisme. Rupanya Belanda tidak ingin ada organisasi kemasyarakatan yang akan membuat kegiatan imperialismenya terganggu. Oleh karena itu Belanda menggunakan cara De Vide et Impera, politik adu domba.

Merasa diadu domba dengan teman-teman seperguruannya, Ki Hadjar Hardjo Utomo lantas meminta arahan dari gurunya untuk mengubah nama Persaudaraan Sport Club menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate. Tujuan Eyang Suro dan Ki Hadjar Hardjo Utomo saat itu hanyalah ingin menyatukan rakyat khususnya warga Madiun untuk menentang kolonialisme. Tapi sayang keduanya terhasut dan dampaknya mereka bermusuhan hingga saat ini.

Hingga akhirnya Belanda berhasil menangkap Ki Hadjar Hardjo Utomo, dan membuangnya di Digul. Meskipun dibuang ke Digul, perlawanan anak-anak Setia Hati terhadap Belanda tidak pernah padam. Mereka tetap memegang teguh prinsip kesetiaan yang diajarkan gurunya.

Pasca wafatnya Eyang Suro, kegiatan SH mengalami kemunduran. Hingga pada akhirnya Raden Djimat Suwarno berinisiatif menghidupkan kembali organisasi SH, supaya tidak lenyap di negeri sendiri. Beliau memberi tambahan kata Tunas Muda di depan kata SH yang bermakna “SH telah Bersinar Kembali”. Sedangkan tambahan Winongo adalah Nama Desa di Kota Madiun tempat berdirinya SH Winongo tersebut.

Menjadi Basis Massa Aktif untuk Pilgub Jatim

Seiring dengan munculnya PDI sebagai kekuatan politik yang cukup kuat pada era 1990-an, pamor SHW sedikit demi sedikit mulai naik kembali. Banyak pemuda dari kawasan perkotaan Madiun yang masuk menjadi anggota SHW. Madiun kota sendiri merupakan basis PDI yang cukup kuat. Sementara Madiun kabupaten merupakan basis NU dan Muhammadiyah. Banyak yang mengatakan bahwa situasi tersebut mirip dengan situasi di zaman 60-an, di mana PKI berkuasa di Madiun kota dan NU berkuasa di Madiun Kabupaten.

Pada kurun waktu 1990-2000, SHW mengalami perkembangan jumlah anggota yang sangat pesat, pun SHT. Hampir di seluruh pedesaan dan perkotaan, baik pemuda dan lelaki menjadi anggota militan untuk kedua perguruan.

Kedua perguruan kerap menggunakan taktik populis dalam merekrut anggotanya. Maklum, di Madiun menjadi pendekar adalah sebuah kehormatan yang diimpi-impikan para pemuda. Predikat pendekar menjadi sangat elit karena harus dicapai dengan susah payah. Seorang Pendekar dipastikan memiliki kemampuan silat dan fisik yang prima, serta pemahaman agama yang dalam.

Sehingga wajar jika kini kedua perguruan tersebut memiliki jumlah anggota yang tidak terbatas, mencapai ribuan bahkan jutaan. Dengan anggota SHT dan SHW yang besar inilah yang kemudian sering dimanfaatkan partai politik untuk menghimpun massa.

Bukan sesuatu yang aneh jika Parpol memanfaatkan basis massa dari perguruan pencak silat. Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki aliran pencak silat Pagar Nusa, kerap dimanfaatkan partai politik untuk menjaring perolehan suara.

Dalam Pilpres periode 2014-2019, para pendekar silat Pagar Nusa menyatakan dukungannya pada capres dan cawapres Prabowo-Hatta. Saat itu sebanyak 20 ribu anggota Pagar Nusa dari Jawa Barat siap terjun langsung mengawal kemenangan bagi Prabowo-Hatta.

Bahkan tidak hanya di wilayah Jawa Barat saja, dukungan juga diikuti seluruh anggota Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Nahdatul Ulama baik di tingkat pusat. Seperti diketahui saat itu Prabowo adalah Dewan Pembina IPSI.

Dan kini, salah satu bakal calon gubernur Jawa Timur, Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti, dalam salah satu roadshow-nya tampak mengandalkan dukungan dari dua perguruan SHT dan SHW.

Bakal calon gubernur Jawa Timur, La Nyalla Mattalitti, mencoba peruntungan menjaring suara massa dua perguruan SHT dan SHW di Madiun, Jawa Timur.

La Nyalla sangat paham benar kunjungan ke rumah para pendekar Madiun itu untuk menghimpun kekuatan. Perguruan-perguruan itu mempunyai ribuan hingga jutaan anggota yang tersebar di wilayah Jawa Timur, terutama Mataraman. Dalam kunjungan tersebut, La Nyalla berdialog akrab dengan para pendekar dan anggota perguruan.

Ketua Umum Kadin Jatim itu memang sangat mahir mengambil hati para pendekar dengan mengambil dalih kampanye berkaitan dengan narkoba. Katanya, dengan mengikuti pencak silat, generasi muda disibukkan dengan kegiatan positif, sehingga terhindar dari berbagai kegiatan negatif seperti pemakaian narkoba.

Menurutnya, olahraga pencak silat mempunyai peran penting bagi pembentukan karakter generasi muda. Selain menyehatkan, olahraga asli Indonesia ini juga berkontribusi menangkal berbagai pengaruh buruk bagi generasi muda seperti narkoba.

“Pencak silat telah terbukti menjadi olahraga yang dekat dengan rakyat. Ini bukan sekadar olahraga, tapi sudah menjadi bagian dari tradisi dan kearifan lokal rakyat. Lebih penting lagi, pencak silat mampu menangkal bahaya narkoba generasi muda,” ujar La Nyalla dalam rangkaian kunjungan di dua perguruan silat di Madiun, belum lama ini.

Di Indonesia, lanjut La Nyalla, generasi muda yang terpapar narkoba dan harus menjalani rehabilitasi mencapai angka 5,8 juta orang. Jadi olahraga itu penting, karena memberi kontribusi untuk menghindarkan orang atau generasi muda dari bahaya narkoba. Maka pemerintah harus hadir memberi perhatian maksimal ke pengembangan olahraga, termasuk pencak silat.

La Nyalla menambahkan, pemerintah juga berutang budi kepada para pendekar yang telah mendarma baktikan hidupnya mendidik anak-anak muda untuk berkegiatan positif melalui pencak silat.

“Bayangkan jika tidak ada kehadiran para pendekar, bangsa ini akan semakin kehilangan banyak generasi muda karena mereka bisa terjerumus ke narkoba. Kerugian negara juga makin besar karena narkoba, dalam setahun negara rugi Rp 63 triliun akibat narkoba. Jika para pendekar dan perguruan didukung pemerintah, tentu makin banyak anak muda yang terhindar dari berbagai kegiatan negatif,” dalih La Nyalla.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here