Musim Merger Bersemi Kembali (3)

Merger dan Akuisisi Cara Asing Kuasai Perbankan Nasional

0
230
Mitsubishi UFJ Financial Group Inc., bank terbesar di Jepang akan memperbesar porsi saham di PT Bank Danamon Indonesia Tbk dengan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk, untuk kemudian menggabungkan kedua bank, proses merger ini diperkirakan rampung pada April-Mei 2019.

Nusantara.news, Jakarta – Gencarnya investor asing mengakuisisi dan menggabungkan (merger) bank nasional hasil akuisisi menandai babak baru musim semi merger perbankan nasional. Namun kecenderungan merger adalah penguasaan asing atas saham mayoritas bank hasil merger.

Sepanjang 2019 ini diperkirakan ada sembilan bank yang akan mengimplementasikan rencana merger dan akuisisi. Sebagian besar penggerak merger dan akuisisi tersebut adalah investor asing, terutama dari Jepang. Jepang begitu agresif mengingat banyak investasi sektor riil yang relevan dengan pembiayaan bank, disamping pengembangan pasar mikro, kecil, menengah, konsumer dan korporat bakal bengkit di Indonesia pasca Pilpres 2019.

Setidaknya akan ada empat bank hasil merger di tahun 2019. Bank tersebut antara lain, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI), kemudian PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan Bank Tokyo Mitshubishi UFJ (MUFG) bersama dengan PT Bank Nusa Parahyangan (BBNP).

Disamping itu, rencana merger antara PT Bank Dinar Indonesia Tbk dan PT Bank Oke Indonesia juga dikabarkan bakal terealisasi pada tahun 2019 mendatang. Ada juga Bank Korea Selatan yaitu Kookmin Bank yang resmi menjadi 22% pemegang saham PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) melalui rights issue.

Khusus untuk BTPN dan SMBCI, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menjelaskan saat ini kedua belah pihak tengah menunggu persetujuan dari pemegang saham dan investor dari Jepang. Sementara rencana merger BDMN dan BBNP dan MUFG sudah mendapat persetujuan dari OJK

“BTPN dan SMBCI akan terjadi tahun ini (persetujuan) kalau tidak ya meleset di tahun depan. Mereka (BTPN dan SMBCI) masih menunggu persetujuan OJK-nya Jepang (Japan FSE). MUFG yang akan minta persetujuan dengan Jepang,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, dalam keterangan resminya BTPN membenarkan bahwa pihaknya sudah mendapatkan izin dari OJK untuk melaksanakan proses penggabungan usaha alias merger. Adapun, ringkasan rancangan penggabungan usaha kedua bank tersebut memang sebelumnya telah dipublikasikan pada 2 Agustus 2018, serta tambahan informasi pada 3 September 2018 dan 3 Oktober 2018.

Komposisi kepemilkan investor asing di perbankan nasional, komposisi asing masih akan terus diperbesar menjelang merger (Sumber: OJK)

Usai mengantongi persetujuan OJK, BTPN menegaskan masih ada beberapa tahapan proses administrasi yang harus dilalui pada otoritas-otoritas terkait. Setelah tahap ini terlewati, maka bank baru hasil merger BTPN dapat diperbolehkan beroperasi.

“Persetujuan ini merupakan salah satu tahapan penting dalam merampungkan proses penggabungan usaha BTPN dengan SMBCI. Kami berterima kasih atas dukungan OJK terhadap proses aksi korporasi ini,” jelas Direktur Utama BTPN Jerry Ng dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.

Jerry menambahkan, nantinya bank hasil penggabungan akan beroperasi dengan nama PT Bank BTPN Tbk dan akan melayani segmen pasar yang lebih luas mulai dari mass market hingga korporasi.

BTPN juga menegaskan bahwa selama proses penggabungan usaha ini, pelayanan serta proses operasional bank tidak terganggu. “Kami yakin bahwa proses penggabungan yang kami lakukan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan semakin meningkatkan kepercayaan nasabah di masa mendatang,” tuturnya.

Di lain pihak, President and CEO of SMBC Makoto Takashima mengatakan penggabungan usaha ini merupakan refleksi komitmen SMBC untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis nasabahnya di Indonesia. “Bank hasil penggabungan usaha dapat berkontribusi untuk menciptakan sektor keuangan yang kompetitif di Indonesia di tengah integrasi ekonomi di kawasan ASEAN,” katanya.

Direktur Utama SMBCI Kazuhisa Miyagawa mengatakan, dengan bisnis perbankan korporasi SMBCI yang menyediakan berbagai solusi kepada badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan multinasional, perusahaan swasta nasional terkemuka, dan perusahaan Jepang, bank hasil penggabungan dapat menjadi bank yang lebih universal dengan menyediakan produk dan layanan yang lebih luas bagi nasabah.

BTPN dan SMBC merupakan anak usaha dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). SMBC merupakan pemegang saham pengendali di BTPN dan SMBCI dengan porsi kepemilikan saat ini di masing-masing bank adalah sebesar 40% dan 98,48%.

Sementara itu, mengenai merger antara Danamon dan MUFG ditargetkan proses akuisisi akan selesai pada periode Maret-April 2019. “Setelah itu selesai, mereka targetkan merger dengan BNP,” tutur Heru.

Ketua Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan masuknya beberapa investor ini diharapkan bisa memberikan efek positif ke Indonesia. “Kan bagus untuk negara kita,” kata Wimboh.

Industri perbankan nasional membutuhkan penguatan permodalan untuk menghadapi era suku bunga tinggi dan keberlangsungan bisnis. Investasi asing diperlukan karena keterbatasan investor domestik. Menurut Deputi Pengawasan Perbankan III OJK Slamet Edy Poernomo, industri perbankan nasional terus bertumbuh dan berkembang sehingga membutuhkan penguatan permodalan agar semakin kompetitif.

“Maka itu, OJK mendukung dilakukannya konsolidasi perbankan dalam rangka penguatan permodalan tersebut,” ujar Slamet Edy Poernomo.

Setahun terakhir ini OJK melakukan assessment untuk menilai kondisi masing-masing bank. Dari hasil penikaian tersebut, diputuskan apakah perlu dimerger atau tidak. “Keputusan merger atau akusisi tetap kita serahkan kepada manajemen,” ujarnya.

Sementara itu menurut Senior Economist Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero, belajar dari krisis 1998 penguatan permodalan memang satu keniscayaan. Apakah bentuknya merger, akuisisi, atau menambah modal melalui pasar modal, itu pilihan.

“Saluran pasar modal saat ini mengalami tren pertumbuhan yang luar biasa. Saham-saham perbankan masuk dalam jajaran saham pilihan,” ujar Poltak. Demikian juga terkait sumber permodalan, apakah modal dalam negeri atau modal asing, tidak menjadi masalah. Mereka sangat diprrlukan. “Mau kucing hitam atau kucing putih, yang penting bisa menangkap tikus,” celetuk Poltak.

Sementara dalam perjalanan setahun 2018, para investor asing sendiri sempat datang dan pergi untuk kemudian masuk lagi di saham bank-bank yang diperdagangkan di BEI. Terutama pada saat terjadi pelemahan nilai tukar rupiah hingga level Rp15.260 per dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia hingga level US$80 per barel.

Investor asing di pasar modal sempat keluar dari Indonesia hingga Rp62 triliun, sementara sampai akhir 2018 yang masuk lagi ke pasar modal sebesar rp46 triliun. Diperkirakan pada 2019 gairah merger dan akuisisi menandai borong saham perbankan nasional oleh investor asing [bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here